Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Tag

Cinta

Rindu Jatuh Cinta

Aku yang tengah rindu pada jatuh cinta. Pada rasa yang teramat menyenangkan, rasa yang seolah membuatku berada di tengah hamparan  taman hijau dan dikelilingi bunga berwarna-warni, rasa yang terasa nyaman dan aman seolah mendekap hangat tubuhku dan berkata, “aku akan baik-baik saja”, kemudian menggelitik perutku membuatku terus ingin tertawa. Mungkin aku memang rindu pada jatuh cinta, karena aku telah lama tak merasakannya. Jatuh cintaku kuakhiri dengan sendirinya bahkan sebelum sempat benar-benar memulai cintanya. Karena cintaku rasanya harus kujaga. Dan aku kini telah dewasa, aku ingin jatuh cinta. Merasakan cinta yang sebenarnya. Bukan cinta yang kubuat sendiri dan dalam waktu yg hanya sementara. Aaah, aku benar-benar rindu jatuh cinta. Tapi pada siapa? Pada seseorang yang bahkan belum ku kenal, atau pada seseorang yang sudah kukenal begitu dalam? Aku tak tau kapan aku akan jatuh cinta. Cinta yg sebenarnya, cinta yang bukan hanya prasangka. Tapi akankah aku berani memulainya? Memulai sebuah cinta?
Surabaya, 2 Januari 2017

Pertemuan

​Aku tersentak kaget bangun dari tidurku di tengah malam, amat berisik, menyebalkan. Ah, ternyata hujan akhirnya turun juga setelah sekian lama terik matahari di kota ini amat menyiksa. Setidaknya hujan ini berhasil menghiburku, aku bisa bangun kemudian tersenyum tipis untuk beberapa saat.

Tak seperti malam-malam sebelumnya, aku terbangun entah karena sekedar kepanasan atau karena angan pikiranku yang terbawa mimpi hingga membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak.
Sudah sebulan aku kembali ke Surabaya dan sampai sekarang apa yang amat ingin kulakukan adalah pulang. Menghilang dari rutinitas, dari tanggung jawab, dan dari berbagai tuntutan. 

Kembalinya aku ke kota ini setelah beberapa saat layaknya sebuah pertemuan denganmu. Kadang bisa menyenangkan, kadang teramat menyebalkan. Dan pertemuan itu layaknya pula hujan yang turun malam ini, datang tak pernah diduga setelah sekian lama tak turun, dan bersamaan dengan kedatangannya ada banyak rasa yang terlibat.
Kadang aku bingung bagaimana mengisi suasana menyenangkan dalam sebuah pertemuan pertama setelah sekian lama tak bersua. Kadang aku lebih memilih pergi, mencari jalan aman karena kurasa memang itu yang terbaik. Tapi kadang keadaan malah sebaliknya,pertemuan itu yg mengejarku, mengajakku memasukinya meski hanya sekedar duduk diam. 
Seringkali pertemuan dari sebuah hal yang telah lama tak ada,bisa sangat menyenangkan. Menceritakan kehidupan terbaru dan mengungkit kenangan masa lalu. 
Tapi sebuah pertemuan bisa menjadi amat buruk ketika kau selalu berbicara dalam hati agar pertemuan itu tak terjadi,tapi seketika itu waktu menjebakmu dalam keadaan yang tak kau harapkan itu. 
Tapi kau tentu tahu bahwa bahkan sehelai daun pun tak akan jatuh tanpa ijin Allah, apalagi sebuah pertemuan,tak mungkin hanya ada kebetulan di dalamnya. 

Meskipun begitu, apa kamu tahu apa yang paling kubenci dari sebuah pertemuan? Bahwa aku selalu melibatkan hati didalamnya.
Surabaya, 24 September 2016

Apa yang Kamu Pikirkan Ketika..

Apa yang kau pikirkan ketika hujan turun? Ketika gemercik airnya menghantam atap rumahmu dengan keras, menimbulkan kebisingan. Ketika kau harus mengangkat jemuran dan menunggunya kering lebih lama. Ketika perutmu jadi terasa lebih lapar dan ingin menyantap sesuatu yang berkuah panas. Ketika meringkuk di dalam selimut dan mata yang terasa amat berat adalah kegiatan paling tepat. Ketika halaman rumahmu tergenang air dan dedaunan dibasahi bulir hujan.
Apa yang kau pikirkan ketika panas terik matahari? Ketika rasanya tak ingin keluar rumah atau ruangan berAC. Ketika es krim menjadi menu yang ingin kau santap meski itu pun akan cepat leleh. Ketika keringat begitu cepat membasahi tubuhmu padahal baru saja kau selesai mandi. Ketika tanaman di rumahmu jadi kering dan terpaksa kau harus menyiramnya setiap hari.

Apa yang kau pikirkan ketika pagi datang? Ketika ayam berkokok atau alarm nyaring membangunkanmu. Ketika kau harus membuka mata melawan kantuk yang teramat sangat. Ketika mimpi indahmu malam itu seketika berakhir. Ketika berbagai tugas hari itu membuatmu harus segera beranjak. Ketika mungkin perutmu yang lapar tapi tak mendapati makanan yang bisa disantap. Ketika garis-garis cahaya matahari mulai terlihat menyilaukan.

Apa yang kau pikirkan ketika malam datang? Ketika keheningan datang menyergap kehidupanmu. Ketika gelap membuatmu repot untuk menyalakan lampu. Ketika semua pekerjaan harus segera diakhiri sebelum itu selesai. Ketika perlahan kelopak matamu menutup tanpa kau sadari. Ketika semua akibat dari aktivitasmu hari ini,lelahnya baru kau rasa. Ketika angan akan esok hari menjadi tuntutan berat untuk sekedar melewati malam.

Apa yang kau pikirkan ketika waktu selalu berubah dan menyebalkan untuk sekedar dilalui padahal ia tak salah apa-apa. Waktu hanya berjalan dan berubah sebagaimana ia seharusnya, sebagaimana ia diciptakan. Waktu itu ada, tapi tak melakuman apa apa, tak menyenangkan atau menyebalkan, tak juga baik atau buruk. Waktu tak ubahnya sebuah hal tak berwujud yang besar pengaruhnya mengusik hidup kita. Waktu yang selalu berputar membawa hidup kita, sebagaimana hati yang amat mudah terbolak balik. Ya,waktu seperti hati, menciptakan rasa yang cepat berubah padahal ia tak berbuat apa apa.

Lalu apa yang kau pikirkan tentangnya, tentang hati?

Apa yang kau pikirkan ketika patah hati. Ketika yang awalnya menyenangkan jadi menyebalkan. Ketika apa yang kamu harapkan runtuh begitu saja. Ketika apa yang kau inginkan harus dipendam dalam diam. Ketika perlahan hati sesak oleh kesedihan yaang membuncah.

Apa yang kau pikirkan ketika jatuh cinta. Ketika pikiranmu melayang-layang penuh angan. Ketika wajah keindahan senantiasa terbayang di depan mata. Ketika senyum menjadi satu satunya ekspresi yang kau ukirkan. Ketika segala hal yang terjadi seolah tanpa masalah. Ketika setiap perubahan adalah cara terbaik. Ketika setiap saat menjadi waktu yang menyenangkan.

Apa yang kau pikirkan ketika semua waktu seolah terlihat buruk. Namun ketika jatuh cinta bukankah semuanya nampak indah? Andai saja kita selalu bisa jatuh cinta. Kadang kita saja yang membuat cinta tak hadir disana, kita yang membuat hal-hal yang amat sederhana menjadi rumit, kita yang membuat cinta yang amat dekat terasa jauh. Padahal cinta itu banyak, cinta itu dekat, cinta itu sederhana, seperti apa yang hatimu pikirkan.

Surabaya, 27 Juli 2016

Wanita yang Tengah Beranjak

Ada apa? Ada apa dengan kita? Wanita yang tengah beranjak dewasa. Yang kakinya telah tegak berpijak, namun kini hatinya mudah goyah, oleh prasangka dan dugaan sendiri. Ketika hanya bisa diam, hanya bisa memandang dari kejauhan, dan ketika telah dekat pun berlagak enggan.
Ada apa dengan kita? Wanita yang tengah beranjak dewasa. Yang seringkali iri pada masa kanak-kanak. Masa dimana kita mencari apapun dari segi jumlah, mencari yang banyak. Namun kini semua berbeda, wanita itu tengah mencari-cari yang terbaik, berhipotesa atas semua dugaan. Apa yg dipilihnya tak perlu banyak,biarlah sedikit asalkan yang terbaik. Mungkin hal itu pula yang terjadi pada hati.

Ah, ada apa dengan kita? Wanita yang kini telah beranjak dewasa.

Surabaya,27 November 2015

Cerita Para Sahabat (2)

image

Semua hal selalu berubah, dan perubahan itu seringkali menyebalkan. Tapi coba bayangkan bila kita tak mengenal perubahan. Kita tak akan mengenal cerita. Dan cerita para sahabatku ini terus berlanjut hingga hari ini, dan semua memberi kami sebuah pelajaran berarti.
Sahabatku yang pertama, ia tengah berusaha melupakan rasa pada pria yang dulu disukainya. Karena dia tahu tak akan berhasil, ya, rasa itu tak akan berhasil, tak ada kelanjutan dari keduanya. Dan sahabatku tahu bahwa mereka bukannya malah semakin dekat tapi semakin jauh. Dan kini ia hampir berhasil, bersamaan dengan itu pula ia berkenalan dengan banyak pria lain berharap ada satu yang cocok untuknya.
Sahabatku yang kedua, kekaguman itu masih berlanjut. Dan masih sering ia utarakan kekagumannya akan pria itu padaku. Tapi kehidupan yang ia jalani sekarang memaksanya berjumpa dengan lebih banyak pria, bekerja sama dengan mereka, pun termasuk pria yang ia kagumi. Tapi akibat itu ia menemui lebih banyak pria baru yang lalu ia kagumi. Ketika kutanya kenapa kamu tak setia mengagumi satu pria saja? Jawabnya ringan, “Adalah agar aku bisa mencintai ala kadarnya, tak berlebihan, dan selagi aku bisa membagi perasaanku, sebelum ketika saatnya nanti aku tak lagi diijinkan mencintai yang lain”.
Sahabatku yang ketiga. Semua kedekatan itu sudah berakhir sekarang. Tak ada percakapan lagi di akun media sosialnya. Sang pria itu memang sudah menemui wanita lain. Wanita yang sahabatku tahu namanya, yang ia tahu orangnya, dan ia tahu bahwa si pria itu telah menjalin hubungan dengan wanita itu. Bahkan sahabatku menemui mereka berjalan bersama dalam suatu acara. Ia mengakhiri rasanya dengan terpaksa. Rasa yang ia buat sendiri, ia duga-duga sendiri dan ia kembangkan sendiri. Dan kini rasa suci itu masih dijaganya untuk pria lain yang mungkin memang jauh lebih tepat untuknya.
Sahabatku yang keempat, ia sudah mengetahui kejelasan dari semua pertanyaan ini. Pertanyaan yang selalu dipertanyakannya tapi lama tak terjawab. Dan akhirnya semuanya jelas sudah. “Lelaki itu brengsek”, katanya. Pria itu yang sengaja berkhianat, ia yang melangkah lebih dulu pada kebohongan, dan bodohnya sahabatku mementingkan perasaan daripada logikanya. Dan kini ia sadar bahwa perasaan terlalu lemah untuk dipercayai walaupun memang wanita selalu bertumpu pada perasaan, pada hatinya.

Lalu bagaimana denganku? Apakah ceritaku juga berubah seiring cerita para sahabatku yang berubah. Dan ternyata iya. Rasa itu kini tak lagi sama, kadang berkurang entah karena siapa yang berubah, siapa yang menjadi lebih baik. Entahlah, tapi rasa itu tak sehebat dulu. Mungkin aku sudah lebih tegas menjaga hati, memperingatkan diri akan ketidakpantasan. Lalu menyibukkan diri dengan hal lain yang jauh lebih rumit. Ah, sebuah kalimat yang dikirim seorang sahabat mungkin benar. “Cinta kepada Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang kau cintai berbuat baik kepadamu dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar padamu.” Dan semoga memang cintaku pada Allah jauh lebih besar. Mungkin memang selalu begitulah hati kami, wanita yang hatinya terombang-ambing seperti kapal dilautan luas, -seperti sekoci- kata seorang sahabatku. Tapi setidaknya dari semua cerita ini kita selalu belajar, lalu bersyukur atas ujian yang berakhir. Dan dari cerita ini mungkin akan lahir berjuta cerita baru, dari para sahabatku yang nanti hatinya akan berlabuh pada satu orang, seseorang yang menemani dua pertiga hidupnya.

Surabaya, 15 Oktober 2015

Tak Kokoh

image

“Seharusnya kau bisa berdiri lebih kokoh nak” kata seorang sahabatku diujung lain pulau ini. Mungkin baginya ketika menulis itu hanyalah sekedar quote sederhana yang seringkali kita ucapkan satu sama lain. Dan sore ini quote yang ia tuliskan meski sederhana namun begitu tajam. Ah iya, mestinya aku jauh lebih kokoh, lebih kuat dari ini. Bagaimana bisa aku seperti ini, selama ini sok alim dan sok dewasa ketika sahabat berkisah tentangnya. Memberi nasihat dan berkisah indah, bahkan pernah menertawakan patah hatinya sahabat. Tapi aku sendiri nyatanya apa? Aku tak sekokoh itu. Aku tak sebaik itu. Hatiku tak lebih baik dari mereka. Layaknya omong kosong para pembual yang parau dan menyayat.
Surabaya, 26 Agustus 2015.

Cerita Para Sahabat

image
Source: Ketika Cinta Bertasbih

     Satu lagi seorang sahabat mengirim ceritanya padaku. Tak jauh berbeda dengan yang lain. soal cinta. Aah,entah kenapa kami semua merasakan hal sama, mungkin jutaan wanita diluar sana juga merasakan hal yang sama. Entah mengapa mereka bercerita padaku, padahal mereka rasanya lebih berpengalaman soal cinta. Mereka tak selalu butuh saran, mungkin sekalimat quote didengar itu sudah cukup. Inilah secuplik kecil kisah cinta itu.
       Sahabatku yang pertama

Continue reading “Cerita Para Sahabat”

Terima Kasih telah Datang

Baru saja aku bangun dari tidurku, baru saja aku menunaikan salah satu kewajibanku.
Pagi ini terasa dingin akibat hujan semalaman setelah terik matahari begitu gila dua hari terakhir ini. Udara dingin berhembus dari sela-sela jendela kamar menyapa dengan berbisik pelan lalu pergi ke jendela kamar lain hendak membangunkan orang-orang yang masih terlelap.
Teringat aku pada malam kemarin, tepat tengah malam ketika tiba-tiba turun hujan lebat, gemercik airnya memburu menyeru dari atap kamarku. Satu dua tetes terlihat dari jendela. Tiba-tiba saja pantulan bayanganku di jendela yg basah menghanyutkan lamunan, aku masih saja mengingatnya, mengingat tatapan dan senyumannya, ingin aku menghilangkan Continue reading “Terima Kasih telah Datang”

Pancaran Sinar Temaram

image

Mungkin ini sudah keseribu kalinya aku melewati jalan ini. Namun hanya beberapa kali saja aku melewatinya disaat malam seperti ini. Ketika tak ada lagi sinar matahari, ketika dedaunan berubah gelap.
Jalan ini masih sama, terasa begitu biasa, tak panjang juga tak terjal namun seringkali ia membisikkan suatu kisah padaku.
Dari kejauhan aku memandang jajaran lampu jalan yang berdiri rapi, sinarnya kecil tapi sungguh menerangi.
Rasanya aku ingin berteriak melepas isi hati biar jalan ini bisa mendengar kisahku, berteriak lantang “aku jatuh cinta”. Ya aku sungguh jatuh cinta pada Continue reading “Pancaran Sinar Temaram”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.