Baru saja aku bangun dari tidurku, baru saja aku menunaikan salah satu kewajibanku.
Pagi ini terasa dingin akibat hujan semalaman setelah terik matahari begitu gila dua hari terakhir ini. Udara dingin berhembus dari sela-sela jendela kamar menyapa dengan berbisik pelan lalu pergi ke jendela kamar lain hendak membangunkan orang-orang yang masih terlelap.
Teringat aku pada malam kemarin, tepat tengah malam ketika tiba-tiba turun hujan lebat, gemercik airnya memburu menyeru dari atap kamarku. Satu dua tetes terlihat dari jendela. Tiba-tiba saja pantulan bayanganku di jendela yg basah menghanyutkan lamunan, aku masih saja mengingatnya, mengingat tatapan dan senyumannya, ingin aku menghilangkan bayang itu tapi nyatanya sungguh sulit, sampai larut dan malah hilang rasa kantuk yang sebelumnya telah datang. Aku berusaha memejamkan mata, berkata pada bayangannya untuk pergi dan tak menggangguku, tapi bayang itu kekeh ingin tetap menemani hingga akhirnya aku terlelap dalam mimpi.
Rasa ini memang selalu janggal, tak penting dan tak seharusnya membekas seperti ini. Seperti kemarin saat aku telah menyelesaikan kertasku aku iseng mencarinya, mungkin dari pojok kelas seperti ini aku bisa menjangkau seluruh isi kelas, tapi aku tak melihatnya, bahkan hingga semua temanku sudah berhamburan keluar, masih juga aku tak melihatnya. Hingga saat sore ketika aku melihat ia di kelas, saat aku tak berharap bertemu dengannya ia malah muncul,tapi kali ini ia tak menyapaku, sudah sibuk akan urusan kami sendiri, kulihat ia melangkah ke depan menampakkan diri di depanku, mengalihkan sebagian fokus namun kupaksa untuk kembali ke jajaran angka itu. Aah, entahlah kenapa hati ini terasa berbeda, kenapa hati memerintahku untuk membuat ruang pikiran untuknya. Aah, mungkin memang perjalanan terjauh adalah dari hati ke pikiran, begitu jauh, begitu melelahkan. Maka kubiarkan saja hati ini tak karuan, mungkin sebentar lagi rasa ini akan hilang, sirna layaknya udara dingin pagi ini. Namun terima kasih karena engkau telah mendatangiku dengan kebaikan, mengajariku bahwa segala rasa bermula dari sana.
Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati hamba pada pembawa kebaikan, mantapkanlah hati hamba untuk menjadikan Engkau yang paling dicintai, dan pertemukan hati hamba pada pemilik hati yang sungguh menjadikanMu Dzat yang paling dicintainya. Semoga tulang yang bengkok ini tak semakin rapuh, tapi menemukan rangka yang kuat, yang mampu menutupi kelemahannya.

Surabaya, 27 Mei 2015

Advertisements