Pagi ini aku berada di tepian pantai yang masih samar sinarnya, matahari bersembunyi di ujung lautan tak berbatas. Semburat jingga satu dua lurus seperti digaris dan diukur, memberikan pertunjukan warna indah di hadapan panca indra. Suara serangga berukuran terlalu kecil untuk dilihat seolah ingin mengungkap sesuatu pada dunia, mengadu pada Tuhan atas ulah makhluk tercerdas-Nya. Tanah pasir yang kuinjak begitu lembut,memendam kakiku hingga batas mata kaki. Aku diam,  masih berdiri agak jauh dari bibir pantai. Angin bertiup kearahku menyentuh ujung rok panjang abu-abu berenda, meskipun kencang rasanya tak dingin sama sekali. Ombak semakin mendekati,buihnya riuh membuat rupa. Hening, aku menutup mata, menarik nafas lebih panjang daripada biasanya. Dan semua berakhir, aku membuka mata, ini terlalu menyilaukan untuk sebuah dinding kosong.
Nganjuk, 11 Juli 2014

Advertisements