Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Jatuh Lagi di Jalan Baru

Jalan disini bukanlah jalan yang biasa kulalui, bahkan lebih tepatnya belum pernah. Udara siang dan malamnya memang masih terasa sama, tapi tempatnya tak sama, pun suasana dan cara-cara hidupnya. Aku tengah berada di tanah yang pertama kali kuinjak, dengan banyak manusia bersamaku, membuat perjalanan ini luar biasa ramainya. Dimanapun kami berhenti akan ada keriuhan sekejap, hening sesaat lalu ramai lagi, tapi kadang masih saja bagiku rasanya sepi.
Mungkin karena sejauh apapun perjalanan adalah hati yang menentukan kenyamanannya. Dari awal aku sudah tak menaruh ekspektasi besar akan kebahagiaan dalam perjalanan ini karena aku tak ingin kecewa, dan ingin bahagia hanya dengan kenangannya saja. Aku mempersiapkan semua sebaik mungkin, termasuk hati ini, agar jauhnya tak semakin berjarak, dan dekatnya bisa kian mesra. Lagi pula dalam sebuah perjalanan akan terbongkar segala sifat asli mereka yang belum ku ketahui dan mungkin itu akan sangat menyebalkan dan mengganggu mood ku seharian penuh. Aku juga tak banyak berteman akrab dengan mereka, meski sebagian besar dari mereka selalu melepas tawa denganku. Ya,tapi aku sadar bahwa akrabnya hati tak bisa melalui tawa tapi malah melalui tangis, dan hanya satu dua yang kudengar tangisnya.

Mungkin pula karena aku ingin menemukan seorang yang bisa meraih tanganku untuk sekedar berkeliling kota, meski hanya berjalan kaki dengan uang seadanya. Aku ingin bersamamu malam ini, menyusuri waktu menghabiskan tawa. Tapi sampai sekarang akupun tak tahu siapa kamu,dimana kamu. Aku berharap bahwa siapapun kamu, kamu bisa disini bersamaku, hanya aku dan kamu. Aku berharap jalan-jalan ini tak begitu ramai oleh teman-temanku, bahkan pun oleh ramai penduduk sini yang kerap berlalu lalang. Atau jika saja kau tak meraih tanganku, mungkin cukup hanya melihat punggungmu, berjalan selangkah didepanku dan menunjukkan jalannya. Aku mungkin akan melemparimu dengan sedikit guyonan ringan, dan aku berharap kau tertawa. Pun bila kau hanya tersenyum begitupun tak apa asal itu adalah sama sama bahagia yang kita rasakan. Dan aku masih bertanya-tanya, kira-kira apa yang kamu pikirkan tentang malam ini, tentang perjalanan ini dan tentangku. Ah,aku ini terlalu banyak bertanya dan berharap sendiri, lalu terlalu takut untuk menghadapi, terlalu takut untuk jatuh lagi di jalanan yang baru ini.

Johor,31 Januari 2017

Advertisements

Rindu Jatuh Cinta

Aku yang tengah rindu pada jatuh cinta. Pada rasa yang teramat menyenangkan, rasa yang seolah membuatku berada di tengah hamparan  taman hijau dan dikelilingi bunga berwarna-warni, rasa yang terasa nyaman dan aman seolah mendekap hangat tubuhku dan berkata, “aku akan baik-baik saja”, kemudian menggelitik perutku membuatku terus ingin tertawa. Mungkin aku memang rindu pada jatuh cinta, karena aku telah lama tak merasakannya. Jatuh cintaku kuakhiri dengan sendirinya bahkan sebelum sempat benar-benar memulai cintanya. Karena cintaku rasanya harus kujaga. Dan aku kini telah dewasa, aku ingin jatuh cinta. Merasakan cinta yang sebenarnya. Bukan cinta yang kubuat sendiri dan dalam waktu yg hanya sementara. Aaah, aku benar-benar rindu jatuh cinta. Tapi pada siapa? Pada seseorang yang bahkan belum ku kenal, atau pada seseorang yang sudah kukenal begitu dalam? Aku tak tau kapan aku akan jatuh cinta. Cinta yg sebenarnya, cinta yang bukan hanya prasangka. Tapi akankah aku berani memulainya? Memulai sebuah cinta?
Surabaya, 2 Januari 2017

Hujan dan Kamu (Remah-Remah)

Satu dua biskuit coklat itu kumakan dengan lahapnya. Biskuit yang kubeli karena diskon di salah satu minimarket milik sebuah pesantren di dekat kampus. Mungkin sudah hampir sebulan biskuit itu ada di kamarku,hanya saja aku tak kunjung memakannya. Remah biskuit berjatuhan di lantai, sebagian mengotori kaos putihku. Kukumpulkan remah-remah biskuit itu dengan tissue,lalu kubuang ke tempat sampah, setelah melihat ada seekor semut kecil yang dengan perkasanya mengangkat sebutir remah. Juga remah yang menempel di kaosku segera kubersihkan, kutepuk-tepuk dengan telapak tangan, bisa saja para semut itu menyerangku karena mencium aroma manisku, hmm..maksudku aroma manis biskuit di kaosku.

Malam ini aku terlalu malas untuk keluar kamar kosku demi membeli makan malam. Hujan turun sedari sore tadi,tak terlalu deras memang,tapi saat seperti ini,saat hujan dan sudah terlanjur nyaman di kamar, membuatku malas keluar. Selalu,malas pergi dari kenyamanan.  Atau memang karena aku masih menikmati dentingan bulir hujan yang berjatuhan dengan bising di atap, diatas kepalaku, dan tetesan airnya yang membasahi jendela membentuk wajah-wajah lucu di imajinasiku. Atau mungkin juga karena aku mulai membenci hujan yang membuatku basah, karena aku semakin tua, semakin sibuk dengan urusan ala orang dewasa yang membuat mereka selalu merasa bahwa basah akibat kehujanan amat menyebalkan, tak seperti ketika kanak-kanak yang merasa jika hujan adalah saatnya untuk keluar, karena meski hujan kamu bisa tetap bermain,dan bahkan lebih menyenangkan. Saat kanak-kanak seperti itu sebenarnya mengajarkan kita bahwa hujan adalah masalah yang sebenarnya lebih menyenangkan jika berani untuk dilalui.
Karena takut hujan itulah kenapa aku selalu menyiapkan “toko makanan” dikamarku, menyediakan kenyamanan untuk lari dari hujan. Saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan persediaan maakanan yang ada di kamarku. Jadi malam ini aku memutuskan pilihan untuk menyantap biskuit coklat dan segelas susu coklat, bukan susu coklat panas,tapi dingin karena sedingin apapun suasana di Surabaya aku tetap merasa gerah dan es selalu bisa mendinginkan, selain badan pun pikiran dan hatiku. Coklat manis selalu menjadi jawaban untuk memperbaiki semua kesuntukan dan suasana hati yang buruk.
Lalu yang kulakukan hanya menonton film di laptop atau mencari video lucu dan menghibur di youtube,berusaha menyenangkan hati sendiri. Menertawakan apa yang kurasa lucu dari layar-layar itu, dan seperti itu pula aku berusaha menertawakan hidupku, membuat semua masalah menjadi ringan seolah bisa berlari meninggalkan masalah itu. Atau menertawakannya agar aku merasa bahwa memang akulah yang bodoh dan harus merubah kekonyolan pilihanku sendiri tanpa perlu merasa bahwa pilihanku salah. Ya,aku seperti itulah berusaha menghibur diri sendiri, dan kamu pun tahu bahwa aku selalu mudah tertawa. Padahal sejatinya semua hanyalah caraku untuk membahagiakan diriku sendiri, untuk menganggap bahwa semuanya baik-baik saja dan agar terlihat seperti itu di depanmu. Karena aku seperti remah biskuit yang berjatuhan itu, hanyalah bagian kecil dari dunia yang jauh lebih besar,seringkali menjadi tak berarti, hanya terbuang begitu saja padahal tanpa yang kecil seperti remah ini, biskuit coklat itu rasanya tak akan bisa sebesar dan seenak itu.
Surabaya, 20 Desember 2016

Daun i

​Aku siang ini duduk di selasar panjang menghubung ruang ruang kelas di kampus. Seperti biasanya beberapa temanku juga ada disini walau seminggu ini tak seramai biasanya.  Aku duduk beralas lantai keramik kekuningan. Sudah setengah jam lebih aku tak menulis apa-apa di lembar kertas tugasku yang harus kukumpulkan satu jam lagi. Lebih sering aku dan 4 temanku lain saling melempar candaan menertawakan diri sendiri. Membuat lelucon tak penting dan usil meledek satu sama lain. Bedanya aku dengan mereka adalah mereka masih menyentuh tugasnya masing masing sedangkan aku tidak. Sekarang aku hanya memegang bolpoin dan menatap kosong layar laptop didepanku. 5 menit terakhir sudah berlalu sejak kami mulai saling diam, berkedok karena fokus dengan tugas masing-masing. Tapi aku tidak,aku masih saja membiarkan lembar tugasku kosong.
Aku malah melempar wajahku ke arah berlawanan dari teman-temanku, menatap sisi kiriku, melihat taman baru di depanku. Aku melihat serpihan bunga kecil yang berguguran bahkan sebelum mereka sempat mekar berbunga. Beberapa sudah hampir mekar,tapi angin menerbangkan mereka dan menjatuhkan mereka ke tanah, pun daun-daun, yang jatuh dari pohonnya.Seolah ini semua terlihat seperti musim gugur di negara 4 musim.

Itu semua membuatku bertanya pada diriku sendiri, mengapa pohon-pohon ini setiap harinya selalu menjatuhkan satu-dua daunnya,mematikan daun itu. Padahal sudah sulit tentu baginya menumbuhkan sehelai daun demi membuatnya bertahan hidup. Kenapa tidak ia menjaga daunnya tetap sama sampai pohon itu mati? 
Seorang pujangga berkata bahwa daun yang jatuh tak pernah membenci angin, ya tentu saja ia tak membencinya karena memang ia tak berteman dengannya, ia sudah terbiasa menjadi musuh angin. Tapi bagaimana dengan ranting dan pohon, tempatnya hidup selama ini,tempat yang menjadi rumahnya. Yang suatu saat rela membiarkannya pergi, membuatnya jatuh terhempas dan mati. Bukankah itu jauh lebih menyebalkan? Tapi mungkin memang dedaunan itu selalu baik hatinya tak pernah membenci siapapun, ia tahu bahwa seluruh hidupnya karena Yang Menciptakannya, dan Yang Menciptakannya selalu tahu apa yang terbaik untuknya meski ia harus dijatuhkan.
Surabaya, 28 oktober 2016

Surat untuk Pejuang Dakwah

Sebuah tulisan ketika berada dalam dunia dakwah di kampus. Sebuah cerita yang berawal dari kegelisahan hati sendiri. Sebuah kata kata yang saya harapkan mampu menggugah hati hati yang lain untuk merasakan hal yang sama dan terus berbuat baik.

Surat untuk Pejuang Dakwah

Surat untuk Pejuang Dakwah 2 

Semoga bisa berlanjut  ke tulisan ke3,4 dst, lalu menjadi manfaat bagi pembacanya.

Pertemuan

​Aku tersentak kaget bangun dari tidurku di tengah malam, amat berisik, menyebalkan. Ah, ternyata hujan akhirnya turun juga setelah sekian lama terik matahari di kota ini amat menyiksa. Setidaknya hujan ini berhasil menghiburku, aku bisa bangun kemudian tersenyum tipis untuk beberapa saat.

Tak seperti malam-malam sebelumnya, aku terbangun entah karena sekedar kepanasan atau karena angan pikiranku yang terbawa mimpi hingga membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak.
Sudah sebulan aku kembali ke Surabaya dan sampai sekarang apa yang amat ingin kulakukan adalah pulang. Menghilang dari rutinitas, dari tanggung jawab, dan dari berbagai tuntutan. 

Kembalinya aku ke kota ini setelah beberapa saat layaknya sebuah pertemuan denganmu. Kadang bisa menyenangkan, kadang teramat menyebalkan. Dan pertemuan itu layaknya pula hujan yang turun malam ini, datang tak pernah diduga setelah sekian lama tak turun, dan bersamaan dengan kedatangannya ada banyak rasa yang terlibat.
Kadang aku bingung bagaimana mengisi suasana menyenangkan dalam sebuah pertemuan pertama setelah sekian lama tak bersua. Kadang aku lebih memilih pergi, mencari jalan aman karena kurasa memang itu yang terbaik. Tapi kadang keadaan malah sebaliknya,pertemuan itu yg mengejarku, mengajakku memasukinya meski hanya sekedar duduk diam. 
Seringkali pertemuan dari sebuah hal yang telah lama tak ada,bisa sangat menyenangkan. Menceritakan kehidupan terbaru dan mengungkit kenangan masa lalu. 
Tapi sebuah pertemuan bisa menjadi amat buruk ketika kau selalu berbicara dalam hati agar pertemuan itu tak terjadi,tapi seketika itu waktu menjebakmu dalam keadaan yang tak kau harapkan itu. 
Tapi kau tentu tahu bahwa bahkan sehelai daun pun tak akan jatuh tanpa ijin Allah, apalagi sebuah pertemuan,tak mungkin hanya ada kebetulan di dalamnya. 

Meskipun begitu, apa kamu tahu apa yang paling kubenci dari sebuah pertemuan? Bahwa aku selalu melibatkan hati didalamnya.
Surabaya, 24 September 2016

Kakak cowok

​Sebuah percakapan ini berawal dari 6 orang korban kebosanan kerja praktik yang memutuskan untuk bersantai sejenak di cafe kecil dengan menu ringan. Pertanyaan dan bahan obrolan dimulai dari satu hal standar tentang pilihan menu dan dengan mudahnya beralih ke berbagai topik lain,salah satunya keluarga. 2 orang temanku adalah kakak cowok,sedang aku dan seorang teman adalah si adik cewek. Pembicaraan dari dua sudut pandang saudara inilah yang kemudian sedikit mengungkap rahasia perasaan antara keduanya.
“Aku mending dibilang adikku jahat ” ya seorang kakak cowok mungkin cenderung terlihat gagah dan keren didepan adiknya. Tapi sebenernya para kakak cowok ini adalah orang biasa yang seringkali disebut bajingan oleh teman2nya. Orang yg ya sama buruknya sama cupunya dengan teman2 pria adek ceweknya tapi terlihat baik dan gagah dirumah.
“Aku bayangin kalo adekku gede trus kenal yang aneh-aneh”
“Trus kalo ntar adekku bawa cowok aku kayak harus nge “fit and proper test” gitu”
“Iya ya ntar kalo aku mau nikah harus restu dari kakak cowok dan mungkin itu bakal lebih susah daripada ijin ke ibu”
“Tapi kakak cowok ke adek cewek itu nggk sedeket kalo kakak cewek ke adek cowok”

“Kalo kakak cewek tu kayak lebih ngayomi,enak curhat2 gt”
“Kalian tapi akrab sama adek waktu kecil aja gak sih? Waktu udh gede malu gt ya”
Bagaimana ya perasaan mereka?
Kakak ku? Ya mungkin aku dulu terlalu menyayanginya. Sekarang kami sudah dewasa,tumbuh dengan cara yang berbeda, dam prinsip mindset kami pun berbeda, bahkan kedewasaan kami mungkin malah jadi terbalik.
Ya mungkin kakak cowok selalu menganggap adek ceweknya sebagai gadis kecilnya, cewek yg harus dia lindungi padahal ia pun tas sekuat itu untuk menjaganya.padahal bisa jadi adek ceweknya jauh lebih dewasa dari dia. 
Dari adek cewek yang rindu akan sosok kakak cowoknya yang dulu.
Rabu,17 Agt 2016

Marah atau Sedih

Source: maulidayana.blogspot.com

Mana yang kamu pilih, marah atau sedih? Setiap langkah dan waktumu kia penuh masalah dan semakin rumit untuk diuraikan, bagai jaringan benangnya yang mengikat tubuhnya sendiri. Hal-hal menyebalkan yang selalu saja datang bergantian satu dengan lainnya, membuat hidup terlalu susah untuk ditertawakan. Lalu ketika semua sudah berada pada klimaksnya mungkin manusia hanya pasrah karena sudah amat buruk perasaannya. Entah bagaimana kita mengekspresikannya, entah marah, entah sedih.
Lalu mana yang kamu pilih, marah atau sedih?
Apakah marah? Emosi yg menumpuk itu yang telah mendesak di dada kau luapkan dengan teriakan,makian atau hanya dengan diam bersama hati yang memendam?

Lalu mana yang kau pilih, marah atau sedih?
Apakah sedih? Rasa tak bahagia berarti sedih bukan? Kemudian kau akan menekuk wajahmu, menurunkan bibir dan matamu ditambah kucuran air mata yang selama ini kau tahan akhirnya mengalir deras.

Itulah manusia, telah jadi hakikatnya bahwa kita memiliki berbagai rasa. Termasuk rasa tak bahagia dan bukan hanya sekali terjadi lalu kian sering semakin kita tua.

Jadi apakah yang kamu pilih? Marah atau sedih?

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3518-jangan-marah-kamu-akan-masuk-surga.html

 

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
Sumber: https://muslim.or.id/26272-janganlah-bersedih.html

6 Februari 2016

Apa yang Kamu Pikirkan Ketika..

Apa yang kau pikirkan ketika hujan turun? Ketika gemercik airnya menghantam atap rumahmu dengan keras, menimbulkan kebisingan. Ketika kau harus mengangkat jemuran dan menunggunya kering lebih lama. Ketika perutmu jadi terasa lebih lapar dan ingin menyantap sesuatu yang berkuah panas. Ketika meringkuk di dalam selimut dan mata yang terasa amat berat adalah kegiatan paling tepat. Ketika halaman rumahmu tergenang air dan dedaunan dibasahi bulir hujan.
Apa yang kau pikirkan ketika panas terik matahari? Ketika rasanya tak ingin keluar rumah atau ruangan berAC. Ketika es krim menjadi menu yang ingin kau santap meski itu pun akan cepat leleh. Ketika keringat begitu cepat membasahi tubuhmu padahal baru saja kau selesai mandi. Ketika tanaman di rumahmu jadi kering dan terpaksa kau harus menyiramnya setiap hari.

Apa yang kau pikirkan ketika pagi datang? Ketika ayam berkokok atau alarm nyaring membangunkanmu. Ketika kau harus membuka mata melawan kantuk yang teramat sangat. Ketika mimpi indahmu malam itu seketika berakhir. Ketika berbagai tugas hari itu membuatmu harus segera beranjak. Ketika mungkin perutmu yang lapar tapi tak mendapati makanan yang bisa disantap. Ketika garis-garis cahaya matahari mulai terlihat menyilaukan.

Apa yang kau pikirkan ketika malam datang? Ketika keheningan datang menyergap kehidupanmu. Ketika gelap membuatmu repot untuk menyalakan lampu. Ketika semua pekerjaan harus segera diakhiri sebelum itu selesai. Ketika perlahan kelopak matamu menutup tanpa kau sadari. Ketika semua akibat dari aktivitasmu hari ini,lelahnya baru kau rasa. Ketika angan akan esok hari menjadi tuntutan berat untuk sekedar melewati malam.

Apa yang kau pikirkan ketika waktu selalu berubah dan menyebalkan untuk sekedar dilalui padahal ia tak salah apa-apa. Waktu hanya berjalan dan berubah sebagaimana ia seharusnya, sebagaimana ia diciptakan. Waktu itu ada, tapi tak melakuman apa apa, tak menyenangkan atau menyebalkan, tak juga baik atau buruk. Waktu tak ubahnya sebuah hal tak berwujud yang besar pengaruhnya mengusik hidup kita. Waktu yang selalu berputar membawa hidup kita, sebagaimana hati yang amat mudah terbolak balik. Ya,waktu seperti hati, menciptakan rasa yang cepat berubah padahal ia tak berbuat apa apa.

Lalu apa yang kau pikirkan tentangnya, tentang hati?

Apa yang kau pikirkan ketika patah hati. Ketika yang awalnya menyenangkan jadi menyebalkan. Ketika apa yang kamu harapkan runtuh begitu saja. Ketika apa yang kau inginkan harus dipendam dalam diam. Ketika perlahan hati sesak oleh kesedihan yaang membuncah.

Apa yang kau pikirkan ketika jatuh cinta. Ketika pikiranmu melayang-layang penuh angan. Ketika wajah keindahan senantiasa terbayang di depan mata. Ketika senyum menjadi satu satunya ekspresi yang kau ukirkan. Ketika segala hal yang terjadi seolah tanpa masalah. Ketika setiap perubahan adalah cara terbaik. Ketika setiap saat menjadi waktu yang menyenangkan.

Apa yang kau pikirkan ketika semua waktu seolah terlihat buruk. Namun ketika jatuh cinta bukankah semuanya nampak indah? Andai saja kita selalu bisa jatuh cinta. Kadang kita saja yang membuat cinta tak hadir disana, kita yang membuat hal-hal yang amat sederhana menjadi rumit, kita yang membuat cinta yang amat dekat terasa jauh. Padahal cinta itu banyak, cinta itu dekat, cinta itu sederhana, seperti apa yang hatimu pikirkan.

Surabaya, 27 Juli 2016

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

LAILY'S BLOG

Life and Adventure

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Series of Honest Writing

-------------------Stoopid--------------------