“Ih,aku iri sama kamu,” ucapmu tiba-tiba disela perbincangan di atas meja makan malam itu. Kalimat yang kamu lontarkan tanpa kuduga karena tak ada hubungannya dengan topik obrolan kita, dan kamu hanya berhenti sejenak dari perbincangan lalu ditambah hembusan nafas panjangmu yang selalu menandakan kepenatan. Aku tahu saat itu kamu tengah didera masalah, bertubi-tubi dan rumit alurnya layaknya kisah drama. Lalu segala rasa yang tak nyaman itu meledak bagai satu bom besar di akhir tahun, yang mungkin menjadi satu masalah terbesarmu tahun ini.
“Apasih? Hahahaa” jawabku selalu penuh canda. Tapi tanpa kamu sadari mendadak selera makanku hilang, aku berhenti mengunyah sesaat, lalu memaksakan diri untuk tetap makan demi terlihat bahagia di depanmu. Tanpa kamu tahu, hatiku seolah ingin menjerit, bukankah semestinya aku yang lebih layak iri padamu? 

Atau pernah lagi kamu katakan “Iya, kamu orang yang beruntung.”, lagi-lagi secara spontan sebuah celetukan itu keluar di tengah kisah kita. Lalu tidakkah kamu pikir bahwa jika aku lebih mudah menjalani hidup ini dibanding dirimu, maka aku adalah orang yang tak sebaik dirimu? Bukankah sebenernya kamu yang lebih penuh keburuntungan daripada aku? Bukankah setelahnya kemudahan datang menyertaimu? Bukankah apa yang mestinya kau cari bahkan selalu datang sendiri. Ya, aku yakin kamu lebih beruntung dariku, dalam semua hal bahkan dalam hal kecil seperti waktu. Karena aku selalu menganggap bahwa keberuntungan tidak datang begitu saja, ada hal-hal yang nampak seperti kesialan yang menjadi penyebab keberuntunganmu. Dan aku rasa bahwa kerumitan hidupmu sebenernya adalah sebuah berkah dan keberuntungan yang kamu irikan dariku, sebuah iri yang tak sepatutnya kamu mengacu padaku. Semua masalah, ketidakmudahan, atau rasa yang menyesakkan hatimu adalah sebuah perkara yang tak semua orang alami, dan aku yakin itulah yang meningkatkanmu, meninggikan derajatmu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih, kemudian disusul oleh orang-orang yang mulia, lalu oleh orang-orang yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Lihat,bahkan aku sekarang menulis ini semua tanpa henti sedari tadi, sambil menahan penat dalam dadaku, sesak rasanya oleh rasa itu, begitu membuncah, dan bahkan baru saja air mata menetes, aku menangis karena iri itu, iri akan hebatnya imanmu.
Surabaya,25 Januari 2017

Advertisements