Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Mimpi Jendela (dok. pribadi 2013)

Seharian ini turun hujan, kadang deras, lalu gerimis kecil, hanya diam sesaat lalu deras lagi. Aku dan seorang sahabat menghabiskan waktu seharian ini di kampus, kuliah, kosong sebentar, kuliah lagi, sholat, makan lalu kuliah lagi. Membuang waktu di ruang kelas selama berjam-jam, dengan hujan yang terus mengetuk jendela kelas. Di sela pergantian kuliah, aku hanya memandang hujan, lewat jendela kelas, menerawang jauh dari sela semak belukar.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela,mungkin karena terbiasa. Kebiasaan masa kecil yang menunggu hujan dari jendela kamar tamu, melihat seorang teman diantara sekumpulan bocah laki-laki yang tengah berlari menerjang hujan. Kadang duduk di kursi panjang sembari melahap gorengan, mie rebus, atau nasi goreng entah masakan ibuku atau buatanku sendiri.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela, mungkin sudah terbiasa. Kebiasaan ketika SMA dan hujan masih mengguyur di jam pulang. Aku dan sahabat-sahabatku lebih memilih tinggal. Tak bawa payung dan mantel, takut buku basah, malas pulang, atau memang ingin sekedar menghabiskan waktu menjadi alasan kami untuk bertahan di sekolah.

Pernah suatu sore sekitar pukul 15.30, ketika kelas sudah berakhir dan hujan turun cukup deras, aku memilih tinggal beberapa saat untuk sekedar menikmati suasana karena pulang ke kos mungkin akan membosankan. Aku tak sendiri di kelas lantai 2 itu, ada seorang sahabatku yang masih bertahan di sekolah. Bercengkerama, mendengarkan curhatnya, atau yang paling tak penting, membicarakan adek kelas idola selalu menjadi bahan yang menyenangkan dan mengundang tawa. Sore itu pun sama, kami melakukannya sembari berdiri dengan tangan bersandar di kusen-kusen jendela kelas yang basah oleh hempasan tetes air hujan dan dari sana tercium aroma tanah di bawah kelas yang dibawa oleh angin. Memang sudah sepi sore itu, hanya beberapa saja anak yg terlihat lewat di jalan dibawah kelas kami. Sore itu di kelas hanya menyisakan aku dan sahabatku ini. Cahaya matahari hampir-hampir hilang, entah memang ia mulai beranjak pergi atau karena awan gelap yang menyelimutinya. Hening, dingin dan gelap aku ingat benar suasana sore itu. Hanya suara kami yang menciptakan keramaian, hanya persahabatan kami yang kian terasa hangat, dan hanya ketulusan hati kami yang kala itu membuat seolah dunia ini amat terang.

Aku ingat, saat itu sahabatku memperkenalkanku pada sebuah lagu favoritnya “Telescope” milik Hollywood Nobody, alunan yang indah dari lagu menyempurnakan suasana sore itu.

image

image

Lalu kami kembali berkhayal akan mimpi-mimpi besar kami, pada hal-hal yang bagi kami saat itu amat kami yakini begitu mudah untuk diraih. Mimpi-mimpi yang kami gantungkan di bagian tertinggi jendela kelas, agar makin dekat harapan kami dengan langit. Dan setiap harinya mimpi itulah yang membangkitkan semangat kami disela kejenuhan belajar, meski semakin lama tulisannya makin pudar tapi tidak semangat kami kala itu.
Mungkin kini tulisan mimpi itu sudah tak lagi di jendela itu, tapi mimpi kami masih disana, mimpi kami masih ditempat yang sama.
Mungkin kini kami sudah amat lelah berjalan mengejar mimpi-mimpi itu, ditambah jalan yang kami lalui tak lagi sama seperti dulu, tapi jalan kami ini pun awalnya hanyalah sebuah mimpi di jendela.

Setelah hujan membasahi jendela,
Surabaya, 19 April 2016

Advertisements