Bila aku tengah rindu pada banyak hal.
Bila aku tengah rindu pada apa pun itu.
Bila aku tengah rindu pada kamu.

Aku tengah rindu pada kamar kecil dengan tiga orang didalamnya.
Aku tengah rindu pada gelak tawa di kamar belakang.
Aku tengah rindu pada semangkuk mie instan dan segelas sereal.
Aku tengah rindu pada malam malam yang penuh perbincangan.
Aku tengah rindu pada apa yang kusebut rumah singgah.

Aku tengah rindu pada sebuah senyum dedaunan pohon mangga di pelataran
Aku tengah rindu pada batang padi yang mulai menguning.
Aku tengah rindu padan awan yang berarak mengejarku.
Aku tengah rindu pada jalanan aspal tipis yang telah rusak.
Aku tengah rindu pada apa yang kusebut rumahku.

Aku tengah rindu pada khayalan dan mimpi mimpi gila mereka.
Aku tengah rindu pada cerita cinta, bualan, amarah, bahkan kata-kata kotor khas mereka.
Aku tengah rindu pada rencana spontan, keputusan dan logika mereka.
Aku tengah rindu pada langkah dalam sebuah perjalanan kemanapun bersama mereka.
Aku tengah rindu pada senyum dan ketulusan hati yang tak pernah kuduga.
Aku tengah rindu pada apa yang kusebut sahabat masa terindah.

Aku tengah rindu pula pada banyak hal lain.
Aku tengah rindu sekarang, kemarin juga, dan mungkin esok hari masih sama.
Lalu kenapa aku mesti rindu?
Lalu aku harus apa bila aku rindu?

Aku rindu pada apa yang pantas kurindukan.
Aku rindu sebab ia membuatku tenang dan nyaman.
Aku rindu sebab ia berarti bagiku.
Aku rindu sebab ia membuatku bahagia.
Aku rindu sebab ia membuatku lebih baik.
Aku rindu sebab itu kamu.

Bila rindu mungkin aku harus bertemu kamu.
Mungkin aku harus terlelap dalam mimpi kembali ke masa lalu.
Mungkin aku harus melupakanmu dan menemukan yang baru.
Mungkin aku harus tetap saja melangkah sembari menyimpan rindu.

Surabaya, 3 Maret 2016

Advertisements