Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

July 2016

Apa yang Kamu Pikirkan Ketika..

Apa yang kau pikirkan ketika hujan turun? Ketika gemercik airnya menghantam atap rumahmu dengan keras, menimbulkan kebisingan. Ketika kau harus mengangkat jemuran dan menunggunya kering lebih lama. Ketika perutmu jadi terasa lebih lapar dan ingin menyantap sesuatu yang berkuah panas. Ketika meringkuk di dalam selimut dan mata yang terasa amat berat adalah kegiatan paling tepat. Ketika halaman rumahmu tergenang air dan dedaunan dibasahi bulir hujan.
Apa yang kau pikirkan ketika panas terik matahari? Ketika rasanya tak ingin keluar rumah atau ruangan berAC. Ketika es krim menjadi menu yang ingin kau santap meski itu pun akan cepat leleh. Ketika keringat begitu cepat membasahi tubuhmu padahal baru saja kau selesai mandi. Ketika tanaman di rumahmu jadi kering dan terpaksa kau harus menyiramnya setiap hari.

Apa yang kau pikirkan ketika pagi datang? Ketika ayam berkokok atau alarm nyaring membangunkanmu. Ketika kau harus membuka mata melawan kantuk yang teramat sangat. Ketika mimpi indahmu malam itu seketika berakhir. Ketika berbagai tugas hari itu membuatmu harus segera beranjak. Ketika mungkin perutmu yang lapar tapi tak mendapati makanan yang bisa disantap. Ketika garis-garis cahaya matahari mulai terlihat menyilaukan.

Apa yang kau pikirkan ketika malam datang? Ketika keheningan datang menyergap kehidupanmu. Ketika gelap membuatmu repot untuk menyalakan lampu. Ketika semua pekerjaan harus segera diakhiri sebelum itu selesai. Ketika perlahan kelopak matamu menutup tanpa kau sadari. Ketika semua akibat dari aktivitasmu hari ini,lelahnya baru kau rasa. Ketika angan akan esok hari menjadi tuntutan berat untuk sekedar melewati malam.

Apa yang kau pikirkan ketika waktu selalu berubah dan menyebalkan untuk sekedar dilalui padahal ia tak salah apa-apa. Waktu hanya berjalan dan berubah sebagaimana ia seharusnya, sebagaimana ia diciptakan. Waktu itu ada, tapi tak melakuman apa apa, tak menyenangkan atau menyebalkan, tak juga baik atau buruk. Waktu tak ubahnya sebuah hal tak berwujud yang besar pengaruhnya mengusik hidup kita. Waktu yang selalu berputar membawa hidup kita, sebagaimana hati yang amat mudah terbolak balik. Ya,waktu seperti hati, menciptakan rasa yang cepat berubah padahal ia tak berbuat apa apa.

Lalu apa yang kau pikirkan tentangnya, tentang hati?

Apa yang kau pikirkan ketika patah hati. Ketika yang awalnya menyenangkan jadi menyebalkan. Ketika apa yang kamu harapkan runtuh begitu saja. Ketika apa yang kau inginkan harus dipendam dalam diam. Ketika perlahan hati sesak oleh kesedihan yaang membuncah.

Apa yang kau pikirkan ketika jatuh cinta. Ketika pikiranmu melayang-layang penuh angan. Ketika wajah keindahan senantiasa terbayang di depan mata. Ketika senyum menjadi satu satunya ekspresi yang kau ukirkan. Ketika segala hal yang terjadi seolah tanpa masalah. Ketika setiap perubahan adalah cara terbaik. Ketika setiap saat menjadi waktu yang menyenangkan.

Apa yang kau pikirkan ketika semua waktu seolah terlihat buruk. Namun ketika jatuh cinta bukankah semuanya nampak indah? Andai saja kita selalu bisa jatuh cinta. Kadang kita saja yang membuat cinta tak hadir disana, kita yang membuat hal-hal yang amat sederhana menjadi rumit, kita yang membuat cinta yang amat dekat terasa jauh. Padahal cinta itu banyak, cinta itu dekat, cinta itu sederhana, seperti apa yang hatimu pikirkan.

Surabaya, 27 Juli 2016

Advertisements

Kangen Ramadhan

image

Terimakasih ramadhan engkau masih hadir untuk kesekian kalinya,menghampiriku yang hanya diam terhadap waktu.

Terimakasih ramadhan untuk mengisi waktu pertamaku menghirup udara dunia. Menjadikan namaku indah karena engkau hadir disana ketika ku lahir. Ketika ramadhan menjadi awal yang istimewa.

Terimakasih ramadhan untuk masa-masa kecil yang begitu polos, namun sambutan untukmu selalu menyenangkan dengan sekotak ambeng a.k.a bekal nasi kotak. Ketika puasa itu kumulai dg sahur set.6 pagi dan berbuka ketika adzan dhuhur,lalu puasa lagi hingga magrib. Ketika langgar depan rumahku masih terbuat dari anyaman bambu,dan ditemukan ular piton besar dibelakang kebunnya. Ketika ditengah sholat terawih aku tidur diatas sajadaharna merah. Ketika menunggu magrib akan sangat menyenangkan karena ayahku akan memboncengku entah dengan sepeda ontel atau sepeda motor di depan lalu berkeliling desa. Ketika ramadhan terasa amat menyenangkan.

Terimakasih ramadhan untuk masa dimana aku belajar tentang apa yang indahnya haqiqi. Dimana puasa utuh seharian yang awalnya berat jadi biasa saja. Ketika setiap sore di akhir ramadhan aku dan ibuku akan membuat jus mangga untuk tetangga sekitar. Ketika aku ikut bermain adonan kue-kue lebaran milik ibuku. Ketika sholat terawih selalu membuatku semangat karena satu tandatangan dari sang imam membuatku dan teman-temanku bangga. Ketika kegiatan ramadhan di sekolah membuat kami terasa greget ketemu ramadhan. Ketika ramadhan disambut penuh bahagia.

Terimakasih ramadhan untuk masa-masa dimana aku mulai dewasa. Ketika bulan puasa kuhabiskan bukan dirumah. Ketika sekolah terasa berbeda karena tak perlu memakai seragam,tapi busana muslim.  Ketika pondok ramadhan di sekolah membuatku kerepotan selama hampir sebulan. Ketika setiap sorenya aku dan teman sekosku akan berjalan sampai ke taman kota untuk mencari tajil di pasar ramadhan. Ketika malamnya aku akan terawih di masjid sma yang kala itu masih setengah jadi. Ketika puasa terasa biasa saja, tapi ramadhan selalu terasa berbeda.

Terimakasih ramadhan untuk perpindahan hidup yang ajaib 3tahun lalu. Ketika malam pertama ramadhan namaku tertera sebagai salah satu mahasiswa di ITS. Ketika ijin kata “ya,pasti ketrima” dari alm.ayahku jadi kenyataan dan mimpi-mimpi itu mungkin memang benar hasil istikharah. Ketika ramadhan setelah itu kunanti karena menjadi tanda libur semester. Ketika ramadhan menjadi awal aku berani mengambil keputusan baik meski melawan ibuku. Ketika ramadhan menjadi awal perubahan meski tak selalu mudah.

Aku sudah dewasa sekarang, puasa dan segala intrik khas ramadhan jadi terasa biasa bahkan kadang membosankan. Aku selalu berharap bahwa ketika datang ramadhan aku menyambut ia dengan kebahagiaan yang tulus, dengan semangat seribu kali lebih banyak untuk beribadah, tapi nyatanya tak ada yang signifikan. Ketika ramadhan datang apa yang kukerjakan seharian tak beda jauh dengan hari biasa, baik yang wajib atau sunahnya. Ketika ramadhan yang seolah kurindukan nyatanya kadang hatiku tak sepenuhnya ikhlas. Dan ketika ia akan pergi mungkin hati ini lebih bahagia menyiapkan hari raya ketimbang mempertahankan ibadah ala ramadhan.

Ramadhan baru saja berakhir, akan ada orang-orang yang bahagia seiring kepergianmu karena menyambut lebaran, akan ada orang-orang yang sedih karena kepergianmu menyisakan penyesalan dalam diri mereka.Terimakasih ramadhan untuk membuatku menemukan berjuta cerita. Semoga banyak dari mereka yang akan merindukanmu, orang-orang yang berkata, ” Ih,kangen ramadhan”.

Rumah, 6 Juli 2016

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

desember tiga

Hujan di kaca-kaca, hujan di kota-kota. Hujan bagai peluru, kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.