Sebuah pintu berdiri didepanku menghadang untuk kulalui. Tapi ia hanya diam,sungguh tak berarti. Dan tentu saja aku menerobosnya dengan mudah,sekali jalan maka ia dengan hormat mempersilahkanku berjalan,meski derit suaranya sedikit mengganggu.
Menyusuri lorong ini selalu terasa membosankan. Lantainya terlihat agak kotor akibat bekas alas kaki basah yang bercampur sebutir tanah. Melewati beberapa pintu yang tertutup rapat dikanan kiriku, entah apakah penghuninya disana atau tidak. Toh aku tak mengenal mereka, kami hanya sebatas menyapa satu sama lain. Lorong sepanjang ini hanya diterangi tiga lampu berwarna kuning, cahayanya temaram di malam hari. Sekali belok kiri dan dua kali belok kanan,tak butuh waktu lama aku menemukan ujung gua ini. Dan sebuah cahaya menyilaukan terlihat jelas didepan mata, tinggal selangkah lagi maka aku akan berada dibawah cahaya itu. Seseorang telah menantiku disana.

Surabaya,29 Oktober 2014

Advertisements