Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Author

faradillashiami

Di Bawah Matahari

Ini hari keduaku di kota ini, setelah kurang lebih dua minggu aku pergi ke kota lain. Suhu 31°C masih sama seperti kemarin ketik baru saja aku turun dari gerbong kereta, itupun menurut aplikasi smartphone ku. Tapi anehnya, aku merasa lebih terik siang ini. Aku dan temanku baru saja keluarga dari salah satu pusar perbelanjaan, untuk sekedar membunuh waktu sekaligus mencari hawa dingin, mengesampingkan hal lain yang mungkin jauh lebih penting dari ini. Kami keluar tepat tengah hari, matahari sedang berada dipuncaknya. Hanya keluh yang pertama keluar dari mulutku saat ada dibawahnya ” panas” kataku. Wajahku seperti terbakar. Masih kaget dengan panas yang jauh berbeda ketika kemarin aku menghabiskan waktu seminggu di Magelang. Kami lantas pulang menyusuri jalanan biasa dengan sepeda motor, angin menggembus membuat terasa sedikit lebih sejuk. Aku duduk diboncengan dan seperti biasa termangu melihat sekitar, sambil memicingkan mata melawan terik  matahari. Sembari motor melaju aku melihat disampingku, di tepi jalan besar itu, ada dua anak siswi sekolah dasar baru saja keluar sekolah. Yang satu rambutnya dikuncir belakang, yang satu dibiarkan terurai dengan jepit kecil diatasnya. Mereka sama-sama membawa tas besar, lebih besar dari punggung mereka sendiri. Dua gadis itu terpisah jarak beberapa meter, oleh sebuah gang kecil. Lantas satu dari mereka melambaikan tangan memanggil kawannya untuk segera datang, yang satu lainnya berlari menghampiri. Namun ketika ia datang, si pelambai tangan malah berlari. Mereka berkejaran berlari dengan tas yang menghantam badan mereka, tertawa, bahagia, dibawah matahari yang sama.

Ditulis di boncengan motor.
Surabaya, 10 Agustus 2017, pukul 12.00

Advertisements

Kenapa Langit

Kenapa kamu banyak memotret langit akhir-akhir ini?” tanyaku.

“Lagi seneng jalan trus suka liat keatas. Aku suka langit, karena dia selalu memberikan pemandangan yang berbeda tiap aku melihatnya”, jawabmu.

Setelah ia berkata seperti itu aku seketika melihat langit, memandangnya lebih lama. Ia benar, langit selalu berubah tiap aku melihatnya meski ditempat yang sama. Langit selalu memberikan kejutan kecil saat kita menemuinya, karena ia sudah berubah tak lagi sama dengan sebelumnya.

Tapi itu mungkin karena semua bergerak amat cepat tapi kita tidak menyadarinya, seperti setiap menit diatas kepala kita mungkin ada sebuah pesawat yang berlalu tanpa kita sadari. Atau lebih tinggi lagi, dilangit yang tak bisa kita jangkau, jutaan bintang tengah beredar dan beberapa diantaranya beradu membuat kehancuran.

Bisa jadi juga kita yang tak bergerak, sehingga melewatkan banyak hal. Bahkan hal yang besar dan tengah berjalan lambat di depan kita. Pernahkah suatu hari itu kamu amat lelah, bangun sesaat di pagi hari melihat sinar matahari masuk disela-sela jendela kamarmu, lalu tanpa sadar kamu tertidur dan bangun ketika tiba-tiba matahari yang kamu baru saja lihat sudah berada di sisi lain dan bersiap pergi lagi.
Langit selalu memberikan pemandangan berbeda tiap aku melihatnya. Seperti siang beberapa waktu lalu, ketika aku merasakan sungguh panasnya udara hari itu. Matahari amat terik, langit bersih dari awan. Aku pergi sejenak ke suatu ruang di kampus, mengeluarkan isi tas ranselku, lalu kembali memasukkan beberapa benda itu tak lama setelahnya. Aku keluar ruangan, menatap langit, ia sudah menunjukkan wajahnya yang lain. Langit mendung, hujan gerimis.

Surabaya, 12 Mei 2017

Syukur

“Kenapa sih kamu gak bersyukur aja?” Ucapmu malam itu, setelah tangisku yang hanya kamu yang tahu. Aku mengeluh padamu, mengungkap kepenatan yang membuncah. Ketika aku yang lemah hatinya, terlalu perasa pada kesulitan hati. Kamu yang kala itu sepertinya juga tengah penat, tapi kamu bertahan kamu bersabar pada keadaan. Karena kamu tahu bahwa tak ada yang lebih baik, yang bisa kamu lakukan daripada hal itu.  Kamu menegaskan “Hold on” menyuruhku untuk bertahan, karena kamu juga, bahkan mungkin kamu lebih parah dariku.
Tak lama kamu ganti yang menggungkap penat. Katamu semua sudah dipuncak, seolah kamu tak ingin bertahan lagi, ingin berlari. Tapi kamu tetap bersabar, kamu menunjukkan bahwa kamu mampu bertahan meaki seolah keadaan tak memungkinkan. Kamu memilih menyimpan cerita, merasa sekarang bukan waktu yang benar-benar tepat utk mengungkapkannya. Karena bisa saja luka itu kembali menganga dan sakitnya bisa kembali terasa karena ia belum kering sepenuhnya.
Ya kita hanyalah manusia manusia biasa, manusia yang ingin bertahan dg keadaan,manusia yang tak ingin memperburuk keadaan dengan kalimat penuh konflik yang dramatis. Kita adalah bagian dari orang-orang yang cenderung acuh dengan keadaan sekitar, memilih untuk terlihat tidak peka daripada menjadi orang yang ikut campur tanpa diminta. Namun sesungguhnya dibalik itu semua kita adalah orang paling ringan tangan, orang yang tulus dan tak bisa menolak membantu kebaikan, orang paling mudah menerima dan ikhlas, orang hebat yang bekerja dibalik layar.

“Apa yang membuat kita bisa bertahan melalui jalan yang kita lalui sekarang? Kita tengah berbicara tentang sesuatu yang tak pernah kita duga tapi terus menerus memberi kekuatan untuk mrlalui semua itu. Mungkin ada doa malam orang tua yang tak pernah kita dengar, mungkin kebaikan kita ke orang lain yang entah kapan, yang meringankan langkah kita.Coba renungi bagian mana yang belum kita syukuri” -Kurniawan Gunadi-

Surabaya, 28 Mei 2017

Iri

“Ih,aku iri sama kamu,” ucapmu tiba-tiba disela perbincangan di atas meja makan malam itu. Kalimat yang kamu lontarkan tanpa kuduga karena tak ada hubungannya dengan topik obrolan kita, dan kamu hanya berhenti sejenak dari perbincangan lalu ditambah hembusan nafas panjangmu yang selalu menandakan kepenatan. Aku tahu saat itu kamu tengah didera masalah, bertubi-tubi dan rumit alurnya layaknya kisah drama. Lalu segala rasa yang tak nyaman itu meledak bagai satu bom besar di akhir tahun, yang mungkin menjadi satu masalah terbesarmu tahun ini.
“Apasih? Hahahaa” jawabku selalu penuh canda. Tapi tanpa kamu sadari mendadak selera makanku hilang, aku berhenti mengunyah sesaat, lalu memaksakan diri untuk tetap makan demi terlihat bahagia di depanmu. Tanpa kamu tahu, hatiku seolah ingin menjerit, bukankah semestinya aku yang lebih layak iri padamu? 

Atau pernah lagi kamu katakan “Iya, kamu orang yang beruntung.”, lagi-lagi secara spontan sebuah celetukan itu keluar di tengah kisah kita. Lalu tidakkah kamu pikir bahwa jika aku lebih mudah menjalani hidup ini dibanding dirimu, maka aku adalah orang yang tak sebaik dirimu? Bukankah sebenernya kamu yang lebih penuh keburuntungan daripada aku? Bukankah setelahnya kemudahan datang menyertaimu? Bukankah apa yang mestinya kau cari bahkan selalu datang sendiri. Ya, aku yakin kamu lebih beruntung dariku, dalam semua hal bahkan dalam hal kecil seperti waktu. Karena aku selalu menganggap bahwa keberuntungan tidak datang begitu saja, ada hal-hal yang nampak seperti kesialan yang menjadi penyebab keberuntunganmu. Dan aku rasa bahwa kerumitan hidupmu sebenernya adalah sebuah berkah dan keberuntungan yang kamu irikan dariku, sebuah iri yang tak sepatutnya kamu mengacu padaku. Semua masalah, ketidakmudahan, atau rasa yang menyesakkan hatimu adalah sebuah perkara yang tak semua orang alami, dan aku yakin itulah yang meningkatkanmu, meninggikan derajatmu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih, kemudian disusul oleh orang-orang yang mulia, lalu oleh orang-orang yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Lihat,bahkan aku sekarang menulis ini semua tanpa henti sedari tadi, sambil menahan penat dalam dadaku, sesak rasanya oleh rasa itu, begitu membuncah, dan bahkan baru saja air mata menetes, aku menangis karena iri itu, iri akan hebatnya imanmu.
Surabaya,25 Januari 2017

Pernah Gak Kamu Tiba-Tiba Sedih?

Ini tentang kepenatan hati. Rasa penat yang entah kenapa alasannya,  darimana asalnya, dan siapa penyebabnya.

Embung ITB Jatinangor (by: Deliana PS)
Aku sendiri bingung. Sekitar seminggu ini rasanya suasana hatiku tengah tak baik. Tapi anehnya bahkan aku sendiri tak tau kenapa,mungkin karena terlalu banyak. Atau bisa jadi karena sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk berkeluh kesah tapi aku ingin menyalahkan keadaan dan mencari pembenaran atas diri sendiri. Kepenatan ini berujung pada aku yang pulang kampung selama 3 hari dalam seminggu, tapi tak melakukan apa-apa. Berada di rumah memang sedikit mengobati. Tapi ya,aku harus kembali lagi ke kota ini. Tempat yg mungkin adalah asal dari semua perasaan buruk ini. Aneh memang, aku sendiri tak mengerti. 

Kebahagianku di negeri rantau ini hanya sesaat. Hanya ketika aku ada urusan diluar, bahagia sesaat, lalu kembali berpura bahagia. Sungguh munafik rasanya. Tapi aku sendiri merasa menunjukkan kesedihan dan segala perasaan buruk itu tak baik. Bahkan biasanya ketika musibah terang-terangan datang menimpa, aku menceritakannya pada temanku dengan tertawa. Tapi hanya sedikit yang mengerti mana bahagiaku sesungguhnya.

Sesekali kepenatan ini pun kubagi dengan temanku yang memahami tawaku itu. Dia juga mengalami hal yang sama akhir-akhir ini. Katanya, “Pernah gak sih kamu tiba-tiba ngerasa sedih?” Kami memang saling menyemangati tapi nyatanya juga kami kembali saling mengeluh ketika bertemu realita. Lalu berandai akan mimpi-mimpi lama itu,dan semua perandaian yang tak bisa kami wujudkan. Memang semua angan kami akan indah jika nyata adanya, salah satunya, “Andai kita ditempat yang sama,mungkin aku tak akan sebosan ini.” Mungkin kami akan berboncengan untuk sekedar berkeliling kota. Mencoba menu makan baru yang aneh dan penuh spontan. Duduk di suatu tempat hanya untuk membicarakan ketidakpentingan. Tapi semua hanya sebatas angan.

Sudahlah, mungkin semua ini hanya wujud kelemahan kami. Kelemahan seorang manusia yang terlalu ingin nyaman, seorang yang kurang bisa menekan dirinya sendiri. Seorang yg bahkan tak bisa tegas pada dirinya sendiri. Lalu mencari pelarian dengan pulang. Padahal lari pulang tak pernah bisa membuatnya melewati apa yang ada di depannya.

Setelah perbincangan yang selalu terulang dengan orang yang sama.

Tulisan yang jadi awal 30 days writing challenge,tapi berakhir di hari ke 10.

Surabaya,15 Maret 2017

Bersama yang Hilang

Sebuah lagu lawas mengiringi senjaku hari itu. “Patah tumbuh hilang berganti”, katanya. Gerimis yang tak kunjung reda malah semakin menjadi dengan kilat dan petir yang mengiringi. Mestinya saat seperti ini menjadi sangat dingin, tapi tidak sore itu bahkan hingga malamnya tak begitu kurasakan dinginnya. Malamnya hari itu terasa lebih larut, seolah tengah malam pun telah berlalu. Ada yang hilang bersama pekatnya langit malam itu, hanyut terbawa aliran air hujan yang menggenangi pinggiran jalan aspal dan lubang-lubangnya, terbawa angin yang mencoba menumbangkan pepohonan. Ia pergi dalam diam yang teramat sunyi, bahkan serangga pun tak mendengar derap langkahnya. Apa yg hilang, bukan sekedar batang berharga, bukan pula jimat pusaka, yang hilang adalah sebuah usaha kecil yang telah lama dirajut dan disimpan rapi. Tapi ia kini hanya bisa dikenang, dengan bahagia dan pahit penyesalan, dengan rindu yang ingin membuat kembali.

Untuk yang hilang, entah karena pergi atau tertinggal.

Surabaya, 23 Januari 2017

Jatuh Lagi di Jalan Baru

Jalan disini bukanlah jalan yang biasa kulalui, bahkan lebih tepatnya belum pernah. Udara siang dan malamnya memang masih terasa sama, tapi tempatnya tak sama, pun suasana dan cara-cara hidupnya. Aku tengah berada di tanah yang pertama kali kuinjak, dengan banyak manusia bersamaku, membuat perjalanan ini luar biasa ramainya. Dimanapun kami berhenti akan ada keriuhan sekejap, hening sesaat lalu ramai lagi, tapi kadang masih saja bagiku rasanya sepi.
Mungkin karena sejauh apapun perjalanan adalah hati yang menentukan kenyamanannya. Dari awal aku sudah tak menaruh ekspektasi besar akan kebahagiaan dalam perjalanan ini karena aku tak ingin kecewa, dan ingin bahagia hanya dengan kenangannya saja. Aku mempersiapkan semua sebaik mungkin, termasuk hati ini, agar jauhnya tak semakin berjarak, dan dekatnya bisa kian mesra. Lagi pula dalam sebuah perjalanan akan terbongkar segala sifat asli mereka yang belum ku ketahui dan mungkin itu akan sangat menyebalkan dan mengganggu mood ku seharian penuh. Aku juga tak banyak berteman akrab dengan mereka, meski sebagian besar dari mereka selalu melepas tawa denganku. Ya,tapi aku sadar bahwa akrabnya hati tak bisa melalui tawa tapi malah melalui tangis, dan hanya satu dua yang kudengar tangisnya.

Mungkin pula karena aku ingin menemukan seorang yang bisa meraih tanganku untuk sekedar berkeliling kota, meski hanya berjalan kaki dengan uang seadanya. Aku ingin bersamamu malam ini, menyusuri waktu menghabiskan tawa. Tapi sampai sekarang akupun tak tahu siapa kamu,dimana kamu. Aku berharap bahwa siapapun kamu, kamu bisa disini bersamaku, hanya aku dan kamu. Aku berharap jalan-jalan ini tak begitu ramai oleh teman-temanku, bahkan pun oleh ramai penduduk sini yang kerap berlalu lalang. Atau jika saja kau tak meraih tanganku, mungkin cukup hanya melihat punggungmu, berjalan selangkah didepanku dan menunjukkan jalannya. Aku mungkin akan melemparimu dengan sedikit guyonan ringan, dan aku berharap kau tertawa. Pun bila kau hanya tersenyum begitupun tak apa asal itu adalah sama sama bahagia yang kita rasakan. Dan aku masih bertanya-tanya, kira-kira apa yang kamu pikirkan tentang malam ini, tentang perjalanan ini dan tentangku. Ah,aku ini terlalu banyak bertanya dan berharap sendiri, lalu terlalu takut untuk menghadapi, terlalu takut untuk jatuh lagi di jalanan yang baru ini.

Johor,31 Januari 2017

Rindu Jatuh Cinta

Aku yang tengah rindu pada jatuh cinta. Pada rasa yang teramat menyenangkan, rasa yang seolah membuatku berada di tengah hamparan  taman hijau dan dikelilingi bunga berwarna-warni, rasa yang terasa nyaman dan aman seolah mendekap hangat tubuhku dan berkata, “aku akan baik-baik saja”, kemudian menggelitik perutku membuatku terus ingin tertawa. Mungkin aku memang rindu pada jatuh cinta, karena aku telah lama tak merasakannya. Jatuh cintaku kuakhiri dengan sendirinya bahkan sebelum sempat benar-benar memulai cintanya. Karena cintaku rasanya harus kujaga. Dan aku kini telah dewasa, aku ingin jatuh cinta. Merasakan cinta yang sebenarnya. Bukan cinta yang kubuat sendiri dan dalam waktu yg hanya sementara. Aaah, aku benar-benar rindu jatuh cinta. Tapi pada siapa? Pada seseorang yang bahkan belum ku kenal, atau pada seseorang yang sudah kukenal begitu dalam? Aku tak tau kapan aku akan jatuh cinta. Cinta yg sebenarnya, cinta yang bukan hanya prasangka. Tapi akankah aku berani memulainya? Memulai sebuah cinta?
Surabaya, 2 Januari 2017

Hujan dan Kamu (Remah-Remah)

Satu dua biskuit coklat itu kumakan dengan lahapnya. Biskuit yang kubeli karena diskon di salah satu minimarket milik sebuah pesantren di dekat kampus. Mungkin sudah hampir sebulan biskuit itu ada di kamarku,hanya saja aku tak kunjung memakannya. Remah biskuit berjatuhan di lantai, sebagian mengotori kaos putihku. Kukumpulkan remah-remah biskuit itu dengan tissue,lalu kubuang ke tempat sampah, setelah melihat ada seekor semut kecil yang dengan perkasanya mengangkat sebutir remah. Juga remah yang menempel di kaosku segera kubersihkan, kutepuk-tepuk dengan telapak tangan, bisa saja para semut itu menyerangku karena mencium aroma manisku, hmm..maksudku aroma manis biskuit di kaosku.

Malam ini aku terlalu malas untuk keluar kamar kosku demi membeli makan malam. Hujan turun sedari sore tadi,tak terlalu deras memang,tapi saat seperti ini,saat hujan dan sudah terlanjur nyaman di kamar, membuatku malas keluar. Selalu,malas pergi dari kenyamanan.  Atau memang karena aku masih menikmati dentingan bulir hujan yang berjatuhan dengan bising di atap, diatas kepalaku, dan tetesan airnya yang membasahi jendela membentuk wajah-wajah lucu di imajinasiku. Atau mungkin juga karena aku mulai membenci hujan yang membuatku basah, karena aku semakin tua, semakin sibuk dengan urusan ala orang dewasa yang membuat mereka selalu merasa bahwa basah akibat kehujanan amat menyebalkan, tak seperti ketika kanak-kanak yang merasa jika hujan adalah saatnya untuk keluar, karena meski hujan kamu bisa tetap bermain,dan bahkan lebih menyenangkan. Saat kanak-kanak seperti itu sebenarnya mengajarkan kita bahwa hujan adalah masalah yang sebenarnya lebih menyenangkan jika berani untuk dilalui.
Karena takut hujan itulah kenapa aku selalu menyiapkan “toko makanan” dikamarku, menyediakan kenyamanan untuk lari dari hujan. Saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan persediaan maakanan yang ada di kamarku. Jadi malam ini aku memutuskan pilihan untuk menyantap biskuit coklat dan segelas susu coklat, bukan susu coklat panas,tapi dingin karena sedingin apapun suasana di Surabaya aku tetap merasa gerah dan es selalu bisa mendinginkan, selain badan pun pikiran dan hatiku. Coklat manis selalu menjadi jawaban untuk memperbaiki semua kesuntukan dan suasana hati yang buruk.
Lalu yang kulakukan hanya menonton film di laptop atau mencari video lucu dan menghibur di youtube,berusaha menyenangkan hati sendiri. Menertawakan apa yang kurasa lucu dari layar-layar itu, dan seperti itu pula aku berusaha menertawakan hidupku, membuat semua masalah menjadi ringan seolah bisa berlari meninggalkan masalah itu. Atau menertawakannya agar aku merasa bahwa memang akulah yang bodoh dan harus merubah kekonyolan pilihanku sendiri tanpa perlu merasa bahwa pilihanku salah. Ya,aku seperti itulah berusaha menghibur diri sendiri, dan kamu pun tahu bahwa aku selalu mudah tertawa. Padahal sejatinya semua hanyalah caraku untuk membahagiakan diriku sendiri, untuk menganggap bahwa semuanya baik-baik saja dan agar terlihat seperti itu di depanmu. Karena aku seperti remah biskuit yang berjatuhan itu, hanyalah bagian kecil dari dunia yang jauh lebih besar,seringkali menjadi tak berarti, hanya terbuang begitu saja padahal tanpa yang kecil seperti remah ini, biskuit coklat itu rasanya tak akan bisa sebesar dan seenak itu.
Surabaya, 20 Desember 2016

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

DESEMBER

Desember bagai peluru; kadang bising, kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.