Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

April 2016

Ditengah Keheningan

Aku diam sejenak memejamkan mata di tengah riuh gemuruh suara teman temanku. Aku tengah duduk bersandar pada meja besar di depan kelas, badanku tenggelam oleh balok kayu meja besar ini. Lantai disini dingin, namun bersih meski ada beberapa jejak kaki yang membekas. Sejauh ini yang kulakukan hanyalah diam. Hal yang kulihat hanya gelap, lalu apa yang kudengar pertama kali adalah suara tarikan nafasku sendiri,ditambah hembusan nafas panjang pertanda kelelahan. Lalu kudengar denting jam yang menyeret jarumnya bergerak tiap saat. Suara sayup beberapa orang yang saling berbicara dengan tema masing masing, dari materi kuliah, tentang tempat makan, isu-isu yang merebak di media sosial, sampai curhatan aneh ala orang dewasa. Tiba-tiba satu teman suaranya terdengar nyaring memecah keheningan, memanggil dari jarak yang terlalu dekat untuk berteriak, memecah lamunan dengan amat mudah,aku kembali membuka mata.

Surabaya,21 April 2016

Harry Potter dan Kakak di Balik Tirai

Baru saja aku menyelesaikan salah satu film Harry Potter untuk kesekian kalinya dan aku masih saja menyukainya, Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, film adaptasi dari novel yang berjudul sama, karangan JK.Rowling. Dan seketika aku jadi ingat saat pertama kali film ini diputar di layar kaca,di Trans TV. Saat itu aku baru saja masuk kelas 7 SMP sangat baru bahkan karena saat itu aku belum pernah merasakan kelas dan bangkuku. Aku bolos sekolah mulai dari MOS sampai 2 minggu pertama pelajaran. Bukan karena aku tak mau kena bully senior tapi saat itu aku memang harus dan dipaksa untuk ke Surabaya. Ya, mencoba lagi pengobatan medis yang sebenarnya dulu sudah pernah kurasakan.

Malam itu aku ingat betul tgl 22 Juli 2007, karena keesokannya adalah hari anak.
Sungguh menyenangkan karena seorang kakak perempuan disebelah kamarku baik sekali dan mengajak ku menonton film itu bersama, tirai yang membatasi ranjang kami dibuka. Ibunya dan ibuku sama-sama sudah terlelap dalam tidur. Lampu kamar kami pun sudah dimatikan, hanya remang cahaya tv yang menemani. Film dimulai, kami menonton bersama, terkejut ketika ada berbagai keajaiban muncul disana. Ketika film hampir selesai malah kakak itu tidur, nampaknya ia memang sudah lelah menjaga ibunya seharian sebagaimana ibuku yang sesekali terbangun lalu menyuruhku tidur namun kuabaikan. Saat itu pertama kalinya aku menonton film ini full, tanpa kantuk hingga lewat tengah malam yang saat itu hampir tak pernah kulakukan,tidur malam. Ah,selalu menyenangkan menonton dengan kakak itu, kakak dibalik tirai itu juga selalu menyapa dengan ramah. Kakak itu pergi lebih dulu dariku,ia pulang ketika aku bahkan belum masuk ruang steril yang suram itu. Meski kini aku sudah lupa namanya, aku hanya berharap semoga ia selalu sehat dan dikelilingi orang yang baik sepertinya.

Surabaya, 3 Januari 2016.

Terkesan

Belum lama ini seorang sahabat sekaligus partner di organisasi menulis di blognya

Dan komentar yang saya keluarkan hanyalah protes.
“Kucluk-kucluk, apaan nih?”
“Itu suara sepatumu kalo jalan”
“Kucluk itu kata kotor di Bahasa Jawa”

“Ih, kok tentang aku paling pendek”
“Itu di draft paling panjang, tapi yang dipost pendek biar gak terlalu romantis”
“Aduh sayang kamu cewek”

Ya hanya sebagian kecil omongan ringan yang sering kali kami lontarkan. Tak lama lagi perjuangan bersama tujuh orang ini akan berganti. Entah bagaimana kami membuat akhir dari kesan itu, karena setiap kesan yang ada bisa berubah kapan saja.

Surabaya, 12 April 2016

Memandang Langit

image

Seberapa sering kamu memandang langit? Ataukah selama ini kamu hanya melihat jalanan lengang? Atau jajaran kendaraan berbaris rapi menggilas jalan? Atau dinding dan jendela bangunan di sekelilingmu? Atau mungkin kau hanya memandangi batang pohon yang tegak dengan buah yang kau tunggu kapan masaknya?

Coba sesekali dongakkan kepalamu keatas, menantang langit yang membentang di seluruh bumi. Lihat bagaimana ia amat luas hingga ujung-ujungnya tak pernah kau temui. Langit yang sama yang kau lihat dimana saja kau pergi, meski tak selalu terlihat sama di satu tempat.

Langit dengan arakan awan putih membawa rasa kelembutan dan penuh kenyamanan.
Langit yang penuh bintang membawa berjuta harapan ditengah kegelapan.
Langit kelabu yang seolah menyedihkan membawa berjuta harta yang tak ternilai oleh lembaran rupiah.

Aku tengah bosan pada rutinitasku sehari-hari, dan itu membuatku bekerja ketika terpaksa dan ingin berada di jalan lebih lama, sambil sesekali memandang langit, menikmati keramahannya yang tak pernah membosankan.

Langit menghiburku dengan warnanya yang berubah setiap waktu, kadang biru muda, kadang hitam legam, dan kadang jingga kemerahan.
Langit menghiburku dengan gemantung hiasannya, entah itu awan putih, taburan bintang, atau tetesan hujan.
Langit menghiburku dengan mengingatkan pada jutaan mimpi gila itu, karena langit seperti mimpi, besar seolah tak terbatas dan tempatnya yang jauh diatas sehingga amat susah mencapainya .

Surabaya,3 April 2016

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.