Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Hujan tiba-tiba turun begitu deras 100 meter sebelum aku kembali menginjak tanah, turun dari bus yang sedari tadi membuatku ingin muntah. Matahari yang biasanya diatas kepalaku di jam-jam sekarang ini tengah bersembunyi terselubungi awan kelabu yang memuntahkan isi perutnya. Aku berjalan menuju barisan bangku ruang tunggu terminal, kubuka pesan dari handphoneku yang berjajar muncul. Tak lama ibuku menelpon menanyakan keadaan “hujan” kataku, ia menyuruhku menunggu hingga hujan reda, khawatir jika aku sakit akibat dinginnya sentuhan hujan. Aku menurutinya lalu kembali membalas beberapa pesan dari temanku. Senyum dan tawa kecilku muncul tanpa sadar, seorang teman disana mengucapkan doanya padaku, kami lama tak bertemu, jarak kami adalah sepanjang barat-timur Pulau Jawa tapi kami masih saja dekat, mengeluh dan tertawa akan masalah satu sama lain. Tak lama ia kemudian tak membaca pesanku,mungkin sedang sibuk. Aku mematikan handphone dan memasukkannya ke dalam kantung jaket biruku.

Aku menghela napas sejenak, menatap kosong kedepanku, lelah dan sedikit mual. Yang kulakukan hanya menatap sekitarku, mendapati lantai yang cukup bersih ditengah hujan seperti ini, entah dari arah mana muncul seorang pria berkaos biru membawa sapu dan jungki merogoh kolong bangku yang kududuki, ah ternyata bapak kurus paruh baya, berkulit sawo matang itulah yang menjaga lantai lorong ini.

Kusingkap sedikit lengan kiri bajuku, mengintip jam berapa sekarang. Sudah pukul 11.27, hampir setengah jam aku duduk disini, untuk sekedar menanti hujan yang tak pasti akan segera berhenti. Melihat hujan yang turun sedang rasanya akan butuh waktu lama agar para awan diatas sana kering. Ah, sebentar lagi adzan dhuhur, aku harus bergegas, belum lagi tugas yang berderet mengantri untuk dikerjakan. Sempat aku terpikir untuk menerjang tangan-tangan hujan tapi air mereka akan memelukku dingin dan aku akan basah kuyup.

Ah, ojek payung, bocah-bocah itu berebut penumpang didepan pintu ruang tunggu, mereka basah kuyup dari atas kepala sampai kaki. Kaos dan celana mereka lekat menempel di badan akibat basah. Kaki-kaki mereka berjalan kecil membuntuti orang yang menyewa payung mereka, tanpa sepatu, tanpa sandal, tanpa alas kaki.
Beberapa bocah lelaki itu kadang saling mengolok satu sama lain, bercanda dengan gaya khas Surabaya. Dan dari jendela didepan bangkuku, kudapati satu-satunya gadis kecil yang turut menyewakan jasa payungnya. Ia berdiri diam dibalik para lelaki yang lebih tinggi darinya, tanpa ikut berebut menawari penumpang bus. Aku mengamatinya beberapa saat, ia tak begitu sering mendapat penumpang, mungkin juga karena payung nya lebih kecil dibanding yang lain. Gadis kecil berbaju coklat itu baru saja mengantar seorang ibu ke bus tujuan Ambulu. Aku bergegas melepas sepatuku, menghampirinya dan memanggilnya dengan lambaian tangan.
“Payung mbak?”,tanyanya.
“Dek anterin aku ke parkiran yang sana itu ya” jawabku sambil menunjuk ke tempat penitipan motor yang cukup jauh.
Ia hanya menganggukkan kepala sembari menyerahkan payung merahnya. Kami berjalan bersama,merelakan diri melangkah digenangan air setinggi mata kaki. Air yang bercampur lumpur itu ternyata sungguh licin, membuatku hampir saja terpeleset. Aku kagum bagaimana anak-anak ini bisa berlarian sepanjang jalan ini tanpa pernah jatuh, mungkin karena kaki mereka sungguh kuat.

Gadis itu rela hujan-hujanan sembari bercanda dengan adik perempuannya, mereka berjalan dibelakangku dan kudengar tawa renyah mereka. Ak melambatkan jalanku, agar berjalan bersama mereka.
“Adek, kamu kelas berapa?”
“Kelas enam”
“Ooh… Kamu cewek sendiri ya ngojek payungnya? Nggk takut temennya cowok semua?”
“Nggk”, jawabnya singkat.
“Trus biasanya orang-orang kasih uang berapa?”
“Seribu mbak”.
Kontan saja aku kaget, terhenyak. Uang seribu sungguh berarti bagi mereka hingga rela basah kuyup menanggung risiko flu atau masuk angin. Ah,atau aku yang kadang terlalu tak menghargai rejeki yang ada, menyepelekan uang dan kesehatan.
Aku tiba di parkir motor tujuanku, kuserahkan payungnya. Kubuka dompet dari kantung jaket, mungkin mereka layak untuk mendapat rejeki lebih banyak sore ini.
“Makasih ya” kata terakhirku pada gadis itu.
Ia menerima uang dariku dengan ekspresi datar, ah semoga uang itu sedikit menyenangkan hatinya.
Aku duduk di kursi panjang penitipan motor itu, menunggu motorku diambil sembari menatap jejak-jejak air bekas langkah gadis payung itu. Aku hanya membatin dalam hati dan berdoa semoga ia tumbuh menjadi gadis yang baik, karena ia telah memberi pelajaran sederhana bagiku, dan sebuah kisah berharga dibawah payung, diantara hujan yang mengantarkan berjuta doa.

Surabaya,21 Februari 2016

Advertisements