Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

August 2015

dari Basa Jawa ke English

Ide penulisan semua kata ini berasal dari ketidakpahaman teman-teman saya terhadap kata Bahasa Jawa yang saya gunakan walaupun mereka pun sesama Orang Jawa. Hal ini bisa karena logat setempat, atau percampuran unsur kata bahasa lain. Namun yang saya tulis disini tak seluruhnya kata dalam Bahasa Jawa.

glubak-glubuk is a condition when you have so manu things to do but you are too tired jist by seeing it, so you decided to lying on bed and do nothing or rolling over your body.

begeuh is a condition when you eat to much so your stomach feel so full, so automatically you put your hand on your belly or on your back just like a pregnant woman.

maci is an activity that people know as lunch, but if youre have a little sense of alay or cuteness you prefer to use maci to mention your lunch.

malang kadak is a position of a thing that cross other things or placed untidily so your mom maybe wont like it and ask you to move that things.it gonna be worse if that thing is you.

bengkeng is a condition when your ‘bangkekan’ got stiff it usually because of bad position when sit for a long time and if you rarely do sport it gonna be worse.

Tak Kokoh

image

“Seharusnya kau bisa berdiri lebih kokoh nak” kata seorang sahabatku diujung lain pulau ini. Mungkin baginya ketika menulis itu hanyalah sekedar quote sederhana yang seringkali kita ucapkan satu sama lain. Dan sore ini quote yang ia tuliskan meski sederhana namun begitu tajam. Ah iya, mestinya aku jauh lebih kokoh, lebih kuat dari ini. Bagaimana bisa aku seperti ini, selama ini sok alim dan sok dewasa ketika sahabat berkisah tentangnya. Memberi nasihat dan berkisah indah, bahkan pernah menertawakan patah hatinya sahabat. Tapi aku sendiri nyatanya apa? Aku tak sekokoh itu. Aku tak sebaik itu. Hatiku tak lebih baik dari mereka. Layaknya omong kosong para pembual yang parau dan menyayat.
Surabaya, 26 Agustus 2015.

Mimpi Buruk

Aku ingin bercerita tentang mimpiku, mimpi yang disebut sebagai bunga tidur. Setiap manusia pasti pernah bermimpi, malah banyak yg mencari arti dari mimpi. Memang mimpi selalu berarti? Tak selalu bukan? Pernahkah anda mimpi dikejar setan? Saya pernah,dan rasanya banyak orang mengalaminya. Dalam mimpi itu aku berada di sebuah rumah tua bergaya joglo, aku berdiri tepat di tengah rumah, diantara tiang-tiang kayu jati yang menjulang tinggi. Tiba-tiba dibalik sekat ruang dalam rumah ada yg mengejarku, aku lari. Sekilas kutengok wajahnya merah menyeramkan. Badannya hitam dan besar. Anehnya aku baru saja berlari tapi sudah berpindah ke hutan yang berdekatan dengan area persawahan. Aku hanya berlari lalu tiba-tiba aku muncul lagi dirumah lalu kembali ke hutan lalu ke rumah lalu ke sawah lalu hutan lalu rumah, berputar tak jelas. Sampai yang mengejarku bertambah jumlah dan tampangnya. Hingga aku sadar aku tengah mimpi buruk, aku mencoba bangun. Tapi tak bisa mencoba membuka mata terasa berat. Bahkan sekedar menggerakkan jari sungguh kaku. Lalu aku berdoa dalam hati, hanya Syahadat, Al-Fatihah dan Istigfar yang kuulang. Lalu kupaksa membuka mata, aku terbangun. Kurasakan kaki dan tanganku. Allah menolongku, anak kecil yang kala itu berumur 6 tahun. Mimpi buruk anak kecil yang membuatnya bersemangat menghafal doa sebelum tidur.
Ketika sudah besar pun aku pernah mimpi buruk, tak separah itu memang tapi lagi-lagi mengingatkanku untuk mempersiapkan diri bahwa nyawaku tengah digenggam Tuhan.

Nganjuk,14 Agustus 2015

Nasihat Seorang Kakek

“Sampean wis nduwe pacar durung?”
“Dereng mbah, sekolah rumiyen, hehe” jawabku sambil cengengesan.
“Lhah tenane? Aku yo tau enom”, godanya.
“Inggih saestu”, aku meyakinkan.
“Oh yowes, sekolah sing bener, ben dadi wong.”
“Inggih mbah”
“Sekolah saiki iku penak, jaman mbiyen peh sara”,lanjutnya.
“Jaman mbiyen, nduwe klambi mung siji, digae sekolah yo kui tok. Rupane kaet putih sampe ra rupa, gulonne sampe ngetal coklat ngono kae. Lak ngumbah ora nggawe sabun lha wong durung enek sabun, dadi yo dibanting-banting ning watu kali. Dadi ora enek seragam, pokok klambi siji, kolor ireng siji wis bar. Sepatu yo ora enek, dadi yo nyeker”
Kontan saja aku membayangkan apa yang diceritakan beliau, teringat pada film-film yang mengambil latar lawas jaman penjajahan.
“Nulis yo ora nggae buku” tambahnya. “Dadi lak nulis ning mester, sampe ireng ra iso diwaca. Utawa ning gotri, kayak godhong ngunu wi”
“Lha napa dereng wonten buku to mbah?” tanyaku makin penasaran.
“Yo enek, tapi angel. Enek yo tipis kertase. Lak cah goblok petlote landep lagek nulis wis jebol.” tuturnya sembari tertawa ringan, aku pun ikut tertawa.
“Tapi mbiyen yo durung enek listrik loh, dadi nggawe lampu ublik, sing nggae lenga gas”
“Oh, inggih semerep kula menawi ublik. Lha listrik menika masuk desa tahun pinten mbah?”
“Yo sekitar tahun 1986. Makane cah sekolah saiki penak, opo-opo enek. Dadi ra usah pacaran sek, urip kari sekolah tok ae, sing pinter ben nyenengne wong tuwa”
Aku tertegun sejenak. Terpukau akan kisah beliau, akan pesan yang beliau sampaikan. Ya, bukankah hidup sekarang jauh lebih mudah? Kita yang hanya tinggal sekolah, tak perlu ikut mencari pakan ternak atau menjunjung senjata. Kemudian kita masih saja menagih apa yang kita anggap hak, bermanja-manja pada kenyamanan hidup, lalu terlena dalam kebodohan. Sebuah pelajaran berharga dari seorang kakek yang belum lama kukenal tapi setiap kunjunganku selalu ada nasihat beliau yang mestinya didengar oleh semua anak muda negeri ini.

Terima kasih Mbah Musiran.
Nganjuk, 26 Juli 2015

Cerita Para Sahabat

image
Source: Ketika Cinta Bertasbih

     Satu lagi seorang sahabat mengirim ceritanya padaku. Tak jauh berbeda dengan yang lain. soal cinta. Aah,entah kenapa kami semua merasakan hal sama, mungkin jutaan wanita diluar sana juga merasakan hal yang sama. Entah mengapa mereka bercerita padaku, padahal mereka rasanya lebih berpengalaman soal cinta. Mereka tak selalu butuh saran, mungkin sekalimat quote didengar itu sudah cukup. Inilah secuplik kecil kisah cinta itu.
       Sahabatku yang pertama

Continue reading “Cerita Para Sahabat”

Cara Tuhan

image
Source: http://kurniawangunadi.tumblr.com

Suatu hari yang panas, Nasruddin berteduh di bawah naungan pohon kenari. Setelah beberapa saat, ia mulai melihat labu besar yang tumbuh di tanaman yang merambat dan kenari kecil yang tumbuh di pohon megah.”Kadang-kadang saya tidak bisa memahami jalan Allah!” Dia merenung, “Dia membiarkan kenari kecil tumbuh di begitu pohon yang besar dan labu pada tanaman merambat yang halus!”Saat itu juga ada kenari yang jatuh tepat di kepala botak Nasruddin. Dia bangkit sekaligus mengangkat tangan dan wajahnya menghadap ke langit, mengatakan:”Astaga! Maafkan saya mempertanyakan cara-Mu! Engkau maha bijaksana. Apa yang terjadi dengan saya sekarang, jika labu tumbuh di pohon!”
Source: http://www.ketawa.com/2015/06/11109-berteduh-di-bawah-pohon-kenari.html

Saya iseng mencari cerita humor sufi di internet, mengulang kebiasaan saya semasa kecil yang menyukai kisah abunawas. Di akhir cerita selalu ada yang menghentak, menghenyakkan kita untuk tersadar. Cerita yang baru saja kubaca mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa. Bahwa Tuhan selalu memiliki cara untuk mengajarkan kita suatu hal. Keputusan terakhir adalah cara apa yang dipilihkan-Nya untuk kita. Bahkan suatu pertemuan yang kita anggap kebetulan sesungguhnya adalah satu dari cara Tuhan, entah untuk apa kita tak selalu mengetahuinya. Tuhan pula yang memiliki segala cara untuk mendewasakan kita dengan mempertemukan kita dengan masalah yang tak pernah sama satu sama lain. Tuhan juga yang memiliki cara untuk mengakhiri semua cerita kita, entah menyenangkan atau menyedihkan. Dan cara yang dipilihkan Tuhan untuk kita adalah cermin dari diri kita sendiri dan itulah yang terbaik. Karena hidup kita layaknya humor sufi, dimana kesalahan yang ada ditertawakan lalu diubahnya jadi sebuah pelajaran.

Nganjuk, 29 Juli 2015

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.