image
Source: Ketika Cinta Bertasbih

     Satu lagi seorang sahabat mengirim ceritanya padaku. Tak jauh berbeda dengan yang lain. soal cinta. Aah,entah kenapa kami semua merasakan hal sama, mungkin jutaan wanita diluar sana juga merasakan hal yang sama. Entah mengapa mereka bercerita padaku, padahal mereka rasanya lebih berpengalaman soal cinta. Mereka tak selalu butuh saran, mungkin sekalimat quote didengar itu sudah cukup. Inilah secuplik kecil kisah cinta itu.
       Sahabatku yang pertama

ini memang sudah terlihat menyukai pria itu dari setahun lalu, gelagatnya sudah menunjukkan meski ia baru benar mengakuinya setengah tahun lalu. Ia hanya diam, tak mendekat, mengagumi dari jauh. Sampai sekarang rasanya tak berubah malah makin menjadi. Ya, ia masih jatuh cinta, masih begitu mudah terbawa perasaan. Meski kapan hari kenyataan agak menyakitinya karena sang pria nampaknya mendekati wanita lain.
     Sahabatku yang kedua, jatuh cintanya berawal dari kekaguman. Ia sudah mengatakannya dari setahun lalu padaku. Rasa kagumnya terus bertahan. Tapi beberapa bulan lalu ada hal aneh yang ia rasakan kekaguman itu muncul lagi namun dari orang yang berbeda, pada orang yang dulunya hanya ia rasa baik hati dan kini ia mulai mengaguminya, ia jatuh cinta lagi.
     Sahabatku yang ketiga,  jatuh cintanya berawal dari sebuah kedekatan, dari chat yang terasa dekat. Dari sebuah perjalanan yang pernah sekali ia rasakan lalu rasa manisnya mengendap. Tapi kini sang pria berubah dingin, tak lagi menyapanya, malah membuat status media sosial yang menandakan pria itu mengejar gadis lain yang tak didapatkannya. Ia terasa menjauh.
     Sahabatku yang keempat baru saja menceritakan kisah jatuh cintanya. Rasa yang diperuntukkan pada teman yang sangat akrab dengannya, yang mampu membuatnya menjadi nyaman dengan menjadi diri sendiri. Tapi ia tak bisa mendekat, sang pria sudah ada yang punya. Ia hanya bisa menyalahkan perasaannya, takut pada perasaan yang bisa saja dipermainkan.
     Lalu bagaimana denganku? jatuh cintaku berawal dari sebuah senyuman. Hal yang begitu sederhana yang bisa saja ia lakukan pada semua orang dan anehnya aku tetap saja merasakan itu berbeda. Ketika ia memanggil namaku, melihat ke mataku ketika kami berbicara, mendengar celotehanku dan menyambutnya dengan tawa. Tapi aku sadar bahwa hatiku tengah dibolak-balikkan Tuhan, bahwa aku harus mengendalikan rasaku.
Meski sungguh perasaan tak pernah salah tapi pilihanlah yang membuatnya salah. Maka aku tak pernah memilih untuk mengembangkan rasa itu agar tak mendekat pada pilihan yang salah. Terima kasih kepada para pria yang singgah di hati wanita-wanita ini, kalian telah membuat suatu cerita dalam hidup kami. Entahlah bagaimana rasa cinta selalu timbul dari proses kebaikan kalian dan semoga Allah mempertemukan masing-masing kami pada orang yang tepat, yang kebaikannya terus terasa dan bertahan hanya karena Allah. Aamiin.

Kediri, 9 Juli 2015

Advertisements