Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

October 2014

Mulut Gua

Sebuah pintu berdiri didepanku menghadang untuk kulalui. Tapi ia hanya diam,sungguh tak berarti. Dan tentu saja aku menerobosnya dengan mudah,sekali jalan maka ia dengan hormat mempersilahkanku berjalan,meski derit suaranya sedikit mengganggu.
Menyusuri lorong ini selalu terasa membosankan. Lantainya terlihat agak kotor akibat bekas alas kaki basah yang bercampur sebutir tanah. Melewati beberapa pintu yang tertutup rapat dikanan kiriku, entah apakah penghuninya disana atau tidak. Toh aku tak mengenal mereka, kami hanya sebatas menyapa satu sama lain. Lorong sepanjang ini hanya diterangi tiga lampu berwarna kuning, cahayanya temaram di malam hari. Sekali belok kiri dan dua kali belok kanan,tak butuh waktu lama aku menemukan ujung gua ini. Dan sebuah cahaya menyilaukan terlihat jelas didepan mata, tinggal selangkah lagi maka aku akan berada dibawah cahaya itu. Seseorang telah menantiku disana.

Surabaya,29 Oktober 2014

Dengan Suara Baru

Hari ini aku berjalan sedikit tergesa, mempercepat langkah ke lapangan belakang. Aku terlambat satu jam tapi forum baru saja dimulai. Matahari begitu panas,aku basuh peluh di dahiku, rasa keringat membasahi kain biru ini sembari duduk di batas cahaya matahari yang terlindungi bayangan pohon. Satu daunnya jatuh tepat didepanku, tanah ini tak penah bersih. Diam sejenak, sudah lama aku tak melihat wajah-wajah ini secara bersamaan, meski tak semua ada disini tapi rasa rindu untuk sekedar duduk disini benar kuat adanya.
Pemimpin kami sedang berbicara,menyampaikan agenda hari ini dan meminta kami menceritakan tentang kepemimpinannya. Beberapa tangan melambung ke udara, suara mereka sungguh mudah dikenali tanpa perlu menunjukkan hidungnya. Aku tetap saja diam,selalu setuju dengan perkataan mereka. Singkat cerita agenda satu dua tiga selesai. Agenda terakhir adalah meletakkan pilihan kami, berdiri dalam jejeran manusia terbaik dalam kelompok ini,satu panjangnya manusia ini kian jauh. Satu nama disebut,kaki kaki ini berhamburan sembari bertepuk tangan. Dan akhirnya setelah sekian lama teriakan ini kembali menggelegar di bumi perjuangan, tangan tangan teracung keatas, dengan suara baru yang khas. Selesai sudah forum ini,menyisakan semangat dan serpihan pemuda yang bersatu saling menguatkan. Dengan suara baru ini aku menanti sebuah cerita baru, yang indah untuk diceritakan pada tahun-tahun mendatang.
Sebuah kisah yang menggetarkan layaknya ketika teriakan ini digaungkan. Sebuah kisah yang membawa kami pada arti keluarga,bukan hanya di ujung lidah tapi mengakar kuat di dalam dada.

Surabaya, 28 Oktober 2014
CE ITS 2013
Komunal pergantian komting.

Perasaan

Besar atau kecil? Tak ada satu nilai untuk membedakan keduanya, maka biar saja ukuran itu menjadi rahasia, layaknya perasaan di dalam hati. -27 Okt 2014-

Tahukah engkau rasa sakit? Ia terlalu banyak jenisnya, kau akan tahu saat merasakannya. -27 Okt 2014-

Satu-dua perasaan datang, bertukar dengan yang lain, terbolak balik, lalu pergi menghilang atau mengendap di dalam hati. –24 Okt 2014-

Waktu seringkali menjawab pertanyaan hati, tapi kita seharusnya menemukan rasanya waktu di sela-sela jari kaki. -13 Okt 2014-

Akan selalu berat untuk mengawali, dan setelah semuanya dijalani mungkin berhenti terasa sama sulitnya -1 Okt 2014-

Bukan Satu-Dua Tapi Tiga Puluh Satu

ia5

Inilah keluarga saya dulu dan akan terus begitu adanya. Suatu kelompok manusia yang berperan besar dalam hidup saya. Manusia-manusia yang terus tumbuh, meski tak lagi berada dalam ruang yang sama tapi kami masih menginjak bumi yang sama.

Mereka,tidak hanya satu dua tapi 31

Continue reading “Bukan Satu-Dua Tapi Tiga Puluh Satu”

Maafkan Ayah…

Maaf ayah, aku terlalu sibuk.
Maaf ayah, aku terlupa sejenak.
Maaf ayah, bahwa bahkan mimpi itu tak menghelakan aku dari ketidaksadaran.
Maaf ayah,bahkan setelah 3hari aku baru menyadari.
Maaf ayah karena mungkin engkau merindukan hadiah yg telah lama tak kulantunkan.
Maafkan aku ayah…

Ya Allah jadikan hamba anak yang sholehah.
Ya Allah jadikan hamba satu dari yang doanya diijabah.
Ya Allah jadikan malam-malam hamba terus teringat padanya dan pada-Mu.
Ya Allah teruslah mengindah setiap waktu di duniaku dan dunianya.
Ya Allah pertemukan kami dalam suatu waktu di indah surga-Mu.

Bisakah Kalian Diam?

image

Aku sudah lelah mendengar pertanyaan mereka, menjawabnya satu persatu. Mengulanginya hampir tiap kali datang ke dunia baru. Mungkin aku harus menulis buku biografi sekarang. Memaksa para penanya itu membeli bukuku, menambah pundi uangku sekaligus menyelesaikan masalah pertanyaan itu atau malah akan menambah deretan para dermawan yang ingin menanggung biayanya,bahkan bisa jadi menambah keraguan mereka akibat alasan penolakan penolakanku sebelumnya bisa puas kuungkapkan. Aku bukannya tidak mau, aku hanya lelah. Aku pun tak memahami kelelahan ini, sejauh ini aku tidak melakukan apapun, ibuku yang selalu mengurus semuanya, ibuku yg menyeleksi dan memilih satu satu dari puluhan cara yang ditawarkan sana sini. Sampai sebesar ini pun aku masih pasrah, meniru ayahku mungkin, bermalas-malasan untuk berangkat ke tempat satu ke tempat lain, belum lagi teganya aku marah dan merengek pada ibu. Merusak banyak rencananya, meski akhirnya aku kalah dan pasrah saja dengan pilihan yang sudah diputuskan akibat ketakutan saat ibuku mulai marah, mungkin juga aku masih memiliki batas ambang tega yang rendah, aku seringkali memilih menenangkan suasana sementara,dan mengulangi penolakan-penolakan sejenis atas usaha yang tak jauh berbeda dari sebelumnya hingga saat ini.Ya, aku masih terlalu egois,kekanak kanakan atau apalah kalian menyebutnya tapi aku tak bisakah kalian diam? Aku hanya ingin melupakan masalah itu, menjadikannya bukan masalah, menganggapnya tidak pernah terjadi, menjalani hari dengan normal,dengan biasa saja.
Mereka terlalu bising, dengungannya melengking di telingaku. Pandangan mata mereka pun menyilaukan nan tajam seperti elang mengancam mangsanya.

Mencari dan Kalah

Aku menjejakkan kaki di jalan setapak,menelusurinya sambil satu-dua kali menendang kerikil, menengok kanan kiri mencari keheningan. Biasanya setiap aku mencarinya ia sedang bersembunyi di belakang dinding atau diantara semak taman, mungkin ia kesal karena aku sedikit membencinya. Aku terus berjalan menuju suatu tempat dimana biasanya aku membunuh waktu. Aku tiba, sebuah bangku di depan taman kampus selalu mempersilahkanku memakai ruangnya. Aku kerap menunggu disini, dan seperti biasa aku bertemu mereka. Aku duduk menyandar menghadap ke timur. Matahari memandangku tajam, kontan saja aku mendongak menatapnya sebentar. Hanya dua detik aku menyerah, ia memang lebih hebat akhir-akhir ini.

Surabaya,15 September 2014

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.