​Sebuah percakapan ini berawal dari 6 orang korban kebosanan kerja praktik yang memutuskan untuk bersantai sejenak di cafe kecil dengan menu ringan. Pertanyaan dan bahan obrolan dimulai dari satu hal standar tentang pilihan menu dan dengan mudahnya beralih ke berbagai topik lain,salah satunya keluarga. 2 orang temanku adalah kakak cowok,sedang aku dan seorang teman adalah si adik cewek. Pembicaraan dari dua sudut pandang saudara inilah yang kemudian sedikit mengungkap rahasia perasaan antara keduanya.
“Aku mending dibilang adikku jahat ” ya seorang kakak cowok mungkin cenderung terlihat gagah dan keren didepan adiknya. Tapi sebenernya para kakak cowok ini adalah orang biasa yang seringkali disebut bajingan oleh teman2nya. Orang yg ya sama buruknya sama cupunya dengan teman2 pria adek ceweknya tapi terlihat baik dan gagah dirumah.
“Aku bayangin kalo adekku gede trus kenal yang aneh-aneh”
“Trus kalo ntar adekku bawa cowok aku kayak harus nge “fit and proper test” gitu”
“Iya ya ntar kalo aku mau nikah harus restu dari kakak cowok dan mungkin itu bakal lebih susah daripada ijin ke ibu”
“Tapi kakak cowok ke adek cewek itu nggk sedeket kalo kakak cewek ke adek cowok”

“Kalo kakak cewek tu kayak lebih ngayomi,enak curhat2 gt”
“Kalian tapi akrab sama adek waktu kecil aja gak sih? Waktu udh gede malu gt ya”
Bagaimana ya perasaan mereka?
Kakak ku? Ya mungkin aku dulu terlalu menyayanginya. Sekarang kami sudah dewasa,tumbuh dengan cara yang berbeda, dam prinsip mindset kami pun berbeda, bahkan kedewasaan kami mungkin malah jadi terbalik.
Ya mungkin kakak cowok selalu menganggap adek ceweknya sebagai gadis kecilnya, cewek yg harus dia lindungi padahal ia pun tas sekuat itu untuk menjaganya.padahal bisa jadi adek ceweknya jauh lebih dewasa dari dia. 
Dari adek cewek yang rindu akan sosok kakak cowoknya yang dulu.
Rabu,17 Agt 2016

Advertisements