Sudah pukul 17.30, masjid di depan rumah baru saja menggemakan adzan magrib, tanda waktunya berbuka puasa. Aku dan ibu bergegas ke meja makan. Aku meneguk beberapa kali es markisa buatanku yang buahnya kupetik kemarin, lalu kulahap satu pisang goreng yang masih hangat pun buatanku sendiri. Hari ini memang semua yang ada di meja adalah masakanku karena ibuku yang seharian sibuk mencari tambahan rejeki. Ah, rasanya begitu kenyang hanya dengan makanan kecil ini, sungguh nikmat puasa. Seperti biasa aku tak langsung makan berat, tapi sholat magrib lebih dulu ditambah surat Al-Qamar untuk menenangkan hati. Aku kembali ke meja makan dan mendapati piring ibuku telah bersih. Menu kami hari ini sup, tahu goreng, dan istimewanya ada krupuk puli hari ini. Baru dua suapan nasi yang kumakan, tiba-tiba saja aku teringat pada beberapa tahun lalu.

Makanan hari ini yang mengingatkanku, sup, dan tahu goreng terutama krupuk puli ini. Menu favorit ayahku. Juga kebiasaan sholat lebih dulu sebelum makan adalah kebiasaan sedari SD yang ayahku contohkan, walaupun memang hanya aku yang melakukannya sampai sekarang.
Dulu aku tak menyadarinya, bahwa sesungguhnya ayahku membangunku dari hati, dari hal kecil yang tak diutarakan. Dari dongeng yang dibacakannya sebelum tidur, dari majalah anak atau buku kecil yang dibelikannya hampir setiap minggu,  dari caranya mengajarkanku doa iftitah di suatu malam, dan gendongannya keliling rumah saat aku tak bisa tidur. Andai ia bisa merasakan menu berbuka buatanku hari ini, meski kemungkinan besar ia tak akan memuji tapi bukankah itu membanggakan. Memang banyak hal kecil yang sering kita abaikan padahal begitu besar efeknya dan baru kita sadari ketika semuanya telah hilang, seperti menu berbuka hari ini.

Rumah, 5 Juli 2015

Advertisements