Malam ini lebih gelap dari malam-malam sebelumnya, juga lebih dingin dan lebih sunyi. Hawa dingin ini seolah meminta tiap manusia yang kelelahan kembali menarik selimut dan meringkuk didalamnya lalu hilang kesadaran. Tapi aku menolaknya malam ini,aku baru saja kembali dari sebuah danau kecil berair jernih yang sampai saat ini masih kupertanyakan bagaimana bisa mata airnya tak pernah kering dan dari muka airnya memantulkan wajahku dengan begitu jelas. Aku menengadahkan tanganku, meraup secuil airnya lalu mengguyur wajah,tangan, kepala dan kakiku, airnya sungguh menyegarkan seolah ikut melarutkan semua lelah yang menyesakkan sehari ini.bulir bulirnya berjatuhan dari sudut daguku dan bersamanya tumbuh satu harapan baru akan pengampunan dan kebahagiaan.
Aku melangkah beberapa kali, sebuah pintu berdiri didepanku menghadang untuk kulalui. Tapi ia hanya diam,sungguh tak berarti. Dan tentu saja aku menerobosnya dengan mudah,sekali jalan maka ia dengan hormat mempersilahkanku berjalan,meski derit suaranya sedikit mengganggu.
Kugelar karpet terbaikku, menutupi sepotong keramik lantai yang sama putihnya dengan dinding istana ini. Kukenakan pakaian terbaikku, sempurna menutup apa yang biasa kusebut aurat. Kini aku siap pergi lagi ke sebuah waktu yang hanya dengan-Nya aku berada. Kutarik nafas panjang mempersiapkan diri, aku bicara sendiri sama seperti malam-malam sebelumnya, hanya berharap Ia mendengarku. Tak seberapa lama, aku kembali beranjak.
Satu dua langkah maka aku telah berada di depannya sekarang. Sebuah cermin besar yang padanya aku bertanya apa saja. Ia benar-benar mengerti aku dan dia juga tak pernah membohongiku. Semestinya hidup semua orang sepertinya, yang ia perlihatkan hanyalah kejujuran.

Imam Hasan Al-Bashri berkata:“Seorang mukmin adalah panglima untuk dirinya sendiri, ia mengatur dan menginspeksi dirinya sendiri karena mengharapkan keridhaan Allah SWT”.
Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yangdirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR.Imam Turmudzi, ia berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan”)

Surabaya,18 Desember 2014

Advertisements