Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

September 2015

Sebelum Luka

Langit gelap sempurna, hitam pekat tanpa bintang. Aku tengah duduk di teras rumah, sedang menunggu. Kutengok kanan kiri, begitu ramai jalanan malam ini, ya ritual lebaran belum berakhir. Tugu rumahku masih tegak berdiri, terukir pada tubuhnya bercerita bahwa ia lahir sejak tahun 1980 dan tak berubah sampai sekarang. rembulan baru sedang mengintip dari balik tugu pagar itu, menjadi satu-satunya penerang malam ini,cantik.
Rumahku tampak begitu mewah dalam remang ini, saat pagi anda bisa melihat jelas bahwa rumah ini kusam, penuh luka, ia sudah tua.
Tugu pagar rumahku tak berbeda dari awal rumah ini berdiri, paling hanya pagarnya yang berganti warna. Tapi batu alam penghias tugu pagar tak secantik dulu, satu dua batu sudah jatuh, tak lagi berada ditempat yg seharusnya. Aku pun terus membiarkannya, menyusul batu lain yg ikut jatuh. Salahku tak menempelkannnya segera hingga sebagian batu itu entah kemana. Dan tugu pagar rumahku terlanjur buruk rupanya, meski tak begitu nampak oleh orang lain. Ya, ia sudah menunggu terlalu lama, sampai ia jenuh lalu aku tak mampu berbuat apa-apa.
Sudah, aku tak lagi melihat pagar itu. Apa yang kunanti telah datang, keluargaku , bergegas kami turut meramaikan jalanan, melakukan ritual lebaran, bersilaturrahim, sebelum semua terlanjur jenuh, terluka lalu menjadi buruk rupa.

Muka Rumah, 21 Juli 2015

Advertisements

Dua Bintang

image

Aku hanya melihat dua bintang di langit malam ini, dan aku tepat berada di antara keduanya. Kunamai mereka Bintang Timur dan Bintang Barat. Bintang Timur sama besar dengan Bintang Barat tapi Bintang Timur bercahaya lebih terang. Tiba-tiba angin berhembus sekali, pelan dan dingin. Aku merapatkan jaket yang kukenakan sedari tadi. Aku masih menatap langit, dan  kedua bintang itu masih disana. Jarak antara kedua bintang itu begitu jauh, mungkin di langit sana mereka terpisah berjuta tahun cahaya. Aku mencoba melihat lebih dekat, Bintang Timur tak sendirian. Ada bintang lain yang lebih kecil dan redup disekitarnya. Bintang-bintang itu sangat dekat dengan bintang timur, nampak bersahabat. Tapi kulihat bintang barat tetap sendiri, tak ada satu pun yang menemani. Ia tampak redup dan semakin redup.

Nganjuk, 5 Agustus 2015

Langit-Langit

image

41:11. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.
41:12. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dalam sebuah perjalanan mataku selalu tertuju pada langit, entah itu pagi,siang, sore maupun malam hari.
Langit pagi adalah ketika matahari menyapa, ketika kita terhenyak dari tidur dan mendengar gema menara masjid. Aku bisa melihat garis jingga di samping rumahku, melihat garis-garis cahaya menembus sela ranting pohon. Ketika udara dingin mulai jadi hangat, ketika aku mulai bisa melihat rumput dibalik jendela kamarku. Langit pagi adalah semangat.
Langit siang begitu menyebalkan. Matahari selalu saja menyengat. Hanya sesekali saja ketika matahari tengah baik ia tak begitu terik atau ketika awan berjaya menghadang panasnya. Langit siang adalah perjuangan.
Langit sore begitu menyenangkan. matahari selalu ramah padaku, memberi kehangatan yang menyelimuti dengan mesra. Memberi wajah ufuk yang membekas. Ketika aku beranjak pulang dari segala rutinitas, ya selalu menyenangkan. Langit sore adalah kenyamanan
Tapi aku paling suka langit kala malam. Ketika langit hitam serempak, dengan bintang-bintang kecil, yang dulu selalu kunyanyikan. Langit dengan bintang penuh akan harapan, akan lantunan doa yang melambung ke angkasa dan dengkur manusia yang lelah akan harinya. Bintang menggantungkan berjuta asa dan cita, bahkan mitos bahwa manusia yang engkau sayang adalah bintang paling terang tampak seolah nyata. Aku tetap suka melihat langit malam meski tanpa bintang ia tetap terang karena rembulan selalu tampak seolah bersinar. Ia selalu memberi cerita, dari balik tubuh bulan aku menemukan berbagai kisah. Entah cerita masa lalu yang kembali teringat atau cerita esok hari yang penuh harapan. Bersamanya aku seringkali melamun, menerawang jauh dan memikirkan banyak hal. Bersama Langit malam aku tertawa dan menangis. Menutup mata dan hariku dengan angan akan esok hari, berharap bayang indah akan menemani. Langit malam adalah mimpi

Rumah, 21 Juni 2015

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

desember tiga

Hujan di kaca-kaca, hujan di kota-kota. Hujan bagai peluru, kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.