Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Tag

Saya

Harry Potter dan Kakak di Balik Tirai

Baru saja aku menyelesaikan salah satu film Harry Potter untuk kesekian kalinya dan aku masih saja menyukainya, Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, film adaptasi dari novel yang berjudul sama, karangan JK.Rowling. Dan seketika aku jadi ingat saat pertama kali film ini diputar di layar kaca,di Trans TV. Saat itu aku baru saja masuk kelas 7 SMP sangat baru bahkan karena saat itu aku belum pernah merasakan kelas dan bangkuku. Aku bolos sekolah mulai dari MOS sampai 2 minggu pertama pelajaran. Bukan karena aku tak mau kena bully senior tapi saat itu aku memang harus dan dipaksa untuk ke Surabaya. Ya, mencoba lagi pengobatan medis yang sebenarnya dulu sudah pernah kurasakan.

Malam itu aku ingat betul tgl 22 Juli 2007, karena keesokannya adalah hari anak.
Sungguh menyenangkan karena seorang kakak perempuan disebelah kamarku baik sekali dan mengajak ku menonton film itu bersama, tirai yang membatasi ranjang kami dibuka. Ibunya dan ibuku sama-sama sudah terlelap dalam tidur. Lampu kamar kami pun sudah dimatikan, hanya remang cahaya tv yang menemani. Film dimulai, kami menonton bersama, terkejut ketika ada berbagai keajaiban muncul disana. Ketika film hampir selesai malah kakak itu tidur, nampaknya ia memang sudah lelah menjaga ibunya seharian sebagaimana ibuku yang sesekali terbangun lalu menyuruhku tidur namun kuabaikan. Saat itu pertama kalinya aku menonton film ini full, tanpa kantuk hingga lewat tengah malam yang saat itu hampir tak pernah kulakukan,tidur malam. Ah,selalu menyenangkan menonton dengan kakak itu, kakak dibalik tirai itu juga selalu menyapa dengan ramah. Kakak itu pergi lebih dulu dariku,ia pulang ketika aku bahkan belum masuk ruang steril yang suram itu. Meski kini aku sudah lupa namanya, aku hanya berharap semoga ia selalu sehat dan dikelilingi orang yang baik sepertinya.

Surabaya, 3 Januari 2016.

Advertisements

Jika Aku Mati (21-212)

3 tahun lalu aku seringkali merasa umurku tak akan panjang, serasa maut sudah begitu dekat. Entah apa yang membuat bayang itu sungguh kuat, menjadi ketakutan yang kupendam sendiri apalagi ketika mimpiku pun seakan menyapa maut.
Sekarang ketakutan itu tak begitu sering singgah, tapi aku masih sering berfikir, apa yg terjadi jika aku mati hari ini? Apakah alam setelah dunia akan lebih nyaman bagiku?
Bagaimana kehidupan orang-orang yang kukenal tanpaku?
Apakah mamaku merindukan sebuah mimpi bertemu denganku? Apakah teman-temanku akan menangisi kepergianku? Akankah orang yang kukenal merasa kehilangan?
Mungkinkah ada yang merasa lebih bahagia hidupnya tanpa kehadiranku?
Siapakah orang yang mengenang waktu bersamaku?
Apakah mereka membutuhkanku untuk membantu mereka?
Apakah ada diantara mereka yg menggantungkan sesuatu padaku sehingga mereka tak lagi dapat mengerjakannya setelah aku mati?
Sifatku seperti apa yang akan jadi bahan pembicaraan mereka?
Atau adakah benda benda yg mengingatkan mereka padaku? Mana yg lebih banyak, duka atau tawa?
Hanya Allah yang tahu jawaban semua pertanyaan itu tapi semua jawaban itu masih bisa dirubah sekarang.

Rumah, 21 Februari 2016

Menu Berbuka Hari Ini

Sudah pukul 17.30, masjid di depan rumah baru saja menggemakan adzan magrib, tanda waktunya berbuka puasa. Aku dan ibu bergegas ke meja makan. Aku meneguk beberapa kali es markisa buatanku yang buahnya kupetik kemarin, lalu kulahap satu pisang goreng yang masih hangat pun buatanku sendiri. Hari ini memang semua yang ada di meja adalah masakanku karena ibuku yang seharian sibuk mencari tambahan rejeki. Ah, rasanya begitu kenyang hanya dengan makanan kecil ini, sungguh nikmat puasa. Seperti biasa aku tak langsung makan berat, tapi sholat magrib lebih dulu ditambah surat Al-Qamar untuk menenangkan hati. Aku kembali ke meja makan dan mendapati piring ibuku telah bersih. Menu kami hari ini sup, tahu goreng, dan istimewanya ada krupuk puli hari ini. Baru dua suapan nasi yang kumakan, tiba-tiba saja aku teringat pada beberapa tahun lalu.
Continue reading “Menu Berbuka Hari Ini”

Saya, Hari ini

image

Jika saya ada diantara sekian banyak orang, mata anda pasti akan dengan mudah menemukan saya. Saya berbeda dari orang lain tapi saya sama dengan anda, manusia biasa. Saya mudah bosan, sehingga saya selalu ingin mencari yang baru meski seringkali saya takut untuk memulai. Saya tak pandai bicara tapi suka bermain kata. Saya kadang terlalu malas, tapi berusaha rajin dalam mengemban amanah. Saya kadang bersedih tapi saya selalu menemukan kebahagian disela-sela kesulitan.
Saya Continue reading “Saya, Hari ini”

Lahir

Selasa legi, 21 Februari 1995, 21 Ramadhan… jam 10 pagi. Kakakku merengek meminta agar bude segera membawanya ke rumah sakit. Budhe bersikeras menolak,meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. Kakak sepupuku masih disekolah,mungkin karena itu ia kesepian tak ada teman bermain. beruntung tetanggaku adalah teman seumurannya, Bagus. pakdhe dan budhe masih saja membujuk kakakku yg msh berumur 4,5 th itu,nenekku membantu namun tetap saja selalu sabar.  Ia terus saja merengek, merepotkan. “adekku lahir, ak mau liat adek lahir”.
Continue reading “Lahir”

Maafkan Ayah…

Maaf ayah, aku terlalu sibuk.
Maaf ayah, aku terlupa sejenak.
Maaf ayah, bahwa bahkan mimpi itu tak menghelakan aku dari ketidaksadaran.
Maaf ayah,bahkan setelah 3hari aku baru menyadari.
Maaf ayah karena mungkin engkau merindukan hadiah yg telah lama tak kulantunkan.
Maafkan aku ayah…

Ya Allah jadikan hamba anak yang sholehah.
Ya Allah jadikan hamba satu dari yang doanya diijabah.
Ya Allah jadikan malam-malam hamba terus teringat padanya dan pada-Mu.
Ya Allah teruslah mengindah setiap waktu di duniaku dan dunianya.
Ya Allah pertemukan kami dalam suatu waktu di indah surga-Mu.

Bisakah Kalian Diam?

image

Aku sudah lelah mendengar pertanyaan mereka, menjawabnya satu persatu. Mengulanginya hampir tiap kali datang ke dunia baru. Mungkin aku harus menulis buku biografi sekarang. Memaksa para penanya itu membeli bukuku, menambah pundi uangku sekaligus menyelesaikan masalah pertanyaan itu atau malah akan menambah deretan para dermawan yang ingin menanggung biayanya,bahkan bisa jadi menambah keraguan mereka akibat alasan penolakan penolakanku sebelumnya bisa puas kuungkapkan. Aku bukannya tidak mau, aku hanya lelah. Aku pun tak memahami kelelahan ini, sejauh ini aku tidak melakukan apapun, ibuku yang selalu mengurus semuanya, ibuku yg menyeleksi dan memilih satu satu dari puluhan cara yang ditawarkan sana sini. Sampai sebesar ini pun aku masih pasrah, meniru ayahku mungkin, bermalas-malasan untuk berangkat ke tempat satu ke tempat lain, belum lagi teganya aku marah dan merengek pada ibu. Merusak banyak rencananya, meski akhirnya aku kalah dan pasrah saja dengan pilihan yang sudah diputuskan akibat ketakutan saat ibuku mulai marah, mungkin juga aku masih memiliki batas ambang tega yang rendah, aku seringkali memilih menenangkan suasana sementara,dan mengulangi penolakan-penolakan sejenis atas usaha yang tak jauh berbeda dari sebelumnya hingga saat ini.Ya, aku masih terlalu egois,kekanak kanakan atau apalah kalian menyebutnya tapi aku tak bisakah kalian diam? Aku hanya ingin melupakan masalah itu, menjadikannya bukan masalah, menganggapnya tidak pernah terjadi, menjalani hari dengan normal,dengan biasa saja.
Mereka terlalu bising, dengungannya melengking di telingaku. Pandangan mata mereka pun menyilaukan nan tajam seperti elang mengancam mangsanya.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

desember tiga

Hujan di kaca-kaca, hujan di kota-kota. Hujan bagai peluru, kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.