Aku pernah membaca buku tentang menulis dan kutemukan satu kalimat yang menarik dan masih kuingat sampai sekarang, “Bahkan sudut lemari bisa menjadi sebuah cerita.” Saat itu, sekitar tiga tahun lalu aku tak pernah percaya akan hal itu, aku bayangkan seketika bagaimana suatu sudut lemari bisa menjadi sebuah tulisan. Tapi sekarang rasanya aku mulai percaya, jadi aku coba membuatnya.

Pernahkah anda membayangkan jika anda menjadi sebuah lemari? Yang berdiri seolah gagah menjulang setinggi yang ia mampu. Pernahkah anda mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi ujung sudut lemari? Ia selalu diam dan tak diperhatikan padahal ia sungguh punya arti besar. Kupandang lemari di pojok kanan kamar, jika tiap sudut lemariku mampu berkata.

Si kiri atas berkata “Posisi ini dianggap mereka adalah posisi terbaik, aku tak mudah tergores, aku tak mesti merasakan dingin lantai atau gelapnya dinding, aku bebas menerima udara. Tapi sungguh aku membenci posisi aku harus selalu terlihat baik, bagaimana tidak? Semua orang melihatku menilai seluruh almari ini dariku, aku juga berjumpa mesti banyak tangan yang sekedar menyentuh atau bahkan menyandarkan tangannya padaku. Aku mengemban tugas yang besar.

Pojok kanan bawah berkata ” Posisiku dianggap mereka posisi yang mudah, aku tak berarti apa- apa. Kalaupun buruk rupaku mereka tak peduli toh aku tak pernah terlihat. Aku tak pernah menghirup udara bebas karena disini gelap lembab dan kotor. Badanku penuh luka, terantuk sana-sini. Padahal aku bisa jauh lebih baik dari ini. Lihat betapa kuatnya aku, menahan beban yang lebih besar dari mereka. Meski begitu aku hanya bisa diam dalam kegelapan berteman dengan dinding yang kian dingin.

Pojok kiri bawah ikut bersuara “Lalu kalian ingin seperti apa? Seperti aku? Aku tetap bisa memandang luas tak merasa dingin dinding dan kegelapan tapi untuk apa jika aku dihujat. Disalahkan oleh manusia karena kesalahannya sendiri menendang tubuhku. Tubuhku ikut terluka tapi aku yg disalahkan.

Kamar, 4 Agustus 2015

Advertisements