Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Hujan turun begitu deras sejak sore kemarin, dan jauh lebih lama dari biasanya jika sederas ini. Aku masih terdiam di dalam kamar kosku, merenung dan menulis, berharap hujan segera reda karena ada yang harus dikerjakan di luar. Aku masih bertahan di atas ranjang sampai kemudian adzan magrib berkumandang, dan betapa kagetnya aku ketika tiba-tiba air meluncur masuk dari sela-sela bawah pintu. Sontak aku kaget karena air sudah menyentuh laptop yang kugeletakkan dilantai, baru kutaruh kasur pun kepanikan lain muncul. Tugas bangunan air yang selalu sukses membuat tak tidur pun hampir disentuh air yang mengalir deras itu. Ada apa ini? Darimana air masuk? Tentu saja hal ini membuat seisi kos panik, dua anak kamar paling belakang menjadi korban pertama yang sadar dan kami langsung mengetuk pintu belakang ibu kos. Bu kos yang sebagian anak memanggilnya “eyang” ini, langsung kaget bukan main dan memanggil “yang kung” karena air yang mengalir itu sudah begitu cepat tingginya. Baru kali ini kosku banjir seperti itu, dibilang sedih ya sedih tapi aku yang selalu menertawakan hidup akhirnya tertawa bersama bu kos dan anak lain. Banjir meluas ke seluruh area kosan. Hanya beberapa kamar saja yang selamat karena elevasinya yang agak tinggi. Air sudah mencapai batas maksimum, air di halaman dan di dalam sudah sama tingginya, saluran di depan rumah pun sudah penuh. Apalagi hujan belum kunjung reda sampai pukul 19.30 WIB. Akhirnya kami menyerah untuk menguras air yang merangkak naik dari ke atas mata kaki.

Aku memutuskan untuk mengungsi. Belum berakhir disana, banjir ternyata menggenang di jalanan menuju kos temanku, beruntung kos temanku yang lebih tinggi aman dari air. Aku langsung mandi, kakiku sudah sangat gatal. Hah,menguras air tadi mungkin sukses membuatku olahraga. Aku lapar, aku dan temanku hanya bisa berharap ada tukang jual makanan yang lewat.
Aku berkata, “Mana mungkin ini banjir parah”, tapi dugaanku salah, tak lama ada penjual tahu campur lewat, kami tentu sangat bahagia, bunyi keroncongan ini mungkin akan berubah menjadi disko.

Aku menatap tahu campur itu pada suapan yg kedua. Tahu campur hangat ini mengingatkanku pada beberapa tahun yang lalu. Saat itu juga hujan, tapi gerimis tak deras, pagi hari bukan malam, dan di Kediri bukan Surabaya. Sepiring tahu campur saat itu kubeli pun tanpa rencana. Setelah berenang dipagi hari, bersama seorang sahabat, dan kode paling hebat yang kita katakan
“Pe, kamu tahu kan apa yang kupikirkan?”
“Pong, apakah kamu berfikir apa yang kupikirkan?”
“Ya”. Kita selalu kompak tentang pertanyaan itu, dan jawabannya pasti tak jauh dari urusan perut.

Pagi itu kita bingung makan dimana, dan keputusan yang lagi-lagi spontan kali itu adalah berhenti di penjual kaki lima yang menjajakan tahu campur. Mungkin abang penjual tahu itu pun baru sampai di depan salah satu bank nasional itu. Mungkin kami pembeli pertama, kami menghabiskan tahu campur itu dengan cepat, di pinggir jalan di kala gerimis belum lama datang.

Surabaya, 31 Mei 2016