Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

November 2014

Perjalanan Kebanggaan

Malam ini ternyata lebih malam dari yang kuduga, tapi terangnya tetap saja sama. Aku mendongak ke langit, tak ada bulan disana hanya awan tanpa bintang. Kami menggilas jalanan halus, hitamnya yang sempurna dihiasi garis garis putih yang sungguh kontras. Dari atas terlihat jajaran lampu lampu ditengah kegelapan. Udara dingin kian terasa,dan kehangatan keluarga ini tetap saja sama. Perjalanan yang panjang untuk suatu bukti akan kebanggaan, meski tak terbukti seluruhnya, tapi bangga itu ada, menempel di sudut ruang hati ratusan kepala yang tegap berdiri, berteriak dengan lantang. Jiwa jiwa ini selalu bangga,selalu mencintai miliknya,entah baik buruknya dunia mereka,karena jiwa jiwa ini masih kecil masih lemah masih terbata-bata dalam melangkah dan berbicara, dan suatu saat ketika jiwa ini telah dewasa maka mereka sendirilah yang akan membuat dunia mereka menjadi seperti apa yang mereka inginkan, menjadi seperti apa yang kita harapkan.

Selepas dari Malang,
Surabaya,23 November 2014

Serambi Senja

Adzan ashar sudah sekitar satu jam yang lalu terdengar, tentu saja matahari masih mengawasiku,meski hari ini pasukan awan dengan seragam barunya-kelabu, berhasil menghalangi pandangan matahari. Hanya diam,aku disini dengan mata melirik keatas, nampak seperti orang dungu memang.Satu-dua orang yang kukenal sudah disini,saling berbagi apa yang tersimpan dalam laci-laci kecil otak yang jarang dibuka. Menemukan coretan kecil atau suara lirih yg pernah didengar sebelumnya.
Matahari meninggalkan jejaknya, tipis dan semakin jelas seiring waktu,menciptakan semburat jingga di garis-garis awan yang pasukannya kini berseragam putih. Satu dua awan bergulung-gulung,ujungnya membulat dan jelas layaknya yang dulu kugambar saat sekolah dasar. Pohon yang berdaun lebat warna hijaunya makin menggelap, hingga hampir menghitam dipoles oleh seniman ternama bernama cahaya. Adzan kembali terdengar, tempat ini selalu menyenangkan untuk disinggahi terutama ketika adzan berkumandang, membuat hati terasa entah kenapa jadi tenang. Seketika suasana menjadi ramai, wajah-wajah yang tak ku kenal seakan datang menyerbuku. Dan orang-orang yang kukenal ini satu persatu mengambil langkah,pergi meninggalkanku.

Serambi selatan Masjid Manarul Ilmi, 13 November 2014.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.