Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

December 2015

Beruntunglah Kalian

Selalu saja nampak di depan mataku bahwa hidup kalian jauh lebih baik dariku. Sungguh aku iri pada kalian, orang-orang yang selalu dalam keberuntungan.
Beruntunglah kalian, yang jalan hidupnya banyak kesulitan, yang dikira sebagian orang sangat menyedihkan dan penuh akan ketidakmungkinan tapi sesunggguhnya perjuangan kalian amatlah keras.
Beruntunglah kalian, yang jalan hidupnya banyak kemudahan, meski dikira orang hidup kalian terlalu datar tapi sesungguhnya proses kalian penuh kesabaran.
Beruntunglah kalian yang dipertemukan dengan orang hebat, yang membawa kalian menjadi luar biasa meski dianggap orang semua pencapaian itu karena orang hebat dibelakang kalian tapi sesungguhnya tetaplah kalian yang menentukannya.
Beruntunglah kalian yang dipertemukan dengan orang yang biasa saja, atau tak lebih baik dari kalian, karena kalian jadi sadar bahwa bersyukur amat indah dan kalian bisa menjadi orang hebat dibelakang mereka yang tengah berproses.
Beruntunglah kalian yang dipertemukan dengan orang yang tak baik lagi tak amanah, karena kalian bisa membuktikan pada mereka bahwa kalian lebih baik dan lebih pantas atau setidaknya kalian cukup menyadari bahwa ada yang harus dibereskan.

Surabaya, 11 Desember 2015

Advertisements

Teman yang Menemani Berjalan

Untuk teman yang pernah menemaniku berjalan. Rasanya sungguh aku punya banyak dosa pada kalian. Membunuh beberapa menit waktu kalian akibat menemaniku berjalan, bukan karena perjalannya tapi karena tambahan waktu yang harus dibuang untuk meladeni pertanyaan mereka, untuk pertanyaan yang pasti kalian sebenarnya sudah tahu jawabannya, pertanyaan yang kalian tahu sangat kubenci. Dan saran-saran yang semakin sulit kuterima, saran-saran yang sudah bosan kudengar, bermacam saran yang kuanggap klise karena sejenisnya sudah pernah kujalani. Ah aku sungguh berdosa pada kalian, yang mau tak mau merasa iba, yang mau tak mau berusaha mengalihkan pembicaraan karena kupaksa. Ah sungguh maafkan aku sahabat, dan terima kasih karena tak malu menemaniku berjalan, karena membuatku yakin bahwa berjalan denganmu selalu menyenangkan dan membuat ketakutan diawal dunia baru itu hanya menjadi dugaan.
Entah siapa lagi kelak yang menjadi temanku berjalan, entah siapa tapi siapa pun itu semoga kamu menjadi teman perjalanan yang menghilangkan ketakutan, menghadirkan kenyamanan dan ikhlas menerimaku menjadi bagian kecil di hidupmu.
Untuk para sahabat yang menemani berjalan
Intan, Deliana, Anna dan teman berjalanku yang terbaik, Mama

Surabaya, 26 Desember 2015

Hujan dan Kamu (Jagung Manis)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Mungkin cerita ini bisa dianggap Kecengohan Ini part 2 (baca post Kecengohan Ini). Cerita ini berawal ketika suatu hari pulang sekolah saat aku duduk di kelas 12 SMA dan mendung begitu pekat. Tapi entah karena alasan apa, sahabatku, Depe, singgah sejenak di kosku, ya seperti biasa. Dan tak lama setelahnya kita memutuskan untuk mencari jajanan di jalan sekitar SMAN 1 Kediri.  Bodohnya kami memilih berjalan kaki ya selagi jalan-jalan sore, padahal jelas saja mendung sudah bergelayut diatas kepala kami. Dan dengan seragam yg masih lengkap kami berjalan ke sana yang jaraknya sekitar 150 m dari kos ku. Seperti layaknya yang sudah kami duga sebelumnya hujan turun tak lama kemudian, tapi yang salah kami prediksikan adalah hujan turun deras dan tak kunjung reda disertai angin kencang. Masih beruntung memang karena kami sudah tiba di penjual jagung manis yang kami beli tapi angin terlalu kencang hingga tenda kecil penjual jagung manis itu berulang kali jatuh dan tempias air membasahi kami. Kami menghabiskan jagung manis hangat itu dengan badan kedinginan. Mungkin ada satu jam kami bertahan dan memutuskan untuk menyerah dari penantian redanya hujan yang tak pasti. Lalu apa yang kami lakukan? Berjalan hujan-hujan hingga ke kos? Ah.. nampaknya terlalu menyeramkan. Kami memutuskan naik becak, dengan membayar Rp 8.000,00 yang rasanya mahal sekali untuk pelajar saat itu. Tirai plastik becak ditutup, suara air menggrebek kami tapi hanya tawa dan gigil badan yang menggaung didalam becak. Sampai akhirnya kami tiba di kos, masuk ke kamar dengan sisa sisa tetes air yang membasahi lantai.

Surabaya, 19 Desember 2015

Cermin Putri Tidur

Malam ini lebih gelap dari malam-malam sebelumnya, juga lebih dingin dan lebih sunyi. Hawa dingin ini seolah meminta tiap manusia yang kelelahan kembali menarik selimut dan meringkuk didalamnya lalu hilang kesadaran. Tapi aku menolaknya malam ini,aku baru saja kembali dari sebuah danau kecil berair jernih yang sampai saat ini masih kupertanyakan bagaimana bisa mata airnya tak pernah kering dan dari muka airnya memantulkan wajahku dengan begitu jelas. Aku menengadahkan tanganku, meraup secuil airnya lalu mengguyur wajah,tangan, kepala dan kakiku, airnya sungguh menyegarkan seolah ikut melarutkan semua lelah yang menyesakkan sehari ini.bulir bulirnya berjatuhan dari sudut daguku dan bersamanya tumbuh satu harapan baru akan pengampunan dan kebahagiaan.
Aku melangkah beberapa kali, sebuah pintu berdiri didepanku menghadang untuk kulalui. Tapi ia hanya diam,sungguh tak berarti. Dan tentu saja aku menerobosnya dengan mudah,sekali jalan maka ia dengan hormat mempersilahkanku berjalan,meski derit suaranya sedikit mengganggu.
Kugelar karpet terbaikku, menutupi sepotong keramik lantai yang sama putihnya dengan dinding istana ini. Kukenakan pakaian terbaikku, sempurna menutup apa yang biasa kusebut aurat. Kini aku siap pergi lagi ke sebuah waktu yang hanya dengan-Nya aku berada. Kutarik nafas panjang mempersiapkan diri, aku bicara sendiri sama seperti malam-malam sebelumnya, hanya berharap Ia mendengarku. Tak seberapa lama, aku kembali beranjak.
Satu dua langkah maka aku telah berada di depannya sekarang. Sebuah cermin besar yang padanya aku bertanya apa saja. Ia benar-benar mengerti aku dan dia juga tak pernah membohongiku. Semestinya hidup semua orang sepertinya, yang ia perlihatkan hanyalah kejujuran.

Imam Hasan Al-Bashri berkata:“Seorang mukmin adalah panglima untuk dirinya sendiri, ia mengatur dan menginspeksi dirinya sendiri karena mengharapkan keridhaan Allah SWT”.
Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yangdirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR.Imam Turmudzi, ia berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan”)

Surabaya,18 Desember 2014

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

DESEMBER

Desember bagai peluru; kadang bising, kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.