image
Marmut Merah Jambu, Raditya Dika

Lagi-lagi aku jatuh, jatuh untuk kesekian kalinya. Jatuh ke tempat yang tak jelas wujudnya. Memang ini bukan yang pertama, tapi rasanya jatuhku kali ini sungguh dalam. Aku jatuh begitu dalam pada sebuah senyum yang selalu dikembangkannya, pada

suara lembutnya yang selalu memulai pembicaraan dengan memanggil namaku singkat, pada caranya yang tenang mendengarkan celotehanku yang entah mengapa bisa keluar dengan nyamannya, pada caranya tertawa di tiap sela percakapan kami, pada sikapnya yang sungguh bijak menyikapi suatu hal dan pada perhatiannya yang mungkin ia beri sama ke setiap orang. Ya, aku jatuh hati padanya yang mungkin tak seindah tempat-tempat sebelumnya, tapi tempat ini entah begitu nyaman oleh segala kesederhanaan dan ketulusannya.
Ah,wanita selalu saja berlebihan, menerka-nerka pada isi hati yang kasat mata, berharap cemas penuh resah, berdebar akan suatu yang tak pasti benar. Ah, wanita kala jatuh cinta oleh hal-hal sepele yang begitu umum, merasa bagai diterbangkan ke langit tertinggi dan berlari meloncat di antara awan. Ah, wanita yang harus terus menjaga hati, mengagumi dalam diam, memuji tanpa suara, dan memandang dengan mata berlarian.
Ah, biarkan saja rasa ini, mungkin aku bisa menemukan banyak keajaiban dicelah-celah lubang ini. Biarkan saja rasa ini, mungkin ia tak akan lama mengendap dalam hati lalu kembali tergerus arus deras, hanyut hilang ke hilir yang jauh ke lautan. Biarkan saja rasa ini, sampai ia terganti oleh belulang baru yang tumbuh kuat, yang tak mudah bengkok oleh sentuhan angin. Biarkan saja rasa ini, mungkin Tuhan tengah menguji lagi, memberi warna pada sebuah buku cerita yang masih kosong, menorehkan sebuah pesan bahwa hidup adalah sebuah cinta dari Tuhan, bahwa hidup tak sekedar bernafas, bahwa hidup penuh cinta dan luka, bahwa hidup memiliki berjuta makna.

Surabaya, 12 mei 2015

Advertisements