Aku menjejakkan kaki di jalan setapak,menelusurinya sambil satu-dua kali menendang kerikil, menengok kanan kiri mencari keheningan. Biasanya setiap aku mencarinya ia sedang bersembunyi di belakang dinding atau diantara semak taman, mungkin ia kesal karena aku sedikit membencinya. Aku terus berjalan menuju suatu tempat dimana biasanya aku membunuh waktu. Aku tiba, sebuah bangku di depan taman kampus selalu mempersilahkanku memakai ruangnya. Aku kerap menunggu disini, dan seperti biasa aku bertemu mereka. Aku duduk menyandar menghadap ke timur. Matahari memandangku tajam, kontan saja aku mendongak menatapnya sebentar. Hanya dua detik aku menyerah, ia memang lebih hebat akhir-akhir ini.

Surabaya,15 September 2014

Advertisements