Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Tag

Sahabat

Pernah Gak Kamu Tiba-Tiba Sedih?

Ini tentang kepenatan hati. Rasa penat yang entah kenapa alasannya,  darimana asalnya, dan siapa penyebabnya.

Embung ITB Jatinangor (by: Deliana PS)
Aku sendiri bingung. Sekitar seminggu ini rasanya suasana hatiku tengah tak baik. Tapi anehnya bahkan aku sendiri tak tau kenapa,mungkin karena terlalu banyak. Atau bisa jadi karena sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk berkeluh kesah tapi aku ingin menyalahkan keadaan dan mencari pembenaran atas diri sendiri. Kepenatan ini berujung pada aku yang pulang kampung selama 3 hari dalam seminggu, tapi tak melakukan apa-apa. Berada di rumah memang sedikit mengobati. Tapi ya,aku harus kembali lagi ke kota ini. Tempat yg mungkin adalah asal dari semua perasaan buruk ini. Aneh memang, aku sendiri tak mengerti. 

Kebahagianku di negeri rantau ini hanya sesaat. Hanya ketika aku ada urusan diluar, bahagia sesaat, lalu kembali berpura bahagia. Sungguh munafik rasanya. Tapi aku sendiri merasa menunjukkan kesedihan dan segala perasaan buruk itu tak baik. Bahkan biasanya ketika musibah terang-terangan datang menimpa, aku menceritakannya pada temanku dengan tertawa. Tapi hanya sedikit yang mengerti mana bahagiaku sesungguhnya.

Sesekali kepenatan ini pun kubagi dengan temanku yang memahami tawaku itu. Dia juga mengalami hal yang sama akhir-akhir ini. Katanya, “Pernah gak sih kamu tiba-tiba ngerasa sedih?” Kami memang saling menyemangati tapi nyatanya juga kami kembali saling mengeluh ketika bertemu realita. Lalu berandai akan mimpi-mimpi lama itu,dan semua perandaian yang tak bisa kami wujudkan. Memang semua angan kami akan indah jika nyata adanya, salah satunya, “Andai kita ditempat yang sama,mungkin aku tak akan sebosan ini.” Mungkin kami akan berboncengan untuk sekedar berkeliling kota. Mencoba menu makan baru yang aneh dan penuh spontan. Duduk di suatu tempat hanya untuk membicarakan ketidakpentingan. Tapi semua hanya sebatas angan.

Sudahlah, mungkin semua ini hanya wujud kelemahan kami. Kelemahan seorang manusia yang terlalu ingin nyaman, seorang yang kurang bisa menekan dirinya sendiri. Seorang yg bahkan tak bisa tegas pada dirinya sendiri. Lalu mencari pelarian dengan pulang. Padahal lari pulang tak pernah bisa membuatnya melewati apa yang ada di depannya.

Setelah perbincangan yang selalu terulang dengan orang yang sama.

Tulisan yang jadi awal 30 days writing challenge,tapi berakhir di hari ke 10.

Surabaya,15 Maret 2017

Advertisements

Pertemuan

​Aku tersentak kaget bangun dari tidurku di tengah malam, amat berisik, menyebalkan. Ah, ternyata hujan akhirnya turun juga setelah sekian lama terik matahari di kota ini amat menyiksa. Setidaknya hujan ini berhasil menghiburku, aku bisa bangun kemudian tersenyum tipis untuk beberapa saat.

Tak seperti malam-malam sebelumnya, aku terbangun entah karena sekedar kepanasan atau karena angan pikiranku yang terbawa mimpi hingga membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak.
Sudah sebulan aku kembali ke Surabaya dan sampai sekarang apa yang amat ingin kulakukan adalah pulang. Menghilang dari rutinitas, dari tanggung jawab, dan dari berbagai tuntutan. 

Kembalinya aku ke kota ini setelah beberapa saat layaknya sebuah pertemuan denganmu. Kadang bisa menyenangkan, kadang teramat menyebalkan. Dan pertemuan itu layaknya pula hujan yang turun malam ini, datang tak pernah diduga setelah sekian lama tak turun, dan bersamaan dengan kedatangannya ada banyak rasa yang terlibat.
Kadang aku bingung bagaimana mengisi suasana menyenangkan dalam sebuah pertemuan pertama setelah sekian lama tak bersua. Kadang aku lebih memilih pergi, mencari jalan aman karena kurasa memang itu yang terbaik. Tapi kadang keadaan malah sebaliknya,pertemuan itu yg mengejarku, mengajakku memasukinya meski hanya sekedar duduk diam. 
Seringkali pertemuan dari sebuah hal yang telah lama tak ada,bisa sangat menyenangkan. Menceritakan kehidupan terbaru dan mengungkit kenangan masa lalu. 
Tapi sebuah pertemuan bisa menjadi amat buruk ketika kau selalu berbicara dalam hati agar pertemuan itu tak terjadi,tapi seketika itu waktu menjebakmu dalam keadaan yang tak kau harapkan itu. 
Tapi kau tentu tahu bahwa bahkan sehelai daun pun tak akan jatuh tanpa ijin Allah, apalagi sebuah pertemuan,tak mungkin hanya ada kebetulan di dalamnya. 

Meskipun begitu, apa kamu tahu apa yang paling kubenci dari sebuah pertemuan? Bahwa aku selalu melibatkan hati didalamnya.
Surabaya, 24 September 2016

Hujan dan Kamu (Tahu Campur)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Hujan turun begitu deras sejak sore kemarin, dan jauh lebih lama dari biasanya jika sederas ini. Aku masih terdiam di dalam kamar kosku, merenung dan menulis, berharap hujan segera reda karena ada yang harus dikerjakan di luar. Aku masih bertahan di atas ranjang sampai kemudian adzan magrib berkumandang, dan betapa kagetnya aku ketika tiba-tiba air meluncur masuk dari sela-sela bawah pintu. Sontak aku kaget karena air sudah menyentuh laptop yang kugeletakkan dilantai, baru kutaruh kasur pun kepanikan lain muncul. Tugas bangunan air yang selalu sukses membuat tak tidur pun hampir disentuh air yang mengalir deras itu. Ada apa ini? Darimana air masuk? Tentu saja hal ini membuat seisi kos panik, dua anak kamar paling belakang menjadi korban pertama yang sadar dan kami langsung mengetuk pintu belakang ibu kos. Bu kos yang sebagian anak memanggilnya “eyang” ini, langsung kaget bukan main dan memanggil “yang kung” karena air yang mengalir itu sudah begitu cepat tingginya. Baru kali ini kosku banjir seperti itu, dibilang sedih ya sedih tapi aku yang selalu menertawakan hidup akhirnya tertawa bersama bu kos dan anak lain. Banjir meluas ke seluruh area kosan. Hanya beberapa kamar saja yang selamat karena elevasinya yang agak tinggi. Air sudah mencapai batas maksimum, air di halaman dan di dalam sudah sama tingginya, saluran di depan rumah pun sudah penuh. Apalagi hujan belum kunjung reda sampai pukul 19.30 WIB. Akhirnya kami menyerah untuk menguras air yang merangkak naik dari ke atas mata kaki.

Aku memutuskan untuk mengungsi. Belum berakhir disana, banjir ternyata menggenang di jalanan menuju kos temanku, beruntung kos temanku yang lebih tinggi aman dari air. Aku langsung mandi, kakiku sudah sangat gatal. Hah,menguras air tadi mungkin sukses membuatku olahraga. Aku lapar, aku dan temanku hanya bisa berharap ada tukang jual makanan yang lewat.
Aku berkata, “Mana mungkin ini banjir parah”, tapi dugaanku salah, tak lama ada penjual tahu campur lewat, kami tentu sangat bahagia, bunyi keroncongan ini mungkin akan berubah menjadi disko.

Aku menatap tahu campur itu pada suapan yg kedua. Tahu campur hangat ini mengingatkanku pada beberapa tahun yang lalu. Saat itu juga hujan, tapi gerimis tak deras, pagi hari bukan malam, dan di Kediri bukan Surabaya. Sepiring tahu campur saat itu kubeli pun tanpa rencana. Setelah berenang dipagi hari, bersama seorang sahabat, dan kode paling hebat yang kita katakan
“Pe, kamu tahu kan apa yang kupikirkan?”
“Pong, apakah kamu berfikir apa yang kupikirkan?”
“Ya”. Kita selalu kompak tentang pertanyaan itu, dan jawabannya pasti tak jauh dari urusan perut.

Pagi itu kita bingung makan dimana, dan keputusan yang lagi-lagi spontan kali itu adalah berhenti di penjual kaki lima yang menjajakan tahu campur. Mungkin abang penjual tahu itu pun baru sampai di depan salah satu bank nasional itu. Mungkin kami pembeli pertama, kami menghabiskan tahu campur itu dengan cepat, di pinggir jalan di kala gerimis belum lama datang.

Surabaya, 31 Mei 2016

Hujan dan Kamu (Jendela)

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Aku sering berlari bersamanya,kadang berdansa dan menari dibawah tangannya.

image

Mimpi Jendela (dok. pribadi 2013)

Seharian ini turun hujan, kadang deras, lalu gerimis kecil, hanya diam sesaat lalu deras lagi. Aku dan seorang sahabat menghabiskan waktu seharian ini di kampus, kuliah, kosong sebentar, kuliah lagi, sholat, makan lalu kuliah lagi. Membuang waktu di ruang kelas selama berjam-jam, dengan hujan yang terus mengetuk jendela kelas. Di sela pergantian kuliah, aku hanya memandang hujan, lewat jendela kelas, menerawang jauh dari sela semak belukar.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela,mungkin karena terbiasa. Kebiasaan masa kecil yang menunggu hujan dari jendela kamar tamu, melihat seorang teman diantara sekumpulan bocah laki-laki yang tengah berlari menerjang hujan. Kadang duduk di kursi panjang sembari melahap gorengan, mie rebus, atau nasi goreng entah masakan ibuku atau buatanku sendiri.

Aku paling suka memandang hujan dari jendela, mungkin sudah terbiasa. Kebiasaan ketika SMA dan hujan masih mengguyur di jam pulang. Aku dan sahabat-sahabatku lebih memilih tinggal. Tak bawa payung dan mantel, takut buku basah, malas pulang, atau memang ingin sekedar menghabiskan waktu menjadi alasan kami untuk bertahan di sekolah.

Pernah suatu sore sekitar pukul 15.30, ketika kelas sudah berakhir dan hujan turun cukup deras, aku memilih tinggal beberapa saat untuk sekedar menikmati suasana karena pulang ke kos mungkin akan membosankan. Aku tak sendiri di kelas lantai 2 itu, ada seorang sahabatku yang masih bertahan di sekolah. Bercengkerama, mendengarkan curhatnya, atau yang paling tak penting, membicarakan adek kelas idola selalu menjadi bahan yang menyenangkan dan mengundang tawa. Sore itu pun sama, kami melakukannya sembari berdiri dengan tangan bersandar di kusen-kusen jendela kelas yang basah oleh hempasan tetes air hujan dan dari sana tercium aroma tanah di bawah kelas yang dibawa oleh angin. Memang sudah sepi sore itu, hanya beberapa saja anak yg terlihat lewat di jalan dibawah kelas kami. Sore itu di kelas hanya menyisakan aku dan sahabatku ini. Cahaya matahari hampir-hampir hilang, entah memang ia mulai beranjak pergi atau karena awan gelap yang menyelimutinya. Hening, dingin dan gelap aku ingat benar suasana sore itu. Hanya suara kami yang menciptakan keramaian, hanya persahabatan kami yang kian terasa hangat, dan hanya ketulusan hati kami yang kala itu membuat seolah dunia ini amat terang.

Aku ingat, saat itu sahabatku memperkenalkanku pada sebuah lagu favoritnya “Telescope” milik Hollywood Nobody, alunan yang indah dari lagu menyempurnakan suasana sore itu.

image

image

Lalu kami kembali berkhayal akan mimpi-mimpi besar kami, pada hal-hal yang bagi kami saat itu amat kami yakini begitu mudah untuk diraih. Mimpi-mimpi yang kami gantungkan di bagian tertinggi jendela kelas, agar makin dekat harapan kami dengan langit. Dan setiap harinya mimpi itulah yang membangkitkan semangat kami disela kejenuhan belajar, meski semakin lama tulisannya makin pudar tapi tidak semangat kami kala itu.
Mungkin kini tulisan mimpi itu sudah tak lagi di jendela itu, tapi mimpi kami masih disana, mimpi kami masih ditempat yang sama.
Mungkin kini kami sudah amat lelah berjalan mengejar mimpi-mimpi itu, ditambah jalan yang kami lalui tak lagi sama seperti dulu, tapi jalan kami ini pun awalnya hanyalah sebuah mimpi di jendela.

Setelah hujan membasahi jendela,
Surabaya, 19 April 2016

Bila Kamu Rindu

Bila aku tengah rindu pada banyak hal.
Bila aku tengah rindu pada apa pun itu.
Bila aku tengah rindu pada kamu.

Aku tengah rindu pada kamar kecil dengan tiga orang didalamnya.
Aku tengah rindu pada gelak tawa di kamar belakang.
Aku tengah rindu pada semangkuk mie instan dan segelas sereal.
Aku tengah rindu pada malam malam yang penuh perbincangan.
Aku tengah rindu pada apa yang kusebut rumah singgah.

Aku tengah rindu pada sebuah senyum dedaunan pohon mangga di pelataran
Aku tengah rindu pada batang padi yang mulai menguning.
Aku tengah rindu padan awan yang berarak mengejarku.
Aku tengah rindu pada jalanan aspal tipis yang telah rusak.
Aku tengah rindu pada apa yang kusebut rumahku. Continue reading “Bila Kamu Rindu”

Teman yang Menemani Berjalan

Untuk teman yang pernah menemaniku berjalan. Rasanya sungguh aku punya banyak dosa pada kalian. Membunuh beberapa menit waktu kalian akibat menemaniku berjalan, bukan karena perjalannya tapi karena tambahan waktu yang harus dibuang untuk meladeni pertanyaan mereka, untuk pertanyaan yang pasti kalian sebenarnya sudah tahu jawabannya, pertanyaan yang kalian tahu sangat kubenci. Dan saran-saran yang semakin sulit kuterima, saran-saran yang sudah bosan kudengar, bermacam saran yang kuanggap klise karena sejenisnya sudah pernah kujalani. Ah aku sungguh berdosa pada kalian, yang mau tak mau merasa iba, yang mau tak mau berusaha mengalihkan pembicaraan karena kupaksa. Ah sungguh maafkan aku sahabat, dan terima kasih karena tak malu menemaniku berjalan, karena membuatku yakin bahwa berjalan denganmu selalu menyenangkan dan membuat ketakutan diawal dunia baru itu hanya menjadi dugaan.
Entah siapa lagi kelak yang menjadi temanku berjalan, entah siapa tapi siapa pun itu semoga kamu menjadi teman perjalanan yang menghilangkan ketakutan, menghadirkan kenyamanan dan ikhlas menerimaku menjadi bagian kecil di hidupmu.
Untuk para sahabat yang menemani berjalan
Intan, Deliana, Anna dan teman berjalanku yang terbaik, Mama

Surabaya, 26 Desember 2015

Cerita Para Sahabat (2)

image

Semua hal selalu berubah, dan perubahan itu seringkali menyebalkan. Tapi coba bayangkan bila kita tak mengenal perubahan. Kita tak akan mengenal cerita. Dan cerita para sahabatku ini terus berlanjut hingga hari ini, dan semua memberi kami sebuah pelajaran berarti.
Sahabatku yang pertama, ia tengah berusaha melupakan rasa pada pria yang dulu disukainya. Karena dia tahu tak akan berhasil, ya, rasa itu tak akan berhasil, tak ada kelanjutan dari keduanya. Dan sahabatku tahu bahwa mereka bukannya malah semakin dekat tapi semakin jauh. Dan kini ia hampir berhasil, bersamaan dengan itu pula ia berkenalan dengan banyak pria lain berharap ada satu yang cocok untuknya.
Sahabatku yang kedua, kekaguman itu masih berlanjut. Dan masih sering ia utarakan kekagumannya akan pria itu padaku. Tapi kehidupan yang ia jalani sekarang memaksanya berjumpa dengan lebih banyak pria, bekerja sama dengan mereka, pun termasuk pria yang ia kagumi. Tapi akibat itu ia menemui lebih banyak pria baru yang lalu ia kagumi. Ketika kutanya kenapa kamu tak setia mengagumi satu pria saja? Jawabnya ringan, “Adalah agar aku bisa mencintai ala kadarnya, tak berlebihan, dan selagi aku bisa membagi perasaanku, sebelum ketika saatnya nanti aku tak lagi diijinkan mencintai yang lain”.
Sahabatku yang ketiga. Semua kedekatan itu sudah berakhir sekarang. Tak ada percakapan lagi di akun media sosialnya. Sang pria itu memang sudah menemui wanita lain. Wanita yang sahabatku tahu namanya, yang ia tahu orangnya, dan ia tahu bahwa si pria itu telah menjalin hubungan dengan wanita itu. Bahkan sahabatku menemui mereka berjalan bersama dalam suatu acara. Ia mengakhiri rasanya dengan terpaksa. Rasa yang ia buat sendiri, ia duga-duga sendiri dan ia kembangkan sendiri. Dan kini rasa suci itu masih dijaganya untuk pria lain yang mungkin memang jauh lebih tepat untuknya.
Sahabatku yang keempat, ia sudah mengetahui kejelasan dari semua pertanyaan ini. Pertanyaan yang selalu dipertanyakannya tapi lama tak terjawab. Dan akhirnya semuanya jelas sudah. “Lelaki itu brengsek”, katanya. Pria itu yang sengaja berkhianat, ia yang melangkah lebih dulu pada kebohongan, dan bodohnya sahabatku mementingkan perasaan daripada logikanya. Dan kini ia sadar bahwa perasaan terlalu lemah untuk dipercayai walaupun memang wanita selalu bertumpu pada perasaan, pada hatinya.

Lalu bagaimana denganku? Apakah ceritaku juga berubah seiring cerita para sahabatku yang berubah. Dan ternyata iya. Rasa itu kini tak lagi sama, kadang berkurang entah karena siapa yang berubah, siapa yang menjadi lebih baik. Entahlah, tapi rasa itu tak sehebat dulu. Mungkin aku sudah lebih tegas menjaga hati, memperingatkan diri akan ketidakpantasan. Lalu menyibukkan diri dengan hal lain yang jauh lebih rumit. Ah, sebuah kalimat yang dikirim seorang sahabat mungkin benar. “Cinta kepada Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang kau cintai berbuat baik kepadamu dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar padamu.” Dan semoga memang cintaku pada Allah jauh lebih besar. Mungkin memang selalu begitulah hati kami, wanita yang hatinya terombang-ambing seperti kapal dilautan luas, -seperti sekoci- kata seorang sahabatku. Tapi setidaknya dari semua cerita ini kita selalu belajar, lalu bersyukur atas ujian yang berakhir. Dan dari cerita ini mungkin akan lahir berjuta cerita baru, dari para sahabatku yang nanti hatinya akan berlabuh pada satu orang, seseorang yang menemani dua pertiga hidupnya.

Surabaya, 15 Oktober 2015

Tak Kokoh

image

“Seharusnya kau bisa berdiri lebih kokoh nak” kata seorang sahabatku diujung lain pulau ini. Mungkin baginya ketika menulis itu hanyalah sekedar quote sederhana yang seringkali kita ucapkan satu sama lain. Dan sore ini quote yang ia tuliskan meski sederhana namun begitu tajam. Ah iya, mestinya aku jauh lebih kokoh, lebih kuat dari ini. Bagaimana bisa aku seperti ini, selama ini sok alim dan sok dewasa ketika sahabat berkisah tentangnya. Memberi nasihat dan berkisah indah, bahkan pernah menertawakan patah hatinya sahabat. Tapi aku sendiri nyatanya apa? Aku tak sekokoh itu. Aku tak sebaik itu. Hatiku tak lebih baik dari mereka. Layaknya omong kosong para pembual yang parau dan menyayat.
Surabaya, 26 Agustus 2015.

Cerita Para Sahabat

image
Source: Ketika Cinta Bertasbih

     Satu lagi seorang sahabat mengirim ceritanya padaku. Tak jauh berbeda dengan yang lain. soal cinta. Aah,entah kenapa kami semua merasakan hal sama, mungkin jutaan wanita diluar sana juga merasakan hal yang sama. Entah mengapa mereka bercerita padaku, padahal mereka rasanya lebih berpengalaman soal cinta. Mereka tak selalu butuh saran, mungkin sekalimat quote didengar itu sudah cukup. Inilah secuplik kecil kisah cinta itu.
       Sahabatku yang pertama

Continue reading “Cerita Para Sahabat”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

DESEMBER

Desember bagai peluru; kadang bising, kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.