image
Source: kurniawangunadi.tumblr.com

Jauh itu tak pernah bisa diukur dengan pasti. Kata tetanggaku “Jauh banget ke Surabaya”.kata temanku “enak ya, Surabaya dekat rumah” semua tergantung apa yang dijalaninya.
Begitu pula hati manusia ini, kadang kala merasa jauh karena lama tak bertemu, atau mungkin tak ada obrolan diantaranya, atau bisa jadi karena kita tak benar mengenalnya.

Jauh dekatnya hati manusia ini bertingkat, jika kau ingin mengukurnya ini adalah skala sederhana tapi sungguh perlu kita renungkan.
1. Ta’aruf (mengenal bukan hanya nama)
2. Tafahum (saling memahami sesama saudara)
3. Ta’awun (saling menolong/bekerja sama)
4. Takaful (saling menanggung beban)

Jika kamu merasa jauh apa memang kamu sudah dekat? Sampai mana tingkat kita mengenalnya? Atau jangan jangan kita hanya sebatas tahu saja? Atau mungkin ia mengenal kita amat dalam, tapi kita yang tak benar-benar mengenal dia?

Dan bila jauh apakah kita ingin mendekat? Apakah kita sudah berjalan padanya? Apakah kita sudah berlari mengejarnya? Ataukah bahkan kita hanya diam? Mungkin kita saja yang terlalu malas atau mungkin jauh adalah keadaan yang lebih nyaman.

Sungguh perjalanan terjauhku adalah menemukan siapa yang dekat hatinya denganku, yang sudah sampai tingkat puncak dalam mengenal.

Sungguh Allah amatlah baik padaku, karena Ia mendekatkan ku dengan orang berhati mulia, dan semakin baik rasanya. Allah mempertemukanku dengan orang yang entah kenapa saat memandangnya pertama kali saja aku sudah ingin dekat dengannya. Allah melindungiku dengan orang seperti itu, menempatkanku pada tempat dimana tanpa kusadari aku terbentuk disitu. Allah mengabulkan doaku agar senantiasa menjadi lebih baik dengan menjauhkan dan mendekatkan.

Ya Allah, dekatkanlah padaku apa yang baik bagiku, dan jauhkanlah dariku apa yang buruk untukku.
Aamiin.

Surabaya,16 Maret 2016

Advertisements