Satu dua biskuit coklat itu kumakan dengan lahapnya. Biskuit yang kubeli karena diskon di salah satu minimarket milik sebuah pesantren di dekat kampus. Mungkin sudah hampir sebulan biskuit itu ada di kamarku,hanya saja aku tak kunjung memakannya. Remah biskuit berjatuhan di lantai, sebagian mengotori kaos putihku. Kukumpulkan remah-remah biskuit itu dengan tissue,lalu kubuang ke tempat sampah, setelah melihat ada seekor semut kecil yang dengan perkasanya mengangkat sebutir remah. Juga remah yang menempel di kaosku segera kubersihkan, kutepuk-tepuk dengan telapak tangan, bisa saja para semut itu menyerangku karena mencium aroma manisku, hmm..maksudku aroma manis biskuit di kaosku.

Malam ini aku terlalu malas untuk keluar kamar kosku demi membeli makan malam. Hujan turun sedari sore tadi,tak terlalu deras memang,tapi saat seperti ini,saat hujan dan sudah terlanjur nyaman di kamar, membuatku malas keluar. Selalu,malas pergi dari kenyamanan.  Atau memang karena aku masih menikmati dentingan bulir hujan yang berjatuhan dengan bising di atap, diatas kepalaku, dan tetesan airnya yang membasahi jendela membentuk wajah-wajah lucu di imajinasiku. Atau mungkin juga karena aku mulai membenci hujan yang membuatku basah, karena aku semakin tua, semakin sibuk dengan urusan ala orang dewasa yang membuat mereka selalu merasa bahwa basah akibat kehujanan amat menyebalkan, tak seperti ketika kanak-kanak yang merasa jika hujan adalah saatnya untuk keluar, karena meski hujan kamu bisa tetap bermain,dan bahkan lebih menyenangkan. Saat kanak-kanak seperti itu sebenarnya mengajarkan kita bahwa hujan adalah masalah yang sebenarnya lebih menyenangkan jika berani untuk dilalui.
Karena takut hujan itulah kenapa aku selalu menyiapkan “toko makanan” dikamarku, menyediakan kenyamanan untuk lari dari hujan. Saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan persediaan maakanan yang ada di kamarku. Jadi malam ini aku memutuskan pilihan untuk menyantap biskuit coklat dan segelas susu coklat, bukan susu coklat panas,tapi dingin karena sedingin apapun suasana di Surabaya aku tetap merasa gerah dan es selalu bisa mendinginkan, selain badan pun pikiran dan hatiku. Coklat manis selalu menjadi jawaban untuk memperbaiki semua kesuntukan dan suasana hati yang buruk.
Lalu yang kulakukan hanya menonton film di laptop atau mencari video lucu dan menghibur di youtube,berusaha menyenangkan hati sendiri. Menertawakan apa yang kurasa lucu dari layar-layar itu, dan seperti itu pula aku berusaha menertawakan hidupku, membuat semua masalah menjadi ringan seolah bisa berlari meninggalkan masalah itu. Atau menertawakannya agar aku merasa bahwa memang akulah yang bodoh dan harus merubah kekonyolan pilihanku sendiri tanpa perlu merasa bahwa pilihanku salah. Ya,aku seperti itulah berusaha menghibur diri sendiri, dan kamu pun tahu bahwa aku selalu mudah tertawa. Padahal sejatinya semua hanyalah caraku untuk membahagiakan diriku sendiri, untuk menganggap bahwa semuanya baik-baik saja dan agar terlihat seperti itu di depanmu. Karena aku seperti remah biskuit yang berjatuhan itu, hanyalah bagian kecil dari dunia yang jauh lebih besar,seringkali menjadi tak berarti, hanya terbuang begitu saja padahal tanpa yang kecil seperti remah ini, biskuit coklat itu rasanya tak akan bisa sebesar dan seenak itu.
Surabaya, 20 Desember 2016