Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

October 2015

Pojok Lemari

Aku pernah membaca buku tentang menulis dan kutemukan satu kalimat yang menarik dan masih kuingat sampai sekarang, “Bahkan sudut lemari bisa menjadi sebuah cerita.” Saat itu, sekitar tiga tahun lalu aku tak pernah percaya akan hal itu, aku bayangkan seketika bagaimana suatu sudut lemari bisa menjadi sebuah tulisan. Tapi sekarang rasanya aku mulai percaya, jadi aku coba membuatnya.

Pernahkah anda membayangkan jika anda menjadi sebuah lemari? Yang berdiri seolah gagah menjulang setinggi yang ia mampu. Pernahkah anda mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi ujung sudut lemari? Ia selalu diam dan tak diperhatikan padahal ia sungguh punya arti besar. Kupandang lemari di pojok kanan kamar, jika tiap sudut lemariku mampu berkata.

Si kiri atas berkata “Posisi ini dianggap mereka adalah posisi terbaik, aku tak mudah tergores, aku tak mesti merasakan dingin lantai atau gelapnya dinding, aku bebas menerima udara. Tapi sungguh aku membenci posisi aku harus selalu terlihat baik, bagaimana tidak? Semua orang melihatku menilai seluruh almari ini dariku, aku juga berjumpa mesti banyak tangan yang sekedar menyentuh atau bahkan menyandarkan tangannya padaku. Aku mengemban tugas yang besar.

Pojok kanan bawah berkata ” Posisiku dianggap mereka posisi yang mudah, aku tak berarti apa- apa. Kalaupun buruk rupaku mereka tak peduli toh aku tak pernah terlihat. Aku tak pernah menghirup udara bebas karena disini gelap lembab dan kotor. Badanku penuh luka, terantuk sana-sini. Padahal aku bisa jauh lebih baik dari ini. Lihat betapa kuatnya aku, menahan beban yang lebih besar dari mereka. Meski begitu aku hanya bisa diam dalam kegelapan berteman dengan dinding yang kian dingin.

Pojok kiri bawah ikut bersuara “Lalu kalian ingin seperti apa? Seperti aku? Aku tetap bisa memandang luas tak merasa dingin dinding dan kegelapan tapi untuk apa jika aku dihujat. Disalahkan oleh manusia karena kesalahannya sendiri menendang tubuhku. Tubuhku ikut terluka tapi aku yg disalahkan.

Kamar, 4 Agustus 2015

Advertisements

Cerita Para Sahabat (2)

image

Semua hal selalu berubah, dan perubahan itu seringkali menyebalkan. Tapi coba bayangkan bila kita tak mengenal perubahan. Kita tak akan mengenal cerita. Dan cerita para sahabatku ini terus berlanjut hingga hari ini, dan semua memberi kami sebuah pelajaran berarti.
Sahabatku yang pertama, ia tengah berusaha melupakan rasa pada pria yang dulu disukainya. Karena dia tahu tak akan berhasil, ya, rasa itu tak akan berhasil, tak ada kelanjutan dari keduanya. Dan sahabatku tahu bahwa mereka bukannya malah semakin dekat tapi semakin jauh. Dan kini ia hampir berhasil, bersamaan dengan itu pula ia berkenalan dengan banyak pria lain berharap ada satu yang cocok untuknya.
Sahabatku yang kedua, kekaguman itu masih berlanjut. Dan masih sering ia utarakan kekagumannya akan pria itu padaku. Tapi kehidupan yang ia jalani sekarang memaksanya berjumpa dengan lebih banyak pria, bekerja sama dengan mereka, pun termasuk pria yang ia kagumi. Tapi akibat itu ia menemui lebih banyak pria baru yang lalu ia kagumi. Ketika kutanya kenapa kamu tak setia mengagumi satu pria saja? Jawabnya ringan, “Adalah agar aku bisa mencintai ala kadarnya, tak berlebihan, dan selagi aku bisa membagi perasaanku, sebelum ketika saatnya nanti aku tak lagi diijinkan mencintai yang lain”.
Sahabatku yang ketiga. Semua kedekatan itu sudah berakhir sekarang. Tak ada percakapan lagi di akun media sosialnya. Sang pria itu memang sudah menemui wanita lain. Wanita yang sahabatku tahu namanya, yang ia tahu orangnya, dan ia tahu bahwa si pria itu telah menjalin hubungan dengan wanita itu. Bahkan sahabatku menemui mereka berjalan bersama dalam suatu acara. Ia mengakhiri rasanya dengan terpaksa. Rasa yang ia buat sendiri, ia duga-duga sendiri dan ia kembangkan sendiri. Dan kini rasa suci itu masih dijaganya untuk pria lain yang mungkin memang jauh lebih tepat untuknya.
Sahabatku yang keempat, ia sudah mengetahui kejelasan dari semua pertanyaan ini. Pertanyaan yang selalu dipertanyakannya tapi lama tak terjawab. Dan akhirnya semuanya jelas sudah. “Lelaki itu brengsek”, katanya. Pria itu yang sengaja berkhianat, ia yang melangkah lebih dulu pada kebohongan, dan bodohnya sahabatku mementingkan perasaan daripada logikanya. Dan kini ia sadar bahwa perasaan terlalu lemah untuk dipercayai walaupun memang wanita selalu bertumpu pada perasaan, pada hatinya.

Lalu bagaimana denganku? Apakah ceritaku juga berubah seiring cerita para sahabatku yang berubah. Dan ternyata iya. Rasa itu kini tak lagi sama, kadang berkurang entah karena siapa yang berubah, siapa yang menjadi lebih baik. Entahlah, tapi rasa itu tak sehebat dulu. Mungkin aku sudah lebih tegas menjaga hati, memperingatkan diri akan ketidakpantasan. Lalu menyibukkan diri dengan hal lain yang jauh lebih rumit. Ah, sebuah kalimat yang dikirim seorang sahabat mungkin benar. “Cinta kepada Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang kau cintai berbuat baik kepadamu dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar padamu.” Dan semoga memang cintaku pada Allah jauh lebih besar. Mungkin memang selalu begitulah hati kami, wanita yang hatinya terombang-ambing seperti kapal dilautan luas, -seperti sekoci- kata seorang sahabatku. Tapi setidaknya dari semua cerita ini kita selalu belajar, lalu bersyukur atas ujian yang berakhir. Dan dari cerita ini mungkin akan lahir berjuta cerita baru, dari para sahabatku yang nanti hatinya akan berlabuh pada satu orang, seseorang yang menemani dua pertiga hidupnya.

Surabaya, 15 Oktober 2015

Selamat Ulang Tahun-Mestinya

Tahun ini mestinya engkau berulang tahun ke 58. Tapi 56 pun tak sampai. Aku masih ingat ulang tahun ke 55. Ya, sederhana sekali. Tak mungkin juga kau makan roti atau nasi kuning. Hanya ucapan selamat, dan yang kuucapkan dengan sangat datar dan tak bahagia sambil berlalu pergi untuk pamit berangkat sekolah. Betapa jahatnya aku karena itu adalah 17 oktober terakhir yang kulalui bersamamu.
Ulang tahun mama 4 November 2012. Ketika umurmu baru saja 54 tahun. Kejutan untuk mama kala itu membuatmu terlihat bahagia. Mesti senyum itu tak pernah berlanjut tawa. Betapa tak adilnya aku ketika tak pernah memberimu kue seperti yang kuberikan untuk mama. Meski kutahu sebenarnya kau sudah bahagia.
Atau bertahun sebelumnya ketika aku masih kelas 6, ketika aku memberikan surprise mie goreng yang kucetak. Mie instan sederhana yg rasanya dipuji mamaku begitu enak. Mie sbg hadiah ulang tahun pernikahan kalian. Saat kau masih bisa berjalan bebas meski sudah tak sehat. Dan sebuah kartu ucapan dan tulisan yang dibaca oleh mama dan kau juga mendengarnya  yang di dalamnya tertulis ” mama papa jangan berantem lagi apalagi cuma masalah sepele” tulisan anak SD yg tak berani kuucapkan. Pesan yang kutulis akibat sebuah percakapan yang ternyata jadi beban dan dendam bagiku. Dan kulihat kala hari ulang tahun itu kau tak berucap apa apa. Hanya tersenyum datar, kau selalu begitu.
Dan di ulang tahunmu yang mestinya ke 57. Kau menyapaku dalam mimpi yang kukisahkan dalam “Maafkan Ayah”  rasa salah itu kembali muncul meskipun entah siapa yang mestinya meminta maaf. Tapi aku sadar bahwa aku pun salah. Aku yang kekanak kanakan dan selalu lari dari keadaan.
Dan tahun ini, dimana mestinya aku mengucapkan “Selamat Ulang Tahun Papa!”, di umurmu ke 58-sama dengan jurusanku- hanya doa yang kini bisa teriring untukmu. Semoga aku bisa menjadi putri yang doanya dikabulkan Allah, yang doanya bisa menjadi amalmu, yang doanya bisa menyelamatkanmu di akhirat, dan semoga aku bisa menjadi anak cantik, pembawa rizqi dan kebahagiaan bagimu, sebagaimana namaku. Semoga aku bisa bertemu denganmu kelak dan mengatakan yang belum aku katakan. Ya Allah kabulkanlah doaku. Aamiin.

Surabaya, 17 Oktober 2015

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

DESEMBER

Desember bagai peluru; kadang bising, kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.