Semalam kucoba kembali menyusuri malam, menggelindingkan roda di atas jalanan hitam, dibawah langit hitam tanpa bintang. Meski malam telah datang tapi panasnya seakan masih siang. Kugilas aspal seakan aku lebih kuat, menyela puluhan kendaraan yang seperti raksasa. Rasanya aku menjadi kurcaci kecil yang berlari diantara kaki mereka yang bergerak lamban, tapi sekali langkahnya bisa sangat jauh melampauiku.
Aku tak lagi berani menembus udara, tuan ketakutan terkadang mengejutkanku dari belakang, samping dan depan kendaraanku. Ya, sudah hampir sebulan tapi ia belum pergi, sungguh menyebalkan. Kadang aku coba melawannya tapi ia masih saja menang. Seperti semalam pun alasanku ketika melewati jalanan yang lama tak kutemui adalah agar aku menang melawannya.
Tuan ketakutan sebenarnya berteman dengan prasangka, aku juga berteman dengan prasangka. Dan sebenarnya prasangka inilah penyebab permusuhanku dengan si tuan. Ia bisa bersikap jadi terlalu baik atau kadang terlalu buruk. Mungkin akulah yang harus membuatnya jadi baik bukan terlalu baik atau bahkan jadi jahat.
Tapi mungkin memang belum saatnya bagiku untuk menang, tunggu saja ketika aku sudah berteman dengan waktu, bersamanya aku akan mengalahkan si tuan ketakutan.

Surabaya, 15 November 2015

Advertisements