Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Pertemuan

​Aku tersentak kaget bangun dari tidurku di tengah malam, amat berisik, menyebalkan. Ah, ternyata hujan akhirnya turun juga setelah sekian lama terik matahari di kota ini amat menyiksa. Setidaknya hujan ini berhasil menghiburku, aku bisa bangun kemudian tersenyum tipis untuk beberapa saat.

Tak seperti malam-malam sebelumnya, aku terbangun entah karena sekedar kepanasan atau karena angan pikiranku yang terbawa mimpi hingga membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak.
Sudah sebulan aku kembali ke Surabaya dan sampai sekarang apa yang amat ingin kulakukan adalah pulang. Menghilang dari rutinitas, dari tanggung jawab, dan dari berbagai tuntutan. 

Kembalinya aku ke kota ini setelah beberapa saat layaknya sebuah pertemuan denganmu. Kadang bisa menyenangkan, kadang teramat menyebalkan. Dan pertemuan itu layaknya pula hujan yang turun malam ini, datang tak pernah diduga setelah sekian lama tak turun, dan bersamaan dengan kedatangannya ada banyak rasa yang terlibat.
Kadang aku bingung bagaimana mengisi suasana menyenangkan dalam sebuah pertemuan pertama setelah sekian lama tak bersua. Kadang aku lebih memilih pergi, mencari jalan aman karena kurasa memang itu yang terbaik. Tapi kadang keadaan malah sebaliknya,pertemuan itu yg mengejarku, mengajakku memasukinya meski hanya sekedar duduk diam. 
Seringkali pertemuan dari sebuah hal yang telah lama tak ada,bisa sangat menyenangkan. Menceritakan kehidupan terbaru dan mengungkit kenangan masa lalu. 
Tapi sebuah pertemuan bisa menjadi amat buruk ketika kau selalu berbicara dalam hati agar pertemuan itu tak terjadi,tapi seketika itu waktu menjebakmu dalam keadaan yang tak kau harapkan itu. 
Tapi kau tentu tahu bahwa bahkan sehelai daun pun tak akan jatuh tanpa ijin Allah, apalagi sebuah pertemuan,tak mungkin hanya ada kebetulan di dalamnya. 

Meskipun begitu, apa kamu tahu apa yang paling kubenci dari sebuah pertemuan? Bahwa aku selalu melibatkan hati didalamnya.
Surabaya, 24 September 2016

Kakak cowok

​Sebuah percakapan ini berawal dari 6 orang korban kebosanan kerja praktik yang memutuskan untuk bersantai sejenak di cafe kecil dengan menu ringan. Pertanyaan dan bahan obrolan dimulai dari satu hal standar tentang pilihan menu dan dengan mudahnya beralih ke berbagai topik lain,salah satunya keluarga. 2 orang temanku adalah kakak cowok,sedang aku dan seorang teman adalah si adik cewek. Pembicaraan dari dua sudut pandang saudara inilah yang kemudian sedikit mengungkap rahasia perasaan antara keduanya.
“Aku mending dibilang adikku jahat ” ya seorang kakak cowok mungkin cenderung terlihat gagah dan keren didepan adiknya. Tapi sebenernya para kakak cowok ini adalah orang biasa yang seringkali disebut bajingan oleh teman2nya. Orang yg ya sama buruknya sama cupunya dengan teman2 pria adek ceweknya tapi terlihat baik dan gagah dirumah.
“Aku bayangin kalo adekku gede trus kenal yang aneh-aneh”
“Trus kalo ntar adekku bawa cowok aku kayak harus nge “fit and proper test” gitu”
“Iya ya ntar kalo aku mau nikah harus restu dari kakak cowok dan mungkin itu bakal lebih susah daripada ijin ke ibu”
“Tapi kakak cowok ke adek cewek itu nggk sedeket kalo kakak cewek ke adek cowok”

“Kalo kakak cewek tu kayak lebih ngayomi,enak curhat2 gt”
“Kalian tapi akrab sama adek waktu kecil aja gak sih? Waktu udh gede malu gt ya”
Bagaimana ya perasaan mereka?
Kakak ku? Ya mungkin aku dulu terlalu menyayanginya. Sekarang kami sudah dewasa,tumbuh dengan cara yang berbeda, dam prinsip mindset kami pun berbeda, bahkan kedewasaan kami mungkin malah jadi terbalik.
Ya mungkin kakak cowok selalu menganggap adek ceweknya sebagai gadis kecilnya, cewek yg harus dia lindungi padahal ia pun tas sekuat itu untuk menjaganya.padahal bisa jadi adek ceweknya jauh lebih dewasa dari dia. 
Dari adek cewek yang rindu akan sosok kakak cowoknya yang dulu.
Rabu,17 Agt 2016

Marah atau Sedih

Source: maulidayana.blogspot.com

Mana yang kamu pilih, marah atau sedih? Setiap langkah dan waktumu kia penuh masalah dan semakin rumit untuk diuraikan, bagai jaringan benangnya yang mengikat tubuhnya sendiri. Hal-hal menyebalkan yang selalu saja datang bergantian satu dengan lainnya, membuat hidup terlalu susah untuk ditertawakan. Lalu ketika semua sudah berada pada klimaksnya mungkin manusia hanya pasrah karena sudah amat buruk perasaannya. Entah bagaimana kita mengekspresikannya, entah marah, entah sedih.
Lalu mana yang kamu pilih, marah atau sedih?
Apakah marah? Emosi yg menumpuk itu yang telah mendesak di dada kau luapkan dengan teriakan,makian atau hanya dengan diam bersama hati yang memendam?

Lalu mana yang kau pilih, marah atau sedih?
Apakah sedih? Rasa tak bahagia berarti sedih bukan? Kemudian kau akan menekuk wajahmu, menurunkan bibir dan matamu ditambah kucuran air mata yang selama ini kau tahan akhirnya mengalir deras.

Itulah manusia, telah jadi hakikatnya bahwa kita memiliki berbagai rasa. Termasuk rasa tak bahagia dan bukan hanya sekali terjadi lalu kian sering semakin kita tua.

Jadi apakah yang kamu pilih? Marah atau sedih?

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3518-jangan-marah-kamu-akan-masuk-surga.html

 

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
Sumber: https://muslim.or.id/26272-janganlah-bersedih.html

6 Februari 2016

Apa yang Kamu Pikirkan Ketika..

Apa yang kau pikirkan ketika hujan turun? Ketika gemercik airnya menghantam atap rumahmu dengan keras, menimbulkan kebisingan. Ketika kau harus mengangkat jemuran dan menunggunya kering lebih lama. Ketika perutmu jadi terasa lebih lapar dan ingin menyantap sesuatu yang berkuah panas. Ketika meringkuk di dalam selimut dan mata yang terasa amat berat adalah kegiatan paling tepat. Ketika halaman rumahmu tergenang air dan dedaunan dibasahi bulir hujan.
Apa yang kau pikirkan ketika panas terik matahari? Ketika rasanya tak ingin keluar rumah atau ruangan berAC. Ketika es krim menjadi menu yang ingin kau santap meski itu pun akan cepat leleh. Ketika keringat begitu cepat membasahi tubuhmu padahal baru saja kau selesai mandi. Ketika tanaman di rumahmu jadi kering dan terpaksa kau harus menyiramnya setiap hari.

Apa yang kau pikirkan ketika pagi datang? Ketika ayam berkokok atau alarm nyaring membangunkanmu. Ketika kau harus membuka mata melawan kantuk yang teramat sangat. Ketika mimpi indahmu malam itu seketika berakhir. Ketika berbagai tugas hari itu membuatmu harus segera beranjak. Ketika mungkin perutmu yang lapar tapi tak mendapati makanan yang bisa disantap. Ketika garis-garis cahaya matahari mulai terlihat menyilaukan.

Apa yang kau pikirkan ketika malam datang? Ketika keheningan datang menyergap kehidupanmu. Ketika gelap membuatmu repot untuk menyalakan lampu. Ketika semua pekerjaan harus segera diakhiri sebelum itu selesai. Ketika perlahan kelopak matamu menutup tanpa kau sadari. Ketika semua akibat dari aktivitasmu hari ini,lelahnya baru kau rasa. Ketika angan akan esok hari menjadi tuntutan berat untuk sekedar melewati malam.

Apa yang kau pikirkan ketika waktu selalu berubah dan menyebalkan untuk sekedar dilalui padahal ia tak salah apa-apa. Waktu hanya berjalan dan berubah sebagaimana ia seharusnya, sebagaimana ia diciptakan. Waktu itu ada, tapi tak melakuman apa apa, tak menyenangkan atau menyebalkan, tak juga baik atau buruk. Waktu tak ubahnya sebuah hal tak berwujud yang besar pengaruhnya mengusik hidup kita. Waktu yang selalu berputar membawa hidup kita, sebagaimana hati yang amat mudah terbolak balik. Ya,waktu seperti hati, menciptakan rasa yang cepat berubah padahal ia tak berbuat apa apa.

Lalu apa yang kau pikirkan tentangnya, tentang hati?

Apa yang kau pikirkan ketika patah hati. Ketika yang awalnya menyenangkan jadi menyebalkan. Ketika apa yang kamu harapkan runtuh begitu saja. Ketika apa yang kau inginkan harus dipendam dalam diam. Ketika perlahan hati sesak oleh kesedihan yaang membuncah.

Apa yang kau pikirkan ketika jatuh cinta. Ketika pikiranmu melayang-layang penuh angan. Ketika wajah keindahan senantiasa terbayang di depan mata. Ketika senyum menjadi satu satunya ekspresi yang kau ukirkan. Ketika segala hal yang terjadi seolah tanpa masalah. Ketika setiap perubahan adalah cara terbaik. Ketika setiap saat menjadi waktu yang menyenangkan.

Apa yang kau pikirkan ketika semua waktu seolah terlihat buruk. Namun ketika jatuh cinta bukankah semuanya nampak indah? Andai saja kita selalu bisa jatuh cinta. Kadang kita saja yang membuat cinta tak hadir disana, kita yang membuat hal-hal yang amat sederhana menjadi rumit, kita yang membuat cinta yang amat dekat terasa jauh. Padahal cinta itu banyak, cinta itu dekat, cinta itu sederhana, seperti apa yang hatimu pikirkan.

Surabaya, 27 Juli 2016

Kangen Ramadhan

image

Terimakasih ramadhan engkau masih hadir untuk kesekian kalinya,menghampiriku yang hanya diam terhadap waktu.

Terimakasih ramadhan untuk mengisi waktu pertamaku menghirup udara dunia. Menjadikan namaku indah karena engkau hadir disana ketika ku lahir. Ketika ramadhan menjadi awal yang istimewa.

Terimakasih ramadhan untuk masa-masa kecil yang begitu polos, namun sambutan untukmu selalu menyenangkan dengan sekotak ambeng a.k.a bekal nasi kotak. Ketika puasa itu kumulai dg sahur set.6 pagi dan berbuka ketika adzan dhuhur,lalu puasa lagi hingga magrib. Ketika langgar depan rumahku masih terbuat dari anyaman bambu,dan ditemukan ular piton besar dibelakang kebunnya. Ketika ditengah sholat terawih aku tidur diatas sajadaharna merah. Ketika menunggu magrib akan sangat menyenangkan karena ayahku akan memboncengku entah dengan sepeda ontel atau sepeda motor di depan lalu berkeliling desa. Ketika ramadhan terasa amat menyenangkan.

Terimakasih ramadhan untuk masa dimana aku belajar tentang apa yang indahnya haqiqi. Dimana puasa utuh seharian yang awalnya berat jadi biasa saja. Ketika setiap sore di akhir ramadhan aku dan ibuku akan membuat jus mangga untuk tetangga sekitar. Ketika aku ikut bermain adonan kue-kue lebaran milik ibuku. Ketika sholat terawih selalu membuatku semangat karena satu tandatangan dari sang imam membuatku dan teman-temanku bangga. Ketika kegiatan ramadhan di sekolah membuat kami terasa greget ketemu ramadhan. Ketika ramadhan disambut penuh bahagia.

Terimakasih ramadhan untuk masa-masa dimana aku mulai dewasa. Ketika bulan puasa kuhabiskan bukan dirumah. Ketika sekolah terasa berbeda karena tak perlu memakai seragam,tapi busana muslim.  Ketika pondok ramadhan di sekolah membuatku kerepotan selama hampir sebulan. Ketika setiap sorenya aku dan teman sekosku akan berjalan sampai ke taman kota untuk mencari tajil di pasar ramadhan. Ketika malamnya aku akan terawih di masjid sma yang kala itu masih setengah jadi. Ketika puasa terasa biasa saja, tapi ramadhan selalu terasa berbeda.

Terimakasih ramadhan untuk perpindahan hidup yang ajaib 3tahun lalu. Ketika malam pertama ramadhan namaku tertera sebagai salah satu mahasiswa di ITS. Ketika ijin kata “ya,pasti ketrima” dari alm.ayahku jadi kenyataan dan mimpi-mimpi itu mungkin memang benar hasil istikharah. Ketika ramadhan setelah itu kunanti karena menjadi tanda libur semester. Ketika ramadhan menjadi awal aku berani mengambil keputusan baik meski melawan ibuku. Ketika ramadhan menjadi awal perubahan meski tak selalu mudah.

Aku sudah dewasa sekarang, puasa dan segala intrik khas ramadhan jadi terasa biasa bahkan kadang membosankan. Aku selalu berharap bahwa ketika datang ramadhan aku menyambut ia dengan kebahagiaan yang tulus, dengan semangat seribu kali lebih banyak untuk beribadah, tapi nyatanya tak ada yang signifikan. Ketika ramadhan datang apa yang kukerjakan seharian tak beda jauh dengan hari biasa, baik yang wajib atau sunahnya. Ketika ramadhan yang seolah kurindukan nyatanya kadang hatiku tak sepenuhnya ikhlas. Dan ketika ia akan pergi mungkin hati ini lebih bahagia menyiapkan hari raya ketimbang mempertahankan ibadah ala ramadhan.

Ramadhan baru saja berakhir, akan ada orang-orang yang bahagia seiring kepergianmu karena menyambut lebaran, akan ada orang-orang yang sedih karena kepergianmu menyisakan penyesalan dalam diri mereka.Terimakasih ramadhan untuk membuatku menemukan berjuta cerita. Semoga banyak dari mereka yang akan merindukanmu, orang-orang yang berkata, ” Ih,kangen ramadhan”.

Rumah, 6 Juli 2016

Hujan dan Kamu (Tahu Campur)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Hujan turun begitu deras sejak sore kemarin, dan jauh lebih lama dari biasanya jika sederas ini. Aku masih terdiam di dalam kamar kosku, merenung dan menulis, berharap hujan segera reda karena ada yang harus dikerjakan di luar. Aku masih bertahan di atas ranjang sampai kemudian adzan magrib berkumandang, dan betapa kagetnya aku ketika tiba-tiba air meluncur masuk dari sela-sela bawah pintu. Sontak aku kaget karena air sudah menyentuh laptop yang kugeletakkan dilantai, baru kutaruh kasur pun kepanikan lain muncul. Tugas bangunan air yang selalu sukses membuat tak tidur pun hampir disentuh air yang mengalir deras itu. Ada apa ini? Darimana air masuk? Tentu saja hal ini membuat seisi kos panik, dua anak kamar paling belakang menjadi korban pertama yang sadar dan kami langsung mengetuk pintu belakang ibu kos. Bu kos yang sebagian anak memanggilnya “eyang” ini, langsung kaget bukan main dan memanggil “yang kung” karena air yang mengalir itu sudah begitu cepat tingginya. Baru kali ini kosku banjir seperti itu, dibilang sedih ya sedih tapi aku yang selalu menertawakan hidup akhirnya tertawa bersama bu kos dan anak lain. Banjir meluas ke seluruh area kosan. Hanya beberapa kamar saja yang selamat karena elevasinya yang agak tinggi. Air sudah mencapai batas maksimum, air di halaman dan di dalam sudah sama tingginya, saluran di depan rumah pun sudah penuh. Apalagi hujan belum kunjung reda sampai pukul 19.30 WIB. Akhirnya kami menyerah untuk menguras air yang merangkak naik dari ke atas mata kaki.

Aku memutuskan untuk mengungsi. Belum berakhir disana, banjir ternyata menggenang di jalanan menuju kos temanku, beruntung kos temanku yang lebih tinggi aman dari air. Aku langsung mandi, kakiku sudah sangat gatal. Hah,menguras air tadi mungkin sukses membuatku olahraga. Aku lapar, aku dan temanku hanya bisa berharap ada tukang jual makanan yang lewat.
Aku berkata, “Mana mungkin ini banjir parah”, tapi dugaanku salah, tak lama ada penjual tahu campur lewat, kami tentu sangat bahagia, bunyi keroncongan ini mungkin akan berubah menjadi disko.

Aku menatap tahu campur itu pada suapan yg kedua. Tahu campur hangat ini mengingatkanku pada beberapa tahun yang lalu. Saat itu juga hujan, tapi gerimis tak deras, pagi hari bukan malam, dan di Kediri bukan Surabaya. Sepiring tahu campur saat itu kubeli pun tanpa rencana. Setelah berenang dipagi hari, bersama seorang sahabat, dan kode paling hebat yang kita katakan
“Pe, kamu tahu kan apa yang kupikirkan?”
“Pong, apakah kamu berfikir apa yang kupikirkan?”
“Ya”. Kita selalu kompak tentang pertanyaan itu, dan jawabannya pasti tak jauh dari urusan perut.

Pagi itu kita bingung makan dimana, dan keputusan yang lagi-lagi spontan kali itu adalah berhenti di penjual kaki lima yang menjajakan tahu campur. Mungkin abang penjual tahu itu pun baru sampai di depan salah satu bank nasional itu. Mungkin kami pembeli pertama, kami menghabiskan tahu campur itu dengan cepat, di pinggir jalan di kala gerimis belum lama datang.

Surabaya, 31 Mei 2016

Jauh

image
Source: kurniawangunadi.tumblr.com

Jauh itu tak pernah bisa diukur dengan pasti. Kata tetanggaku “Jauh banget ke Surabaya”.kata temanku “enak ya, Surabaya dekat rumah” semua tergantung apa yang dijalaninya.
Begitu pula hati manusia ini, kadang kala merasa jauh karena lama tak bertemu, atau mungkin tak ada obrolan diantaranya, atau bisa jadi karena kita tak benar mengenalnya.

Jauh dekatnya hati manusia ini bertingkat, jika kau ingin mengukurnya ini adalah skala sederhana tapi sungguh perlu kita renungkan.
1. Ta’aruf (mengenal bukan hanya nama)
2. Tafahum (saling memahami sesama saudara)
3. Ta’awun (saling menolong/bekerja sama)
4. Takaful (saling menanggung beban)

Jika kamu merasa jauh apa memang kamu sudah dekat? Sampai mana tingkat kita mengenalnya? Atau jangan jangan kita hanya sebatas tahu saja? Atau mungkin ia mengenal kita amat dalam, tapi kita yang tak benar-benar mengenal dia?

Dan bila jauh apakah kita ingin mendekat? Apakah kita sudah berjalan padanya? Apakah kita sudah berlari mengejarnya? Ataukah bahkan kita hanya diam? Mungkin kita saja yang terlalu malas atau mungkin jauh adalah keadaan yang lebih nyaman.

Sungguh perjalanan terjauhku adalah menemukan siapa yang dekat hatinya denganku, yang sudah sampai tingkat puncak dalam mengenal.

Sungguh Allah amatlah baik padaku, karena Ia mendekatkan ku dengan orang berhati mulia, dan semakin baik rasanya. Allah mempertemukanku dengan orang yang entah kenapa saat memandangnya pertama kali saja aku sudah ingin dekat dengannya. Allah melindungiku dengan orang seperti itu, menempatkanku pada tempat dimana tanpa kusadari aku terbentuk disitu. Allah mengabulkan doaku agar senantiasa menjadi lebih baik dengan menjauhkan dan mendekatkan.

Ya Allah, dekatkanlah padaku apa yang baik bagiku, dan jauhkanlah dariku apa yang buruk untukku.
Aamiin.

Surabaya,16 Maret 2016

Hujan dan Kamu (Jendela)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Mimpi Jendela (dok. pribadi 2013)

Seharian ini turun hujan, kadang deras, lalu gerimis kecil, hanya diam sesaat lalu deras lagi. Aku dan seorang sahabat menghabiskan waktu seharian ini di kampus, kuliah, kosong sebentar, kuliah lagi, sholat, makan lalu kuliah lagi. Membuang waktu di ruang kelas selama berjam-jam, dengan hujan yang terus mengetuk jendela kelas. Di sela pergantian kuliah, aku hanya memandang hujan, lewat jendela kelas, menerawang jauh dari sela semak belukar.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela,mungkin karena terbiasa. Kebiasaan masa kecil yang menunggu hujan dari jendela kamar tamu, melihat seorang teman diantara sekumpulan bocah laki-laki yang tengah berlari menerjang hujan. Kadang duduk di kursi panjang sembari melahap gorengan, mie rebus, atau nasi goreng entah masakan ibuku atau buatanku sendiri.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela, mungkin sudah terbiasa. Kebiasaan ketika SMA dan hujan masih mengguyur di jam pulang. Aku dan sahabat-sahabatku lebih memilih tinggal. Tak bawa payung dan mantel, takut buku basah, malas pulang, atau memang ingin sekedar menghabiskan waktu menjadi alasan kami untuk bertahan di sekolah.

Pernah suatu sore sekitar pukul 15.30, ketika kelas sudah berakhir dan hujan turun cukup deras, aku memilih tinggal beberapa saat untuk sekedar menikmati suasana karena pulang ke kos mungkin akan membosankan. Aku tak sendiri di kelas lantai 2 itu, ada seorang sahabatku yang masih bertahan di sekolah. Bercengkerama, mendengarkan curhatnya, atau yang paling tak penting, membicarakan adek kelas idola selalu menjadi bahan yang menyenangkan dan mengundang tawa. Sore itu pun sama, kami melakukannya sembari berdiri dengan tangan bersandar di kusen-kusen jendela kelas yang basah oleh hempasan tetes air hujan dan dari sana tercium aroma tanah di bawah kelas yang dibawa oleh angin. Memang sudah sepi sore itu, hanya beberapa saja anak yg terlihat lewat di jalan dibawah kelas kami. Sore itu di kelas hanya menyisakan aku dan sahabatku ini. Cahaya matahari hampir-hampir hilang, entah memang ia mulai beranjak pergi atau karena awan gelap yang menyelimutinya. Hening, dingin dan gelap aku ingat benar suasana sore itu. Hanya suara kami yang menciptakan keramaian, hanya persahabatan kami yang kian terasa hangat, dan hanya ketulusan hati kami yang kala itu membuat seolah dunia ini amat terang.

Aku ingat, saat itu sahabatku memperkenalkanku pada sebuah lagu favoritnya “Telescope” milik Hollywood Nobody, alunan yang indah dari lagu menyempurnakan suasana sore itu.

image

image

Lalu kami kembali berkhayal akan mimpi-mimpi besar kami, pada hal-hal yang bagi kami saat itu amat kami yakini begitu mudah untuk diraih. Mimpi-mimpi yang kami gantungkan di bagian tertinggi jendela kelas, agar makin dekat harapan kami dengan langit. Dan setiap harinya mimpi itulah yang membangkitkan semangat kami disela kejenuhan belajar, meski semakin lama tulisannya makin pudar tapi tidak semangat kami kala itu.
Mungkin kini tulisan mimpi itu sudah tak lagi di jendela itu, tapi mimpi kami masih disana, mimpi kami masih ditempat yang sama.
Mungkin kini kami sudah amat lelah berjalan mengejar mimpi-mimpi itu, ditambah jalan yang kami lalui tak lagi sama seperti dulu, tapi jalan kami ini pun awalnya hanyalah sebuah mimpi di jendela.

Setelah hujan membasahi jendela,
Surabaya, 19 April 2016

Ditengah Keheningan

Aku diam sejenak memejamkan mata di tengah riuh gemuruh suara teman temanku. Aku tengah duduk bersandar pada meja besar di depan kelas, badanku tenggelam oleh balok kayu meja besar ini. Lantai disini dingin, namun bersih meski ada beberapa jejak kaki yang membekas. Sejauh ini yang kulakukan hanyalah diam. Hal yang kulihat hanya gelap, lalu apa yang kudengar pertama kali adalah suara tarikan nafasku sendiri,ditambah hembusan nafas panjang pertanda kelelahan. Lalu kudengar denting jam yang menyeret jarumnya bergerak tiap saat. Suara sayup beberapa orang yang saling berbicara dengan tema masing masing, dari materi kuliah, tentang tempat makan, isu-isu yang merebak di media sosial, sampai curhatan aneh ala orang dewasa. Tiba-tiba satu teman suaranya terdengar nyaring memecah keheningan, memanggil dari jarak yang terlalu dekat untuk berteriak, memecah lamunan dengan amat mudah,aku kembali membuka mata.

Surabaya,21 April 2016

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.