Rasanya dada sedikit menyempit malam ini, ada hal aneh yang kurasakan. Ingin menangis pun aku tak mampu, seolah kuat namun hati nyatanya tak sepakat. Ingatan itu kembali muncul, hari yang sama di jam yang sama setahun lalu, yang kulakukan hanyalah

berusaha melupakan mimpi dua hari sebelumnya, berusaha teguh bersembunyi dibalik pintu membaca Al-Quran dengan tangan yang bahkan tak berdaya untuk mengangkatnya lebih tinggi dari atas pangkuan. Surat Yasin malam itu terasa lebih susah dilantunkan, kertas dan hurufnya seolah berkurang kekontrasannya. Berkali-kali namaku dipanggil, tapi aku tak tau harus bagaimana, mencoba berani tapi memang tak mampu. Diam, berusaha lari dari kenyataan, mencoba membuang hal-hal buruk yang sepertinya sudah pasti akan terjadi. Mungkin sudah puluhan kali hembusan nafas panjang kudengar dari rongga hidung ku sendiri. Entah apa alasan sebenarnya aku tak berani memasuki kamar itu, hanya takut,takut rasa gelisah sejak dua hari lalu itu memang terjadi, takut bayangan bunga tidur itu semakin terasa nyata. Aku sudah berusaha melupakannya, lebih berfokus pada ujian perguruan tinggi, atau sekedar jalan bersama sahabatku, niat untuk menceritakan pada ia pun kuurungkan, membuatnya penasaran. Perjalanan pulang sore harinya pun biasa saja, aku menikmati kehijauan lahan padi yang usianya sekitar satu bulan tumbuh begitu subur, dengan beberapa mesin diesel disana sini yang mengairi, awan putih sore lebih luas dari biasanya diantara langit biru yang nampak selalu harmonis. Sepeda yang ku kayuh santai dengan jalanan beraspal mulus sekitar tiga kilometer sepertinya ingin dikayuh lebih cepat. Sekitar 10 menit aku sudah ada di pelataran rumah, memandang taman yang lebih rindang meski hujan sudah lama tak turun agaknya ibuku masih rajin menyianginya tiap sore.Suasana masuk rumah membuatku berubah ekspresi, perasaan nyaman tertinggal di batas teras halaman belakang, tak hanya ibuku yang di rumah. Ibuku bersikap biasa selayaknya ibu yang bahagia karena anaknya sudah pulang. Tapi wajah-wajah itu membuatku mampu membaca pikiran mereka, ada sesuatu yang terjadi, sore itu Allah kembali membolak balikkan hati hambanya.

Sesaat sebelum adzan isya aku memberanikan diri keluar dari pintu tempatku bersimpuh sepanjang sore ini. Menulis pesan ke sahabat yang kubuatnya penasaran kemarin, “Pe, aku takut mimpi itu benar akan terjadi”. “Kenapa kak? Cerita aja” jawabnya kian penasaran. “Aku minta tolong bacain Al-Fatihah aja ya tiga kali buat keluargaku. Makasih ya pe, kapan-kapan aja aku critain”. Tak lama setelahnya aku melewati pintu yang lain, ibuku menuntunku pelan, ia tahu benar perasaanku sedang tak baik walau ia tak tahu apa yang ada dipikiranku dua hari ini. Aku tak tahu harus mengarahkan mata ini kemana, aku hanya berusaha menguatkan diri agar tak ada yang lebih lemah dariku. Tak lama adzan isya berkumandang, beberapa menit kemudian para jamaah sudah meninggalkan masjid di depan rumahku. Mungkin ketika tetanggaku baru saja duduk di depan TV, pengeras masjid kembali dinyalakan. Aku menulis pesan pada lima sahabatku, meminta doa karena mimpi itu memang pertanda. Satu dari mereka segera menelepon, rasa penasarannya terjawab. Menanyakan apa memang benar, apa tak lagi ada yang membuatnya bertanya tanya tentang apa ceritaku, memintaku untuk tabah, mengucapkannya dengan suara bergetar, air mataku baru saja menetes, agaknya terlambat tapi ada tempatku bersandar mengungkap bahwa hatiku lemah. Hanya doa yang bisa mengalun lirih dari mulut ini. Sekarang semua tinggal kenangan, menjadi pelajaran hidup yang tak diajarkan di bangku sekolah, menjadikannya dorongan agar tak ada lagi penyesalan di kemudian hari, menjadi cermin syukur atas segala pemberiannya, menjadi lecutan untuk membuka mata lebih lebar, mendengar lebih tajam, berfikir lebih jauh, dan merasakannya dari segala sisi.

Nganjuk,7 Juni 2014

Advertisements