Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Tag

Hujan

Hujan dan Kamu (Tahu Campur)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Hujan turun begitu deras sejak sore kemarin, dan jauh lebih lama dari biasanya jika sederas ini. Aku masih terdiam di dalam kamar kosku, merenung dan menulis, berharap hujan segera reda karena ada yang harus dikerjakan di luar. Aku masih bertahan di atas ranjang sampai kemudian adzan magrib berkumandang, dan betapa kagetnya aku ketika tiba-tiba air meluncur masuk dari sela-sela bawah pintu. Sontak aku kaget karena air sudah menyentuh laptop yang kugeletakkan dilantai, baru kutaruh kasur pun kepanikan lain muncul. Tugas bangunan air yang selalu sukses membuat tak tidur pun hampir disentuh air yang mengalir deras itu. Ada apa ini? Darimana air masuk? Tentu saja hal ini membuat seisi kos panik, dua anak kamar paling belakang menjadi korban pertama yang sadar dan kami langsung mengetuk pintu belakang ibu kos. Bu kos yang sebagian anak memanggilnya “eyang” ini, langsung kaget bukan main dan memanggil “yang kung” karena air yang mengalir itu sudah begitu cepat tingginya. Baru kali ini kosku banjir seperti itu, dibilang sedih ya sedih tapi aku yang selalu menertawakan hidup akhirnya tertawa bersama bu kos dan anak lain. Banjir meluas ke seluruh area kosan. Hanya beberapa kamar saja yang selamat karena elevasinya yang agak tinggi. Air sudah mencapai batas maksimum, air di halaman dan di dalam sudah sama tingginya, saluran di depan rumah pun sudah penuh. Apalagi hujan belum kunjung reda sampai pukul 19.30 WIB. Akhirnya kami menyerah untuk menguras air yang merangkak naik dari ke atas mata kaki.

Aku memutuskan untuk mengungsi. Belum berakhir disana, banjir ternyata menggenang di jalanan menuju kos temanku, beruntung kos temanku yang lebih tinggi aman dari air. Aku langsung mandi, kakiku sudah sangat gatal. Hah,menguras air tadi mungkin sukses membuatku olahraga. Aku lapar, aku dan temanku hanya bisa berharap ada tukang jual makanan yang lewat.
Aku berkata, “Mana mungkin ini banjir parah”, tapi dugaanku salah, tak lama ada penjual tahu campur lewat, kami tentu sangat bahagia, bunyi keroncongan ini mungkin akan berubah menjadi disko.

Aku menatap tahu campur itu pada suapan yg kedua. Tahu campur hangat ini mengingatkanku pada beberapa tahun yang lalu. Saat itu juga hujan, tapi gerimis tak deras, pagi hari bukan malam, dan di Kediri bukan Surabaya. Sepiring tahu campur saat itu kubeli pun tanpa rencana. Setelah berenang dipagi hari, bersama seorang sahabat, dan kode paling hebat yang kita katakan
“Pe, kamu tahu kan apa yang kupikirkan?”
“Pong, apakah kamu berfikir apa yang kupikirkan?”
“Ya”. Kita selalu kompak tentang pertanyaan itu, dan jawabannya pasti tak jauh dari urusan perut.

Pagi itu kita bingung makan dimana, dan keputusan yang lagi-lagi spontan kali itu adalah berhenti di penjual kaki lima yang menjajakan tahu campur. Mungkin abang penjual tahu itu pun baru sampai di depan salah satu bank nasional itu. Mungkin kami pembeli pertama, kami menghabiskan tahu campur itu dengan cepat, di pinggir jalan di kala gerimis belum lama datang.

Surabaya, 31 Mei 2016

Advertisements

Hujan dan Kamu (Jendela)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Mimpi Jendela (dok. pribadi 2013)

Seharian ini turun hujan, kadang deras, lalu gerimis kecil, hanya diam sesaat lalu deras lagi. Aku dan seorang sahabat menghabiskan waktu seharian ini di kampus, kuliah, kosong sebentar, kuliah lagi, sholat, makan lalu kuliah lagi. Membuang waktu di ruang kelas selama berjam-jam, dengan hujan yang terus mengetuk jendela kelas. Di sela pergantian kuliah, aku hanya memandang hujan, lewat jendela kelas, menerawang jauh dari sela semak belukar.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela,mungkin karena terbiasa. Kebiasaan masa kecil yang menunggu hujan dari jendela kamar tamu, melihat seorang teman diantara sekumpulan bocah laki-laki yang tengah berlari menerjang hujan. Kadang duduk di kursi panjang sembari melahap gorengan, mie rebus, atau nasi goreng entah masakan ibuku atau buatanku sendiri.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela, mungkin sudah terbiasa. Kebiasaan ketika SMA dan hujan masih mengguyur di jam pulang. Aku dan sahabat-sahabatku lebih memilih tinggal. Tak bawa payung dan mantel, takut buku basah, malas pulang, atau memang ingin sekedar menghabiskan waktu menjadi alasan kami untuk bertahan di sekolah.

Pernah suatu sore sekitar pukul 15.30, ketika kelas sudah berakhir dan hujan turun cukup deras, aku memilih tinggal beberapa saat untuk sekedar menikmati suasana karena pulang ke kos mungkin akan membosankan. Aku tak sendiri di kelas lantai 2 itu, ada seorang sahabatku yang masih bertahan di sekolah. Bercengkerama, mendengarkan curhatnya, atau yang paling tak penting, membicarakan adek kelas idola selalu menjadi bahan yang menyenangkan dan mengundang tawa. Sore itu pun sama, kami melakukannya sembari berdiri dengan tangan bersandar di kusen-kusen jendela kelas yang basah oleh hempasan tetes air hujan dan dari sana tercium aroma tanah di bawah kelas yang dibawa oleh angin. Memang sudah sepi sore itu, hanya beberapa saja anak yg terlihat lewat di jalan dibawah kelas kami. Sore itu di kelas hanya menyisakan aku dan sahabatku ini. Cahaya matahari hampir-hampir hilang, entah memang ia mulai beranjak pergi atau karena awan gelap yang menyelimutinya. Hening, dingin dan gelap aku ingat benar suasana sore itu. Hanya suara kami yang menciptakan keramaian, hanya persahabatan kami yang kian terasa hangat, dan hanya ketulusan hati kami yang kala itu membuat seolah dunia ini amat terang.

Aku ingat, saat itu sahabatku memperkenalkanku pada sebuah lagu favoritnya “Telescope” milik Hollywood Nobody, alunan yang indah dari lagu menyempurnakan suasana sore itu.

image

image

Lalu kami kembali berkhayal akan mimpi-mimpi besar kami, pada hal-hal yang bagi kami saat itu amat kami yakini begitu mudah untuk diraih. Mimpi-mimpi yang kami gantungkan di bagian tertinggi jendela kelas, agar makin dekat harapan kami dengan langit. Dan setiap harinya mimpi itulah yang membangkitkan semangat kami disela kejenuhan belajar, meski semakin lama tulisannya makin pudar tapi tidak semangat kami kala itu.
Mungkin kini tulisan mimpi itu sudah tak lagi di jendela itu, tapi mimpi kami masih disana, mimpi kami masih ditempat yang sama.
Mungkin kini kami sudah amat lelah berjalan mengejar mimpi-mimpi itu, ditambah jalan yang kami lalui tak lagi sama seperti dulu, tapi jalan kami ini pun awalnya hanyalah sebuah mimpi di jendela.

Setelah hujan membasahi jendela,
Surabaya, 19 April 2016

Hujan dan Kamu (Gadis Payung)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Hujan tiba-tiba turun begitu deras 100 meter sebelum aku kembali menginjak tanah, turun dari bus yang sedari tadi membuatku ingin muntah. Matahari yang biasanya diatas kepalaku di jam-jam sekarang ini tengah bersembunyi terselubungi awan kelabu yang memuntahkan isi perutnya. Aku berjalan menuju barisan bangku ruang tunggu terminal, kubuka pesan dari handphoneku yang berjajar muncul. Tak lama ibuku menelpon menanyakan keadaan “hujan” kataku, ia menyuruhku menunggu hingga hujan reda, khawatir jika aku sakit akibat dinginnya sentuhan hujan. Aku menurutinya lalu kembali membalas beberapa pesan dari temanku. Senyum dan tawa kecilku muncul tanpa sadar, seorang teman disana mengucapkan doanya padaku, kami lama tak bertemu, jarak kami adalah sepanjang barat-timur Pulau Jawa tapi kami masih saja dekat, mengeluh dan tertawa akan masalah satu sama lain. Tak lama ia kemudian tak membaca pesanku,mungkin sedang sibuk. Aku mematikan handphone dan memasukkannya ke dalam kantung jaket biruku.

Aku menghela napas sejenak, menatap kosong kedepanku, lelah dan sedikit mual. Yang kulakukan hanya menatap sekitarku, mendapati lantai yang cukup bersih ditengah hujan seperti ini, entah dari arah mana muncul seorang pria berkaos biru membawa sapu dan jungki merogoh kolong bangku yang kududuki, ah ternyata bapak kurus paruh baya, berkulit sawo matang itulah yang menjaga lantai lorong ini.

Kusingkap sedikit lengan kiri bajuku, mengintip jam berapa sekarang. Sudah pukul 11.27, hampir setengah jam aku duduk disini, untuk sekedar menanti hujan yang tak pasti akan segera berhenti. Melihat hujan yang turun sedang rasanya akan butuh waktu lama agar para awan diatas sana kering. Ah, sebentar lagi adzan dhuhur, aku harus bergegas, belum lagi tugas yang berderet mengantri untuk dikerjakan. Sempat aku terpikir untuk menerjang tangan-tangan hujan tapi air mereka akan memelukku dingin dan aku akan basah kuyup.

Ah, ojek payung, bocah-bocah itu berebut penumpang didepan pintu ruang tunggu, mereka basah kuyup dari atas kepala sampai kaki. Kaos dan celana mereka lekat menempel di badan akibat basah. Kaki-kaki mereka berjalan kecil membuntuti orang yang menyewa payung mereka, tanpa sepatu, tanpa sandal, tanpa alas kaki.
Beberapa bocah lelaki itu kadang saling mengolok satu sama lain, bercanda dengan gaya khas Surabaya. Dan dari jendela didepan bangkuku, kudapati satu-satunya gadis kecil yang turut menyewakan jasa payungnya. Ia berdiri diam dibalik para lelaki yang lebih tinggi darinya, tanpa ikut berebut menawari penumpang bus. Aku mengamatinya beberapa saat, ia tak begitu sering mendapat penumpang, mungkin juga karena payung nya lebih kecil dibanding yang lain. Gadis kecil berbaju coklat itu baru saja mengantar seorang ibu ke bus tujuan Ambulu. Aku bergegas melepas sepatuku, menghampirinya dan memanggilnya dengan lambaian tangan.
“Payung mbak?”,tanyanya.
“Dek anterin aku ke parkiran yang sana itu ya” jawabku sambil menunjuk ke tempat penitipan motor yang cukup jauh.
Ia hanya menganggukkan kepala sembari menyerahkan payung merahnya. Kami berjalan bersama,merelakan diri melangkah digenangan air setinggi mata kaki. Air yang bercampur lumpur itu ternyata sungguh licin, membuatku hampir saja terpeleset. Aku kagum bagaimana anak-anak ini bisa berlarian sepanjang jalan ini tanpa pernah jatuh, mungkin karena kaki mereka sungguh kuat.

Gadis itu rela hujan-hujanan sembari bercanda dengan adik perempuannya, mereka berjalan dibelakangku dan kudengar tawa renyah mereka. Ak melambatkan jalanku, agar berjalan bersama mereka.
“Adek, kamu kelas berapa?”
“Kelas enam”
“Ooh… Kamu cewek sendiri ya ngojek payungnya? Nggk takut temennya cowok semua?”
“Nggk”, jawabnya singkat.
“Trus biasanya orang-orang kasih uang berapa?”
“Seribu mbak”.
Kontan saja aku kaget, terhenyak. Uang seribu sungguh berarti bagi mereka hingga rela basah kuyup menanggung risiko flu atau masuk angin. Ah,atau aku yang kadang terlalu tak menghargai rejeki yang ada, menyepelekan uang dan kesehatan.
Aku tiba di parkir motor tujuanku, kuserahkan payungnya. Kubuka dompet dari kantung jaket, mungkin mereka layak untuk mendapat rejeki lebih banyak sore ini.
“Makasih ya” kata terakhirku pada gadis itu.
Ia menerima uang dariku dengan ekspresi datar, ah semoga uang itu sedikit menyenangkan hatinya.
Aku duduk di kursi panjang penitipan motor itu, menunggu motorku diambil sembari menatap jejak-jejak air bekas langkah gadis payung itu. Aku hanya membatin dalam hati dan berdoa semoga ia tumbuh menjadi gadis yang baik, karena ia telah memberi pelajaran sederhana bagiku, dan sebuah kisah berharga dibawah payung, diantara hujan yang mengantarkan berjuta doa.

Surabaya,21 Februari 2016

Hujan dan Kamu (Doa Kemarin Sore)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Sore kemarin kelasku mendapatkan bonus luar biasa kuliah dari dosen, kami menjadi kelas yang terakhir membuka pintu keluar hari itu. Kami keluar ketika matahari bersiap pergi dengan jejak kemerahannya. Aku menghela nafas panjang sembari melangkah menuju selasar kampus,menemui temanku yang sedang menunggu. “Ah, iya memang banyak yang harus dikerjakan”, aku membatin dalam hati lalu tersenyum seolah tak ada lagi tanggung jawab di pundakku, berusaha berbaik sangka pada kapasitas diri.

Aku duduk disebelah temanku itu, bercengkerama sejenak sambil mengolok teman lain sebagai objek guyonan kami sore itu. Gelegar tawa melambung tinggi di atas kami, gaungnya berlarian cepat, memantul di dinding kelas. Setidaknya tawa dengan mereka selalu bisa membuatku bahagia,bahagia yang sederhana.

Aku menemui temanku yang lain, meniti setapak kecil ke halaman tengah kampus, dan duduk diatas papan kayu. Aku mendengarkan percakapannya dengan beberapa teman lain lalu mengalihkan mataku karena bosan mendengar topik pembicaraan mereka. Ketika itu aku bertatapan dengan langit, kini wajahnya telah gelap siap menurunkan jutaan rejeki dari Sang Maha Kaya.
Continue reading “Hujan dan Kamu (Doa Kemarin Sore)”

Hujan dan Kamu (Jagung Manis)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Mungkin cerita ini bisa dianggap Kecengohan Ini part 2 (baca post Kecengohan Ini). Cerita ini berawal ketika suatu hari pulang sekolah saat aku duduk di kelas 12 SMA dan mendung begitu pekat. Tapi entah karena alasan apa, sahabatku, Depe, singgah sejenak di kosku, ya seperti biasa. Dan tak lama setelahnya kita memutuskan untuk mencari jajanan di jalan sekitar SMAN 1 Kediri.  Bodohnya kami memilih berjalan kaki ya selagi jalan-jalan sore, padahal jelas saja mendung sudah bergelayut diatas kepala kami. Dan dengan seragam yg masih lengkap kami berjalan ke sana yang jaraknya sekitar 150 m dari kos ku. Seperti layaknya yang sudah kami duga sebelumnya hujan turun tak lama kemudian, tapi yang salah kami prediksikan adalah hujan turun deras dan tak kunjung reda disertai angin kencang. Masih beruntung memang karena kami sudah tiba di penjual jagung manis yang kami beli tapi angin terlalu kencang hingga tenda kecil penjual jagung manis itu berulang kali jatuh dan tempias air membasahi kami. Kami menghabiskan jagung manis hangat itu dengan badan kedinginan. Mungkin ada satu jam kami bertahan dan memutuskan untuk menyerah dari penantian redanya hujan yang tak pasti. Lalu apa yang kami lakukan? Berjalan hujan-hujan hingga ke kos? Ah.. nampaknya terlalu menyeramkan. Kami memutuskan naik becak, dengan membayar Rp 8.000,00 yang rasanya mahal sekali untuk pelajar saat itu. Tirai plastik becak ditutup, suara air menggrebek kami tapi hanya tawa dan gigil badan yang menggaung didalam becak. Sampai akhirnya kami tiba di kos, masuk ke kamar dengan sisa sisa tetes air yang membasahi lantai.

Surabaya, 19 Desember 2015

Karena Hujan telah Datang

image

Ketika hujan turun semalam, dan aku yang berteman dengan sehelai tikar, memandang langit-langit kamar berharap hujan turun dari sana bersama jawaban atas segala dugaan. Hujan itu adalah hujan ketiga di musim ini, ia belum lama datang dan entah kapan akan berhenti.
Kala hujan belum datang, aku hanya bisa melihat cahaya remang, kini setelah hujan datang cahayanya menjadi berbinar, cahaya yang menyela celah ranting dan dedaunan terlihat lebih anggun.
Kala hujan belum datang aku berteman dengan amarah yang mengotori lantai kamar dengan gerutu dan penat, kini setelah hujan datang airnya menyapu lantai kamarku membersihkannya dari kotoran, menyisakan aroma lumpur dan rumput di sepanjang jalan.
Karena hujan telah datang, aku bisa bersenang-senang, menari di antara butirnya yang berjatuhan. Karena hujan telah datang, tapi aku tak tahu kapan ia berhenti, maka biar saja kunikmati hujan-hujanan ini.

Surabaya, 27 Nobember 2015

Ketika Hujan

image

Aku suka ketika hujan, karena aku tak perlu menyiangi pot-pot bunga dan tanah di halaman rumah.
Aku suka ketika hujan, karena aku bisa menghemat listrik sebab tak perlu memutar kipas angin.
Aku suka ketika hujan, karena aku bisa menarik selimutku lalu tidur lebih nyenyak.
Aku suka ketika hujan, karena aku punya alasan untuk bermalas-malasan di dalam rumah.
Aku suka ketika hujan, karena aku akan dibuatkan semangkuk mie atau sekedar teh hangat oleh ibuku.
Aku suka ketika hujan, karena sekali saja jatuhnya membuat udara tak panas lagi.
Aku suka ketika hujan, karena jatuhnya ia bagai alunan denting piano yang dimainkan.
Aku suka ketika hujan, karena aku bisa mendengar suara lucu kodok dan jangkrik meski aku tak menyukai mereka.
Aku suka ketika hujan, karena aku bisa mencium bau khas tanah basah.
Aku suka ketika hujan, karena aku bisa melihat bulir air berlarian diatas daun hijau.
Aku suka ketika hujan, karena aku melihat air-air jatuh dari balik jendela kaca rumah.
Aku suka ketika hujan, karena aku punya banyak cerita bersama hujan.

Nganjuk, 8 Juni 2015

Kecengohan Ini…

Mendung sedikit menutupi langit, tak ada semburat jingga dilangit sore ini. Gerimis mengiringi kami,pergi mencari lembaran sejarah *fotokopi buku sejarah sahabat kami*. Saat pepatah mengatakan sedia payung sebelum hujan, kalimat ini harus diganti karena
Continue reading “Kecengohan Ini…”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

desember tiga

Hujan di kaca-kaca, hujan di kota-kota. Hujan bagai peluru, kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.