image

Terimakasih ramadhan engkau masih hadir untuk kesekian kalinya,menghampiriku yang hanya diam terhadap waktu.

Terimakasih ramadhan untuk mengisi waktu pertamaku menghirup udara dunia. Menjadikan namaku indah karena engkau hadir disana ketika ku lahir. Ketika ramadhan menjadi awal yang istimewa.

Terimakasih ramadhan untuk masa-masa kecil yang begitu polos, namun sambutan untukmu selalu menyenangkan dengan sekotak ambeng a.k.a bekal nasi kotak. Ketika puasa itu kumulai dg sahur set.6 pagi dan berbuka ketika adzan dhuhur,lalu puasa lagi hingga magrib. Ketika langgar depan rumahku masih terbuat dari anyaman bambu,dan ditemukan ular piton besar dibelakang kebunnya. Ketika ditengah sholat terawih aku tidur diatas sajadaharna merah. Ketika menunggu magrib akan sangat menyenangkan karena ayahku akan memboncengku entah dengan sepeda ontel atau sepeda motor di depan lalu berkeliling desa. Ketika ramadhan terasa amat menyenangkan.

Terimakasih ramadhan untuk masa dimana aku belajar tentang apa yang indahnya haqiqi. Dimana puasa utuh seharian yang awalnya berat jadi biasa saja. Ketika setiap sore di akhir ramadhan aku dan ibuku akan membuat jus mangga untuk tetangga sekitar. Ketika aku ikut bermain adonan kue-kue lebaran milik ibuku. Ketika sholat terawih selalu membuatku semangat karena satu tandatangan dari sang imam membuatku dan teman-temanku bangga. Ketika kegiatan ramadhan di sekolah membuat kami terasa greget ketemu ramadhan. Ketika ramadhan disambut penuh bahagia.

Terimakasih ramadhan untuk masa-masa dimana aku mulai dewasa. Ketika bulan puasa kuhabiskan bukan dirumah. Ketika sekolah terasa berbeda karena tak perlu memakai seragam,tapi busana muslim.  Ketika pondok ramadhan di sekolah membuatku kerepotan selama hampir sebulan. Ketika setiap sorenya aku dan teman sekosku akan berjalan sampai ke taman kota untuk mencari tajil di pasar ramadhan. Ketika malamnya aku akan terawih di masjid sma yang kala itu masih setengah jadi. Ketika puasa terasa biasa saja, tapi ramadhan selalu terasa berbeda.

Terimakasih ramadhan untuk perpindahan hidup yang ajaib 3tahun lalu. Ketika malam pertama ramadhan namaku tertera sebagai salah satu mahasiswa di ITS. Ketika ijin kata “ya,pasti ketrima” dari alm.ayahku jadi kenyataan dan mimpi-mimpi itu mungkin memang benar hasil istikharah. Ketika ramadhan setelah itu kunanti karena menjadi tanda libur semester. Ketika ramadhan menjadi awal aku berani mengambil keputusan baik meski melawan ibuku. Ketika ramadhan menjadi awal perubahan meski tak selalu mudah.

Aku sudah dewasa sekarang, puasa dan segala intrik khas ramadhan jadi terasa biasa bahkan kadang membosankan. Aku selalu berharap bahwa ketika datang ramadhan aku menyambut ia dengan kebahagiaan yang tulus, dengan semangat seribu kali lebih banyak untuk beribadah, tapi nyatanya tak ada yang signifikan. Ketika ramadhan datang apa yang kukerjakan seharian tak beda jauh dengan hari biasa, baik yang wajib atau sunahnya. Ketika ramadhan yang seolah kurindukan nyatanya kadang hatiku tak sepenuhnya ikhlas. Dan ketika ia akan pergi mungkin hati ini lebih bahagia menyiapkan hari raya ketimbang mempertahankan ibadah ala ramadhan.

Ramadhan baru saja berakhir, akan ada orang-orang yang bahagia seiring kepergianmu karena menyambut lebaran, akan ada orang-orang yang sedih karena kepergianmu menyisakan penyesalan dalam diri mereka.Terimakasih ramadhan untuk membuatku menemukan berjuta cerita. Semoga banyak dari mereka yang akan merindukanmu, orang-orang yang berkata, ” Ih,kangen ramadhan”.

Rumah, 6 Juli 2016

Advertisements