Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Month

October 2016

Daun i

​Aku siang ini duduk di selasar panjang menghubung ruang ruang kelas di kampus. Seperti biasanya beberapa temanku juga ada disini walau seminggu ini tak seramai biasanya.  Aku duduk beralas lantai keramik kekuningan. Sudah setengah jam lebih aku tak menulis apa-apa di lembar kertas tugasku yang harus kukumpulkan satu jam lagi. Lebih sering aku dan 4 temanku lain saling melempar candaan menertawakan diri sendiri. Membuat lelucon tak penting dan usil meledek satu sama lain. Bedanya aku dengan mereka adalah mereka masih menyentuh tugasnya masing masing sedangkan aku tidak. Sekarang aku hanya memegang bolpoin dan menatap kosong layar laptop didepanku. 5 menit terakhir sudah berlalu sejak kami mulai saling diam, berkedok karena fokus dengan tugas masing-masing. Tapi aku tidak,aku masih saja membiarkan lembar tugasku kosong.
Aku malah melempar wajahku ke arah berlawanan dari teman-temanku, menatap sisi kiriku, melihat taman baru di depanku. Aku melihat serpihan bunga kecil yang berguguran bahkan sebelum mereka sempat mekar berbunga. Beberapa sudah hampir mekar,tapi angin menerbangkan mereka dan menjatuhkan mereka ke tanah, pun daun-daun, yang jatuh dari pohonnya.Seolah ini semua terlihat seperti musim gugur di negara 4 musim.

Itu semua membuatku bertanya pada diriku sendiri, mengapa pohon-pohon ini setiap harinya selalu menjatuhkan satu-dua daunnya,mematikan daun itu. Padahal sudah sulit tentu baginya menumbuhkan sehelai daun demi membuatnya bertahan hidup. Kenapa tidak ia menjaga daunnya tetap sama sampai pohon itu mati? 
Seorang pujangga berkata bahwa daun yang jatuh tak pernah membenci angin, ya tentu saja ia tak membencinya karena memang ia tak berteman dengannya, ia sudah terbiasa menjadi musuh angin. Tapi bagaimana dengan ranting dan pohon, tempatnya hidup selama ini,tempat yang menjadi rumahnya. Yang suatu saat rela membiarkannya pergi, membuatnya jatuh terhempas dan mati. Bukankah itu jauh lebih menyebalkan? Tapi mungkin memang dedaunan itu selalu baik hatinya tak pernah membenci siapapun, ia tahu bahwa seluruh hidupnya karena Yang Menciptakannya, dan Yang Menciptakannya selalu tahu apa yang terbaik untuknya meski ia harus dijatuhkan.
Surabaya, 28 oktober 2016

Surat untuk Pejuang Dakwah

Sebuah tulisan ketika berada dalam dunia dakwah di kampus. Sebuah cerita yang berawal dari kegelisahan hati sendiri. Sebuah kata kata yang saya harapkan mampu menggugah hati hati yang lain untuk merasakan hal yang sama dan terus berbuat baik.

Surat untuk Pejuang Dakwah

Surat untuk Pejuang Dakwah 2 

Semoga bisa berlanjut  ke tulisan ke3,4 dst, lalu menjadi manfaat bagi pembacanya.

Pertemuan

​Aku tersentak kaget bangun dari tidurku di tengah malam, amat berisik, menyebalkan. Ah, ternyata hujan akhirnya turun juga setelah sekian lama terik matahari di kota ini amat menyiksa. Setidaknya hujan ini berhasil menghiburku, aku bisa bangun kemudian tersenyum tipis untuk beberapa saat.

Tak seperti malam-malam sebelumnya, aku terbangun entah karena sekedar kepanasan atau karena angan pikiranku yang terbawa mimpi hingga membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak.
Sudah sebulan aku kembali ke Surabaya dan sampai sekarang apa yang amat ingin kulakukan adalah pulang. Menghilang dari rutinitas, dari tanggung jawab, dan dari berbagai tuntutan. 

Kembalinya aku ke kota ini setelah beberapa saat layaknya sebuah pertemuan denganmu. Kadang bisa menyenangkan, kadang teramat menyebalkan. Dan pertemuan itu layaknya pula hujan yang turun malam ini, datang tak pernah diduga setelah sekian lama tak turun, dan bersamaan dengan kedatangannya ada banyak rasa yang terlibat.
Kadang aku bingung bagaimana mengisi suasana menyenangkan dalam sebuah pertemuan pertama setelah sekian lama tak bersua. Kadang aku lebih memilih pergi, mencari jalan aman karena kurasa memang itu yang terbaik. Tapi kadang keadaan malah sebaliknya,pertemuan itu yg mengejarku, mengajakku memasukinya meski hanya sekedar duduk diam. 
Seringkali pertemuan dari sebuah hal yang telah lama tak ada,bisa sangat menyenangkan. Menceritakan kehidupan terbaru dan mengungkit kenangan masa lalu. 
Tapi sebuah pertemuan bisa menjadi amat buruk ketika kau selalu berbicara dalam hati agar pertemuan itu tak terjadi,tapi seketika itu waktu menjebakmu dalam keadaan yang tak kau harapkan itu. 
Tapi kau tentu tahu bahwa bahkan sehelai daun pun tak akan jatuh tanpa ijin Allah, apalagi sebuah pertemuan,tak mungkin hanya ada kebetulan di dalamnya. 

Meskipun begitu, apa kamu tahu apa yang paling kubenci dari sebuah pertemuan? Bahwa aku selalu melibatkan hati didalamnya.
Surabaya, 24 September 2016

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.