Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Mungkin cerita ini bisa dianggap Kecengohan Ini part 2 (baca post Kecengohan Ini). Cerita ini berawal ketika suatu hari pulang sekolah saat aku duduk di kelas 12 SMA dan mendung begitu pekat. Tapi entah karena alasan apa, sahabatku, Depe, singgah sejenak di kosku, ya seperti biasa. Dan tak lama setelahnya kita memutuskan untuk mencari jajanan di jalan sekitar SMAN 1 Kediri.  Bodohnya kami memilih berjalan kaki ya selagi jalan-jalan sore, padahal jelas saja mendung sudah bergelayut diatas kepala kami. Dan dengan seragam yg masih lengkap kami berjalan ke sana yang jaraknya sekitar 150 m dari kos ku. Seperti layaknya yang sudah kami duga sebelumnya hujan turun tak lama kemudian, tapi yang salah kami prediksikan adalah hujan turun deras dan tak kunjung reda disertai angin kencang. Masih beruntung memang karena kami sudah tiba di penjual jagung manis yang kami beli tapi angin terlalu kencang hingga tenda kecil penjual jagung manis itu berulang kali jatuh dan tempias air membasahi kami. Kami menghabiskan jagung manis hangat itu dengan badan kedinginan. Mungkin ada satu jam kami bertahan dan memutuskan untuk menyerah dari penantian redanya hujan yang tak pasti. Lalu apa yang kami lakukan? Berjalan hujan-hujan hingga ke kos? Ah.. nampaknya terlalu menyeramkan. Kami memutuskan naik becak, dengan membayar Rp 8.000,00 yang rasanya mahal sekali untuk pelajar saat itu. Tirai plastik becak ditutup, suara air menggrebek kami tapi hanya tawa dan gigil badan yang menggaung didalam becak. Sampai akhirnya kami tiba di kos, masuk ke kamar dengan sisa sisa tetes air yang membasahi lantai.

Surabaya, 19 Desember 2015

Advertisements