Selasa legi, 21 Februari 1995, 21 Ramadhan… jam 10 pagi. Kakakku merengek meminta agar bude segera membawanya ke rumah sakit. Budhe bersikeras menolak,meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. Kakak sepupuku masih disekolah,mungkin karena itu ia kesepian tak ada teman bermain. beruntung tetanggaku adalah teman seumurannya, Bagus. pakdhe dan budhe masih saja membujuk kakakku yg msh berumur 4,5 th itu,nenekku membantu namun tetap saja selalu sabar.  Ia terus saja merengek, merepotkan. “adekku lahir, ak mau liat adek lahir”.

– RS Bhayangkara, Kediri.
mamaku merasa kesakitan kali ini, ia masih kaget karena dulu kakakku tak seberapa besar dan mudah saja keluar dari rahimnya. mamaku mengatur nafasnya, ia sudah pernah mengalami persalinan sebelumnya, setidaknya kali ini ia lbh bisa mengira sejauh mana bayinya akan lahir. Papaku setia menunggu, menguatkan istrinya yg kesakitan,kelelahan. mamaku meronta, kali ini benar-benar sakit, ia merasakan benar arti seorang ibu hingga seorang bayi akhirnya lahir. Tangisan menyeruak dalam ruangan. Seorang gadis menangis kencang, papaku mengadzani lirih di telinga kanannya. Dokter spesialis kandungan dan beberapa perawat merapihkan tali pusar dan darah yang membalut tubuh mungil bayi itu. Mamaku msh terengah engah memburu nafasnya. Benar saja apa yang disampaikan dokter sewaktu msh hamil dulu. Bayi mamaku tak sempurna, bibirnya berbeda. Entah senyum atau tangis yang harus mama dan papaku ekspresikan siang itu, tapi ak bahagia, aku baru saja melihat dunia.

Advertisements