ia5

Inilah keluarga saya dulu dan akan terus begitu adanya. Suatu kelompok manusia yang berperan besar dalam hidup saya. Manusia-manusia yang terus tumbuh, meski tak lagi berada dalam ruang yang sama tapi kami masih menginjak bumi yang sama.

Mereka,tidak hanya satu dua tapi 31

anak yang membuat saya benar-benar mengakui bahwa masa SMA adalah masa terindah, masa paling tak bisa dilupakan. Terlalu banyak cerita di dalamnya dari tawa, amarah, hingga tangis semua tercampur menjadi adonan dengan kekhasannya sendiri.

Tak  hanya satu-dua tapi 31 anak, yang tak mengalami apa itu istilah pengaderan, yang mendikte untuk peka dan memiliki SOB(Sense of Belonging) satu sama lain atas dasar paksaan senior, kami mengenalnya sendiri, merasakannya sendiri, mengetahui benar apa arti saling memiliki meski saat itu mungkin kami pun tak mengerti. Meski terlihat seolah diantara kami adalah geng-geng tersendiri, memiliki satu-dua orang ternyaman kami masing-masing, tapi kami tak membenci yang lain, kami tetap saja melakukan banyak hal bersama,membuat banyak cerita.

Tak hanya satu-dua tapi 31 anak yang selama dua tahun melewati masa sekolah bersama, menerima berbagai ilmu yang tak seluruhnya kami ingat sampai sekarang. Menumpuk buku-buku kami di atas meja hijau, ruang berlantai hijau, dan segala atribut serba hijau. Membaca, menulis, mendengar hingga terburuknya mencontek adalah yang sehari-hari kami lakukan. Dua ruang yang berbeda tetap saja terasa sama,karena manusia-manusia ini membuatnya malah semakin nyaman. Dinding dan jendela adalah saksi keseharian kami, meski kami membuat tubuh mereka kotor dengan berbagai lambang harapan dan berbagai cita-cita yang segera jadi nyata.

Tak hanya satu-dua tapi 31 anak, yang masing-masing dari kami sekarang telah mengelana dalam hidup kami sendiri, mengejar apa itu yang disebut cita-cita, memilih satu dari berbagai ilmu yang dulu kami pelajari bersama. Melalui jalan hidup kami masing-masing yang kian terasa sulit, yang tawa di dalamnya tak sebanyak dulu lagi, yang kenangannya tak bisa diukir seindah ini, yang setiap harinya mungkin terasa kian melelahkan. Tapi biarlah, semua tak akan lama lagi, kami hampir sampai di tangga-tangga harapan kami, menuju apa yang dulu tertuliskan di kaca-kaca teratas ruangan itu. Mungkin kami tak akan sampai disana bersama tapi kami masih terus berjuang bersama, tak akan berhenti sampai jiwa-jiwa ini mati.

Tak hanya satu-dua tapi 31 anak yang sekarang telah menjadi pemuda harapan, manusia dewasa bakal calon pemimpin negeri. Layaknya para kakak se-almamater kami yang penuh tekad mengibarkan panji-panji citra ini, mengemban tanggung jawab atas negeri dengan penuh rendah hati, optimis dan terus berdoa kepada Allah agar Ia tetap mempersatukan kami, mempersatukan hati-hati yang tulus ini, tetap melindungi dan memberkahi setiap langkah kami. Wahai kawan-kawan seiman seperjuangan, karena aku selalu mengingat kalian maka maukah kalian terus mengingat 30 pemuda lain? Kawan, biarlah waktu yang menjawab, aku tunggu kalian dalam suatu masa yang kita sebut kesuksesan.

Surabaya,28 Oktober 2014

untuk 31 pemuda Indonesia,

Seiman Seperjuangan Ipa Lima, SMAN 2 Kediri ’13

Advertisements