Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Tag

Keluarga

Selamat Ulang Tahun-Mestinya

Tahun ini mestinya engkau berulang tahun ke 58. Tapi 56 pun tak sampai. Aku masih ingat ulang tahun ke 55. Ya, sederhana sekali. Tak mungkin juga kau makan roti atau nasi kuning. Hanya ucapan selamat, dan yang kuucapkan dengan sangat datar dan tak bahagia sambil berlalu pergi untuk pamit berangkat sekolah. Betapa jahatnya aku karena itu adalah 17 oktober terakhir yang kulalui bersamamu.
Ulang tahun mama 4 November 2012. Ketika umurmu baru saja 54 tahun. Kejutan untuk mama kala itu membuatmu terlihat bahagia. Mesti senyum itu tak pernah berlanjut tawa. Betapa tak adilnya aku ketika tak pernah memberimu kue seperti yang kuberikan untuk mama. Meski kutahu sebenarnya kau sudah bahagia.
Atau bertahun sebelumnya ketika aku masih kelas 6, ketika aku memberikan surprise mie goreng yang kucetak. Mie instan sederhana yg rasanya dipuji mamaku begitu enak. Mie sbg hadiah ulang tahun pernikahan kalian. Saat kau masih bisa berjalan bebas meski sudah tak sehat. Dan sebuah kartu ucapan dan tulisan yang dibaca oleh mama dan kau juga mendengarnya  yang di dalamnya tertulis ” mama papa jangan berantem lagi apalagi cuma masalah sepele” tulisan anak SD yg tak berani kuucapkan. Pesan yang kutulis akibat sebuah percakapan yang ternyata jadi beban dan dendam bagiku. Dan kulihat kala hari ulang tahun itu kau tak berucap apa apa. Hanya tersenyum datar, kau selalu begitu.
Dan di ulang tahunmu yang mestinya ke 57. Kau menyapaku dalam mimpi yang kukisahkan dalam “Maafkan Ayah”  rasa salah itu kembali muncul meskipun entah siapa yang mestinya meminta maaf. Tapi aku sadar bahwa aku pun salah. Aku yang kekanak kanakan dan selalu lari dari keadaan.
Dan tahun ini, dimana mestinya aku mengucapkan “Selamat Ulang Tahun Papa!”, di umurmu ke 58-sama dengan jurusanku- hanya doa yang kini bisa teriring untukmu. Semoga aku bisa menjadi putri yang doanya dikabulkan Allah, yang doanya bisa menjadi amalmu, yang doanya bisa menyelamatkanmu di akhirat, dan semoga aku bisa menjadi anak cantik, pembawa rizqi dan kebahagiaan bagimu, sebagaimana namaku. Semoga aku bisa bertemu denganmu kelak dan mengatakan yang belum aku katakan. Ya Allah kabulkanlah doaku. Aamiin.

Surabaya, 17 Oktober 2015

Dua Bintang

image

Aku hanya melihat dua bintang di langit malam ini, dan aku tepat berada di antara keduanya. Kunamai mereka Bintang Timur dan Bintang Barat. Bintang Timur sama besar dengan Bintang Barat tapi Bintang Timur bercahaya lebih terang. Tiba-tiba angin berhembus sekali, pelan dan dingin. Aku merapatkan jaket yang kukenakan sedari tadi. Aku masih menatap langit, dan  kedua bintang itu masih disana. Jarak antara kedua bintang itu begitu jauh, mungkin di langit sana mereka terpisah berjuta tahun cahaya. Aku mencoba melihat lebih dekat, Bintang Timur tak sendirian. Ada bintang lain yang lebih kecil dan redup disekitarnya. Bintang-bintang itu sangat dekat dengan bintang timur, nampak bersahabat. Tapi kulihat bintang barat tetap sendiri, tak ada satu pun yang menemani. Ia tampak redup dan semakin redup.

Nganjuk, 5 Agustus 2015

Menu Berbuka Hari Ini

Sudah pukul 17.30, masjid di depan rumah baru saja menggemakan adzan magrib, tanda waktunya berbuka puasa. Aku dan ibu bergegas ke meja makan. Aku meneguk beberapa kali es markisa buatanku yang buahnya kupetik kemarin, lalu kulahap satu pisang goreng yang masih hangat pun buatanku sendiri. Hari ini memang semua yang ada di meja adalah masakanku karena ibuku yang seharian sibuk mencari tambahan rejeki. Ah, rasanya begitu kenyang hanya dengan makanan kecil ini, sungguh nikmat puasa. Seperti biasa aku tak langsung makan berat, tapi sholat magrib lebih dulu ditambah surat Al-Qamar untuk menenangkan hati. Aku kembali ke meja makan dan mendapati piring ibuku telah bersih. Menu kami hari ini sup, tahu goreng, dan istimewanya ada krupuk puli hari ini. Baru dua suapan nasi yang kumakan, tiba-tiba saja aku teringat pada beberapa tahun lalu.
Continue reading “Menu Berbuka Hari Ini”

Maafkan Ayah…

Maaf ayah, aku terlalu sibuk.
Maaf ayah, aku terlupa sejenak.
Maaf ayah, bahwa bahkan mimpi itu tak menghelakan aku dari ketidaksadaran.
Maaf ayah,bahkan setelah 3hari aku baru menyadari.
Maaf ayah karena mungkin engkau merindukan hadiah yg telah lama tak kulantunkan.
Maafkan aku ayah…

Ya Allah jadikan hamba anak yang sholehah.
Ya Allah jadikan hamba satu dari yang doanya diijabah.
Ya Allah jadikan malam-malam hamba terus teringat padanya dan pada-Mu.
Ya Allah teruslah mengindah setiap waktu di duniaku dan dunianya.
Ya Allah pertemukan kami dalam suatu waktu di indah surga-Mu.

7-6-2013, 19.17

Rasanya dada sedikit menyempit malam ini, ada hal aneh yang kurasakan. Ingin menangis pun aku tak mampu, seolah kuat namun hati nyatanya tak sepakat. Ingatan itu kembali muncul, hari yang sama di jam yang sama setahun lalu, yang kulakukan hanyalah
Continue reading “7-6-2013, 19.17”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Desember

Desember bagai peluru; kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.