image

Malam ini saya kembali belajar dari sebuah penolakan, mungkin yang disebut seorang Raditya Dika sebagai patah hati.
Agaknya saya membaca buku Bang Radith di waktu yang tepat, menyelesaikan buku Koala Kumal ketika keesokan harinya saya kembali mengalami patah hati. Ya, mungkin ini sebuah patah hati.
Ketika kita berharap akan sesuatu dan begitu yakin akan mendapatkannya tapi harapan itu tak memilih kita. Kecewa, ya itu saja yang kita rasakan. Entah kecewa pada siapa, malah mungkin kepada diri sendiri. Penyesalan memang selalu datang di akhir seperti ini. Kadang pun tak mengerti mengapa kita menyesal, selalu terbayang dan ingin mengulang lalu memperbaiki segalanya.
Tak ada manusia yang tak patah hati, karena manusia itu tumbuh. mungkin karena patah hati kita jadi memiliki luka yang membekas, meninggalkan pemandangan yang tak indah lagi tapi alangkah baiknya kita segera mengobatinya, lalu lebih berhati hati agar tak kembali terluka sembari menunjukkan diri bahwa kita tak pantas terluka. Mungkin tanpa patah hati kita tak bisa belajar, karena manusia yang belajar dari sebuah patah hati adalah dewasa.

Surabaya,6 Maret 2015

Advertisements