Sebuah lagu lawas mengiringi senjaku hari itu. “Patah tumbuh hilang berganti”, katanya. Gerimis yang tak kunjung reda malah semakin menjadi dengan kilat dan petir yang mengiringi. Mestinya saat seperti ini menjadi sangat dingin, tapi tidak sore itu bahkan hingga malamnya tak begitu kurasakan dinginnya. Malamnya hari itu terasa lebih larut, seolah tengah malam pun telah berlalu. Ada yang hilang bersama pekatnya langit malam itu, hanyut terbawa aliran air hujan yang menggenangi pinggiran jalan aspal dan lubang-lubangnya, terbawa angin yang mencoba menumbangkan pepohonan. Ia pergi dalam diam yang teramat sunyi, bahkan serangga pun tak mendengar derap langkahnya. Apa yg hilang, bukan sekedar batang berharga, bukan pula jimat pusaka, yang hilang adalah sebuah usaha kecil yang telah lama dirajut dan disimpan rapi. Tapi ia kini hanya bisa dikenang, dengan bahagia dan pahit penyesalan, dengan rindu yang ingin membuat kembali.

Untuk yang hilang, entah karena pergi atau tertinggal.

Surabaya, 23 Januari 2017