Langit gelap sempurna, hitam pekat tanpa bintang. Aku tengah duduk di teras rumah, sedang menunggu. Kutengok kanan kiri, begitu ramai jalanan malam ini, ya ritual lebaran belum berakhir. Tugu rumahku masih tegak berdiri, terukir pada tubuhnya bercerita bahwa ia lahir sejak tahun 1980 dan tak berubah sampai sekarang. rembulan baru sedang mengintip dari balik tugu pagar itu, menjadi satu-satunya penerang malam ini,cantik.
Rumahku tampak begitu mewah dalam remang ini, saat pagi anda bisa melihat jelas bahwa rumah ini kusam, penuh luka, ia sudah tua.
Tugu pagar rumahku tak berbeda dari awal rumah ini berdiri, paling hanya pagarnya yang berganti warna. Tapi batu alam penghias tugu pagar tak secantik dulu, satu dua batu sudah jatuh, tak lagi berada ditempat yg seharusnya. Aku pun terus membiarkannya, menyusul batu lain yg ikut jatuh. Salahku tak menempelkannnya segera hingga sebagian batu itu entah kemana. Dan tugu pagar rumahku terlanjur buruk rupanya, meski tak begitu nampak oleh orang lain. Ya, ia sudah menunggu terlalu lama, sampai ia jenuh lalu aku tak mampu berbuat apa-apa.
Sudah, aku tak lagi melihat pagar itu. Apa yang kunanti telah datang, keluargaku , bergegas kami turut meramaikan jalanan, melakukan ritual lebaran, bersilaturrahim, sebelum semua terlanjur jenuh, terluka lalu menjadi buruk rupa.

Muka Rumah, 21 Juli 2015

Advertisements