Mendung sedikit menutupi langit, tak ada semburat jingga dilangit sore ini. Gerimis mengiringi kami,pergi mencari lembaran sejarah *fotokopi buku sejarah sahabat kami*. Saat pepatah mengatakan sedia payung sebelum hujan, kalimat ini harus diganti karena

kita sekarang udah canggih,jadi kita pake jas hujan.
Hujan,pembawa rejeki, tapi ia mempermalukan kami sore ini. Saat kami memakai baju kedap air itu hujan tak turun lagi, gerimis hanya turun dalam sekedipan mata.

Kali ini jalan pun terlalu kering untuk kami nikmati. Jalan yang kami lewati masih sama tapi cahaya berbeda. Dulu saat sebagian orang mungkin sudah tidur kami masih menginjakan kaki disini bahkan ketika lewat tengah malam. Sungai pemisah wilayah Kota Kediri ini tampak lebih coklat,hujan mengubah pigmennya,lumpur mewarnainya.
Hingga perjalanan tinggal 200 meter lagi, namun lampu merah harus menghentikan kami. “Wah makan mie ayam enak nih!”,kata sahabatku sambil mendongakkan kepala ke arah kanan atas menuju papan tulisan warung mie ayam favorit di kota kami. Tapi ketika baru saja ia menyelesaikan kalimat itu lampu hijau memaksa untuk kembali memacu motor. Tak lama kami tiba di rumah sahabat kami yang lain, satu yang paling pintar dan rajin, sang juara ranking paralel. Agak lucu memang saat ternyata orang pintar berbaur dengan orang unik seperti aku dan sahabatku ini. Dia kakak pertama kami, yang tertua dalam silsilah keluarga ini. Ruang depan rumahnya kami penuhi dengan kekhawatiran,rencana hingga tawa. Hujan sedikitnya lebih deras dari sebelumnya,kerasnya tawa kami mengalahkan suara gemeletuk air yang jatuh. Saat mulai reda kami pergi untuk kembali, “Fotocopy bentar ya,ntar kita kembaliin”

Roda motor cepat menggilas jalan yang tak rata. Kami tiba di Zam-Zam *bukan di Arab*. Namanya sama, sepertinya Zam-Zam menjadi merek khas jasa fotocopy membuatnya menjadi Metonimia (majas merk). Kami berikan lembaran sejarah itu. Aku duduk diam,hingga sahabatku ini memecah kebisingan jalan “Makan mie yuk!”, ajaknya. “Beneran jadi? Ayo!” aku menantang. “Emang cukup uangnya? Kan kita bawanya pas banget buat fotocopy”, “Ah cukup”,sahutnya penuh percaya diri. “Ntar kalo gak cukup utang Dora”. Rencana itu pun berjalan, saat aku baru saja akan menginjak pedal boncengan motor “Kenapa aku gak nanya habis berapa aja ya?”tanyaku. “Nah, sana tanya!” perintahnya sambil mangggut-manggut mengiyakan.

Keramainan muncul di dalam ruang fotocopyan itu. Radio berganti lagu “Sekarang kita putar Asmara”penyiar radio dengan renyahnya bersuara. “Asmara mbak Sophi! Cie..”. Dua pegawai lain mengejek pegawai yang melayaniku, Sopi,Sofi, Sofhi,Sophi,atau Sophie *entahlah aku tak tau penulisan namanya*. Dan ia hanya tersenyum kecil malu dengan pipinya memerah sambil menghitung dengan kalkulator. “Satunya sekitar Rp 8.000,00 mbak.”,kata Sophi. “Oh ya,aku tinggal dulu ya mbak”,jawabku. Temanku memacu gasnya,kencang,dan berhenti, berpindah ke penjual mie yang berada tepat di sebelah fotocopyan. Makanan itu kami lahap terlalu cepat, bahkan orang dibelakang kami yang menerima pesanan lebih dulu kecepatannya bisa kami kalahkan. Sebelumnya kebingungan timbul diantara kami “Gimana pesen minum gak nih?”, tanyaku. “Ntar gak cukup,pas banget nih” “Aduh, gak seru makan gak pake minum!” tawarku merayu. Kami berdiskusi sebentar menghitung apakah uang Rp 32.000,00 cukup, lalu memutuskan, uang kami sangat pas untuk membayar semuanya. Mungkin malah terlalu pas,hingga tak ada kemungkinan uang ini akan menyisakan kembalian bahkan receh sekalipun.
Ah,kami memikirnya terlalu mudah, pasti cukup, kami optimis. Selesai makan mau apa lagi selain membayar, kami tak punya niatan jahat untuk lari dari kasir yang letaknya benar-benar gak strategis. “Rp16.000 mbak”Aku meluncurkan si hijau dari kantong. Lalu kami berpandangan,berpikir hal yang sama “Jeruk hangat Rp 3.000?”Ah, uang kami tak akan cukup untuk membayar fotocopy, sebenarnya hanya kurang seribu mungkin. Tapi daripada menanggung malu di fotocopyan lebih baik kami hanya malu untuk utang pada dora.. Ha ha ha

Sampai disana,kami tertawa dulu, tersenyum kucing. Saat temanku ini mengatakan maksud kembalinya kami, Gelak tawa kembali terukir memecah keheningan di teras perumahan. “Yah, jadi kalian kesini mau ngutang? Makanya gak ada lembarannya” Trus gimana, tadi ngomong apa sama mbak fotocopyan?” bertanya meminta penjelasan. Kami tak menceritakan, terlalu memalukan meski ia sahabat kami. Memenuhi udara petang,saat masjid berkumandang. kami pergi, dan Dora berkata dengan santainya “Woh ancen ngoh og cah loro iki!”(oh, emang bodoh dua orang ini!), kata Dora seiring kami yang ngacir dengan uang Rp10.000,00. *cengoh adalah istilah yang sudah popular di zaman anak muda saat ini,jika anda tidak tau,KBBI pun tak bisa menjawab*

Kami kembali ke Zam-Zam, bertanya”Berapa mbak?” mbak sophie menyerahkan nota. “Rp 15.000,00” aku menyerahkan uangnya. Kami berpandangan lagi,berfikir sama lagi “Gak guna kita tadi ngutang Dora” Tawa lepas menutup kresek fotocopyan. Sambil memasukkan back up lembaran sejarah ini ke dalam tas,sahabatku bertanya “Eh, uangnya dora dikembaliin gak?” “Balikin ja deh!” “Aduh, kalo dibalikin sekarang gak ada efeknya”, kata sahabatku menambah kebodohan kami. “Yah,seneng banget ngutang sih!”, jawabku sedikit cerdas “Malu kali kalo gak jadi ngutang, lagian ceritamu ntar  gak seru kalo kita gak jadi ngutang”,balasnya dengan alasan yang sungguh jitu “Oh,iya”, aku mengiyakan. Kecengohan kembali terulang.

Gerimis membahasi kaca helm kami, aku mengelapnya agar tak berembun dan menutupi pandanganku dari indahnya senja sore ini,suasananya mendinginkan. Kami mengembalikan lembaran sejarah milik Dora, kembali menyusuri gang kecil, mencari asal tempat adzan berkumandang. Kami menutup perjalan ini bersama gerimis,bersama do’a ditiap tetesannya.

Kediri,12 Desember 2012

Thanks to:

Si Cengoh,Deliana Prasetiyana Sari

Pembawa lembaran sejarah, Dora Dessandy Maryantika

Advertisements