Semalam mereka makan bersamaku, berkumpul di depan satu meja kayu besar berbentuk bundar. Kami duduk santai bersandar di kursi kayu dengan alas bantal empuk berwarna  hijau pupus yang khas. Meja kami berada di urutan nomor dua dari jendela, tepat di tengah ruangan cafe itu. Rasanya aku

belum pernah mengunjungi cafe ini, arsitektur dan designnya klasik dengan material kayu yang mendominasi ruangan. Tepat disamping jendela itu ada tiga orang seumuran kami yang entah siapa tapi mereka terasa tak asing bagiku. Jendela di sebelah kanan mereka cukup besar ukurannya, kusen-kusen kayunya kuat menahan,membingkai kacanya. Jendela itu tertutup rapat, tidak ada tirai yang tergantung disana sehingga aku leluasa melihat keluar dengan jelas meski kacanya sedikit berembun. Samar-samar aku melihat wajah malam, hampir tidak ada bintang yang terlihat, hanya bulan sabit kecil yang mungkin besok adalah waktunya ia untuk menghilang. Aku duduk menghadap jendela, memandang kacanya yang agak buram,aku diam. Satu dari kami duduk agak turun sehingga kepalanya bisa menyentuh sandaran kursi. Awalnya hanya hening,tidak tahu apa yang kami bicarakan disana, sepertinya tak banyak kata keluar dari mulut kami tapi aku melihat garis-garis senyuman dari tiap wajah kami. Aku benar-benar merasakan kerinduan, hatiku seolah meleleh.

Kemarin malam aku memimpikan mereka, sahabat-sahabatku di masa abu-abu. Kemarin memanglah hari peringatan usiaku,bedanya kali ini aku tak mendapat jabat tangan dan ucapan sederhana dari ayahku yang dulu kuanggap biasa saja, juga kebersamaanku dengan sahabat yang mengistimewakan hari itu. Dan benar saja hari ini aku merindukan mereka, lima orang sahabat yang entah bagaimana sampai kami jadi segerombolan pelajar yang berjajar rapi di enam bangku yang berdekatan. Tawa, tangis, ketakutan, keraguan, keberanian, kemarahan, pertengkaran, kenakalan hingga keanehan kami masing-masing, bahasan dari mulai pelajaran, cita-cita, cinta, hingga masalah tak penting yang mungkin hanya kami yang mampu membahasnya. Suasana ramai dimana pun kami berada, mulai dipojokan kelas, di kantin, hingga saat pelajaran kami menciptakan keramaian kami sendiri. Hari ini begitu menyentuh hatiku, aku begitu merindukan kebersamaan dengan mereka, merindukan suara mereka. Aku sekarang duduk di Masjid Manarul Ilmi, masjid Institut dimana aku menjajaki kehidupan sekarang, masjid dengan ukuran mungkin lebih dari dua kali masjid Al-Anwar, masjid SMA ku, ditambah dengan selasarnya yang luas. Aku bergeming di lantai dua, dahiku menyentuh lantai marmer lebih lama dari biasanya, doaku hari ini kutambah untuk mereka. Air mataku mendesak keluar tapi pelupuk mataku jauh lebih kuat, tak ada air yang menetes, kini mulutku sedikit bergetar, aku menghembuskan nafas panjang melepas semua penat, hatiku terasa sesak, badanku seolah terasa begitu lelah. Aku ingin kembali menemukan mereka, enam orang yang saling memahami.

23 Februari 2014

Thanks to:

Allah, yang mempertemukan kami.

Ayah,yang ternyata kurindukan.

Mereka, serondeng,sahabat.

Advertisements