Hai Ramadhan! Apa kabar? Aku tahu kau begitu indah, karena itu semua orang menyukaimu. Tapi Ramadhan, aku ingin mengungkapkan isi hatiku tentangmu, semoga kau tak membenciku.
Ramadhan, sebenarnya aku benci ketika engkau datang karena ketika kau baru saja akan menyapa aku teringat akan dosa-dosa yang telah kulakukan, akan aib-aib yang dengan Kuasa-Nya masih rapi tertutupi.
Ramadhan, aku benci ketika engkau datang karena hanya saat kau menemaniku semangat beribadah begitu menggebu, tak seperti bulan-bulan lalu yang naik turun dan terbolak-balik.
Ramadhan, aku benci ketika engkau datang karena aku tak mampu melayanimu dengan baik, dan tak membaik di tahun ini.
Ramadhan, aku benci ketika engkau datang karena kau selalu saja begitu cepat pergi lagi, lebih cepat dari bulan-bulan lain meski jumlah harimu sebenarnya sama saja.
Tapi Ramadhan, sesungguhnya aku tak benar-benar membencimu, aku lebih membenci sifat burukku sendiri. Aku yang kadang kala malas untuk membaca Al-Qur’an lebih banyak, malas untuk ke Masjid yang nyatanya begitu dekat, dan malas untuk sekedar menyentuh air wudhu sebelum sahur.
Ramadhan, kau selalu saja memberiku ketakutan, bagaimana jika aku tak melayanimu dengan baik maka aku tak mampu menyambutmu tahun depan?
Ramadhan terima kasih karena tahun ini engkau masih mau mampir ke hidupku, terima kasih karena telah mengajariku banyak hal, terima kasih karena kembali membuatku lebih baik.
Ya Allah, terima kasih karena Engkau memberikan Ramadhan bagi kami, hamba-hambaMu yang berlomba-lomba dalam kebaikan.

Nganjuk, 29 Juni 2015
dibuat untuk Ramadhan Project

Advertisements