​Aku siang ini duduk di selasar panjang menghubung ruang ruang kelas di kampus. Seperti biasanya beberapa temanku juga ada disini walau seminggu ini tak seramai biasanya.  Aku duduk beralas lantai keramik kekuningan. Sudah setengah jam lebih aku tak menulis apa-apa di lembar kertas tugasku yang harus kukumpulkan satu jam lagi. Lebih sering aku dan 4 temanku lain saling melempar candaan menertawakan diri sendiri. Membuat lelucon tak penting dan usil meledek satu sama lain. Bedanya aku dengan mereka adalah mereka masih menyentuh tugasnya masing masing sedangkan aku tidak. Sekarang aku hanya memegang bolpoin dan menatap kosong layar laptop didepanku. 5 menit terakhir sudah berlalu sejak kami mulai saling diam, berkedok karena fokus dengan tugas masing-masing. Tapi aku tidak,aku masih saja membiarkan lembar tugasku kosong.
Aku malah melempar wajahku ke arah berlawanan dari teman-temanku, menatap sisi kiriku, melihat taman baru di depanku. Aku melihat serpihan bunga kecil yang berguguran bahkan sebelum mereka sempat mekar berbunga. Beberapa sudah hampir mekar,tapi angin menerbangkan mereka dan menjatuhkan mereka ke tanah, pun daun-daun, yang jatuh dari pohonnya.Seolah ini semua terlihat seperti musim gugur di negara 4 musim.

Itu semua membuatku bertanya pada diriku sendiri, mengapa pohon-pohon ini setiap harinya selalu menjatuhkan satu-dua daunnya,mematikan daun itu. Padahal sudah sulit tentu baginya menumbuhkan sehelai daun demi membuatnya bertahan hidup. Kenapa tidak ia menjaga daunnya tetap sama sampai pohon itu mati? 
Seorang pujangga berkata bahwa daun yang jatuh tak pernah membenci angin, ya tentu saja ia tak membencinya karena memang ia tak berteman dengannya, ia sudah terbiasa menjadi musuh angin. Tapi bagaimana dengan ranting dan pohon, tempatnya hidup selama ini,tempat yang menjadi rumahnya. Yang suatu saat rela membiarkannya pergi, membuatnya jatuh terhempas dan mati. Bukankah itu jauh lebih menyebalkan? Tapi mungkin memang dedaunan itu selalu baik hatinya tak pernah membenci siapapun, ia tahu bahwa seluruh hidupnya karena Yang Menciptakannya, dan Yang Menciptakannya selalu tahu apa yang terbaik untuknya meski ia harus dijatuhkan.
Surabaya, 28 oktober 2016

Advertisements