“Kenapa sih kamu gak bersyukur aja?” Ucapmu malam itu, setelah tangisku yang hanya kamu yang tahu. Aku mengeluh padamu, mengungkap kepenatan yang membuncah. Ketika aku yang lemah hatinya, terlalu perasa pada kesulitan hati. Kamu yang kala itu sepertinya juga tengah penat, tapi kamu bertahan kamu bersabar pada keadaan. Karena kamu tahu bahwa tak ada yang lebih baik, yang bisa kamu lakukan daripada hal itu.  Kamu menegaskan “Hold on” menyuruhku untuk bertahan, karena kamu juga, bahkan mungkin kamu lebih parah dariku.
Tak lama kamu ganti yang menggungkap penat. Katamu semua sudah dipuncak, seolah kamu tak ingin bertahan lagi, ingin berlari. Tapi kamu tetap bersabar, kamu menunjukkan bahwa kamu mampu bertahan meaki seolah keadaan tak memungkinkan. Kamu memilih menyimpan cerita, merasa sekarang bukan waktu yang benar-benar tepat utk mengungkapkannya. Karena bisa saja luka itu kembali menganga dan sakitnya bisa kembali terasa karena ia belum kering sepenuhnya.
Ya kita hanyalah manusia manusia biasa, manusia yang ingin bertahan dg keadaan,manusia yang tak ingin memperburuk keadaan dengan kalimat penuh konflik yang dramatis. Kita adalah bagian dari orang-orang yang cenderung acuh dengan keadaan sekitar, memilih untuk terlihat tidak peka daripada menjadi orang yang ikut campur tanpa diminta. Namun sesungguhnya dibalik itu semua kita adalah orang paling ringan tangan, orang yang tulus dan tak bisa menolak membantu kebaikan, orang paling mudah menerima dan ikhlas, orang hebat yang bekerja dibalik layar.

“Apa yang membuat kita bisa bertahan melalui jalan yang kita lalui sekarang? Kita tengah berbicara tentang sesuatu yang tak pernah kita duga tapi terus menerus memberi kekuatan untuk mrlalui semua itu. Mungkin ada doa malam orang tua yang tak pernah kita dengar, mungkin kebaikan kita ke orang lain yang entah kapan, yang meringankan langkah kita.Coba renungi bagian mana yang belum kita syukuri” -Kurniawan Gunadi-

Surabaya, 28 Mei 2017

Advertisements