Adzan ashar sudah sekitar satu jam yang lalu terdengar, tentu saja matahari masih mengawasiku,meski hari ini pasukan awan dengan seragam barunya-kelabu, berhasil menghalangi pandangan matahari. Hanya diam,aku disini dengan mata melirik keatas, nampak seperti orang dungu memang.Satu-dua orang yang kukenal sudah disini,saling berbagi apa yang tersimpan dalam laci-laci kecil otak yang jarang dibuka. Menemukan coretan kecil atau suara lirih yg pernah didengar sebelumnya.
Matahari meninggalkan jejaknya, tipis dan semakin jelas seiring waktu,menciptakan semburat jingga di garis-garis awan yang pasukannya kini berseragam putih. Satu dua awan bergulung-gulung,ujungnya membulat dan jelas layaknya yang dulu kugambar saat sekolah dasar. Pohon yang berdaun lebat warna hijaunya makin menggelap, hingga hampir menghitam dipoles oleh seniman ternama bernama cahaya. Adzan kembali terdengar, tempat ini selalu menyenangkan untuk disinggahi terutama ketika adzan berkumandang, membuat hati terasa entah kenapa jadi tenang. Seketika suasana menjadi ramai, wajah-wajah yang tak ku kenal seakan datang menyerbuku. Dan orang-orang yang kukenal ini satu persatu mengambil langkah,pergi meninggalkanku.

Serambi selatan Masjid Manarul Ilmi, 13 November 2014.

Advertisements