Ini hari keduaku di kota ini, setelah kurang lebih dua minggu aku pergi ke kota lain. Suhu 31°C masih sama seperti kemarin ketik baru saja aku turun dari gerbong kereta, itupun menurut aplikasi smartphone ku. Tapi anehnya, aku merasa lebih terik siang ini. Aku dan temanku baru saja keluarga dari salah satu pusar perbelanjaan, untuk sekedar membunuh waktu sekaligus mencari hawa dingin, mengesampingkan hal lain yang mungkin jauh lebih penting dari ini. Kami keluar tepat tengah hari, matahari sedang berada dipuncaknya. Hanya keluh yang pertama keluar dari mulutku saat ada dibawahnya ” panas” kataku. Wajahku seperti terbakar. Masih kaget dengan panas yang jauh berbeda ketika kemarin aku menghabiskan waktu seminggu di Magelang. Kami lantas pulang menyusuri jalanan biasa dengan sepeda motor, angin menggembus membuat terasa sedikit lebih sejuk. Aku duduk diboncengan dan seperti biasa termangu melihat sekitar, sambil memicingkan mata melawan terik  matahari. Sembari motor melaju aku melihat disampingku, di tepi jalan besar itu, ada dua anak siswi sekolah dasar baru saja keluar sekolah. Yang satu rambutnya dikuncir belakang, yang satu dibiarkan terurai dengan jepit kecil diatasnya. Mereka sama-sama membawa tas besar, lebih besar dari punggung mereka sendiri. Dua gadis itu terpisah jarak beberapa meter, oleh sebuah gang kecil. Lantas satu dari mereka melambaikan tangan memanggil kawannya untuk segera datang, yang satu lainnya berlari menghampiri. Namun ketika ia datang, si pelambai tangan malah berlari. Mereka berkejaran berlari dengan tas yang menghantam badan mereka, tertawa, bahagia, dibawah matahari yang sama.

Ditulis di boncengan motor.
Surabaya, 10 Agustus 2017, pukul 12.00

Advertisements