Search

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

Tag

CEITS2013

Tidakkah Kita Malu?

 

Ada yang mengejutkan di soreku hari ini. Padahal akhir pekan ini kuawali dengan biasa saja, bangun di waktu biasa, tidak melakukan apa-apa, bertemu beberapa orang, lalu ke kampus demi mencari jaringan internet gratis seperti biasa. Panasnya Surabaya hari ini pun tak beda jauh dengan beberapa hari lalu, masih sekitar 34-37 °C saat tengah hari. Pun suasana di kampus sama saja, sama sepinya, karena teman-teman seangkatanku sebagian besar sudah melalang buana mencari masa depannya sendiri. Suasana kampus kini tak sama seperti dulu, meski ada junior yang mengurus kegiatan organisasinya, tapi tetap saja berbeda. Beberapa pekerja merapikan taman jurusan, sebagaimana yang mereka lakukan pekan kemarin, menebang pohon yang merimbun diatas atap kelas, dan satu-satunya yang membedakan hanya pohon yang ditebang. Isi notifikasi telepon pintarku bahkan tak jauh beda, lagi-lagi soal tugas, dari tugas kuliah sampai yaa sebut saja tugas negara. Meski terdengar sangat membosankan tapi aku mungkin harus bertahan disini hingga matahari sedikit bergulir ke barat, ditemani segelas yogurt rasa kopi rekomendasi salah seorang temanku.

Tak lama adzan dhuhur berkumandang. Ketika baru saja aku akan beranjak, seorang yang kukenal mendekat, menyapa. Ia juniorku, selisih tiga tahun. Kami duduk bersanding, di pelataran selasar kelas. Aku tersenyum melihatnya, sembari melanjutkan mencari beberapa hal di laptopku. Curhatnya bahkan masih tak berbeda jauh, tentang kuliah, dosen-dosen yang ia rasa tak nyaman, keresahannya memilih bidang, dan segala kekhawatirannya yang dulu juga kurasakan.

Seperginya ia aku mengemasi barangku, pergi berwudhu dan sholat. Seusai sholat aku masih bertahan di mushola, dengan alasan yang selalu kuberikan “nyari AC” karena kota ini memang tak pernah ramah dengan suhunya. Aku bertahan disana lebih dari 1,5 jam, sembari membuka laptop dan meluruskan punggung dibalik tirai pembatas agar tak terlihat dari luar. Karena cukup lama disana aku jadi merasa bosan, dan ingin kembali ke selasar.

“Ah, tapi waktu sholat ashar tak seberapa lama lagi”, gumamku. Aku memutuskan untuk bertahan. Tiga orang wanita datang ke mushola untuk sholat. Ketika mereka pergi dua orang pria datang, pun ternyata baru saja akan sholat.

“Dasar cowok kok sholat ngaret. Di mushola lagi, gak ke masjid” pikirku. Lalu aku kembali berkutat dengan laptopku. Tak lama setelah 2 pria itu pergi, datang 2 pria lain.

“Ah, makin parah nih, udah mepet banget sama waktu ashar”. Sayup kudengar mereka bercakap, suaranya terdengar tak asing, bahkan amat dikenal telinga, tapi aku hanya diam dan tak beranjak.

Ternyata kedua pria ini ke mushola ini tidak untuk sholat. Mereka datang membawa alat kebersihan seperti pel, pembersih lantai, dan entah apa lagi. Aku masih saja diam, sampai salah satu dari mereka menyingkap tirai itu, terkaget melihat ada orang tepat dibaliknya. Aku melihatnya sekilas, dan memastikan melihat wajahnya, dan memang ia temanku, teman satu angkatan. Dua pria itu bukan anak yang terkenal alim apalagi aktivis organisasi kerohanian, tapi sungguh apa yang mereka lakukan jauh lebih mulia dari kita,orang-orang yang dianggap alim, yang teman lain kadang meng”eksklusifkan” kita, tapi kita bahkan acuh tak acuh pada tempat ibadah terdekat dan paling sering digunakan. Jangankan piket membersihkan mushola, mungkin diantara kita pun pernah meninggalkan satu-dua sampah disana. Atau kadang membersihkan mushola sekali saja sudah membuat kita amat bangga karena jariyah orang-orang sholat disana akan kita dapatkan, yang padahal kebanggaan itu membuat kayu bakar kita habis menjadi abu.

Lihatlah begitu banyak orang-orang yang tak berstempel aktivis dakwah tapi dakwahnya lebih membumi. Tidakkah kita amat malu? Malu sebagai kader dakwah yang bahkan tidak ada pengaruhnya di lingkungan terkecil kita. Malu sebagai mukmin yang ternyata begitu sedikit amalnya, begitu buruk inisiatifnya, dan betapa banyak waktu luang yang habis untuk sebuah kesia-siaan semata. Lalu masih saja kita merasa layak untuk surga padahal kita hanyalah orang yang tengah mengalami kekalahan lomba, perlombaan berbuat kebaikan, berbuat kebaikan dalam diam.

Surabaya, 21 Oktober 2017

 

Advertisements

di Bawah Bulan yang Tak Utuh

image

“Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu. Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya”
Petikan gitar membuat hati turut bergetar,”berdebar-debar” kata temanku. Malam ini dibawah bulan yang tak utuh, langit cerah hitam kelam tanpa awan, satu dua bintang terlihat bersinar, bayang-bayang pohon besar yang rantingnya melambai disentuh angin. Cahaya lilin menerangi tanah yang kami injak, tanah yang sudah akrab dengan kaki ini.
Air mata mengalir entah mengapa, Continue reading “di Bawah Bulan yang Tak Utuh”

Untuk Sebuah Intan

ef48140c2a311d294371245065d0f6e1

Hai kawan apa kabar? Semoga engkau selalu berada dalam syukur atas nikmat-Nya. Kawan, mungkin tak setiap hari kita berjumpa tapi kita masih berada di tempat yang sama. Kawan, waktu kita bersama sudah tak lama lagi, dua tahun begitu cepat terlewati dan dua tahun lagi kita mungkin tak lagi berada di tempat yang sama. Kawan terima kasih karena kalian turut mengisi hariku, terima kasih karena suara kalian menambah senandung yang kudengar, terima kasih karena telinga kalian turut mendengar ceritaku, terima kasih karena tangan kalian menjadi uluran bantuanku, terima kasih hati kalian rela menjadi temanku. Kawan, aku merindukan saat ketika kita semua berkumpul, bukan karena bahasannya tapi rasa ketika memandang wajah kalian, ketika mendengar argumen kalian, ketika melihat ke hati kalian. Kawan, aku hanya berharap bahwa kita tetap seperti dulu, sebuah keluarga, tetap menyapa dan terus peduli. Sekali lagi terima kasih kawan, karena kalian sungguh baik padaku dan maaf bahwa aku tak mampu membalas kalian dengan layak. Kawan, kita bukan sekedar teman karena aku memilih kalian sebagai keluarga. Kawan, sungguh satu dari kita begitu berharga, orang-orang yang menyebut dirinya sebagai sebongkah berlian, yang kini butirannya sedang ditempa, tengah melalui perubahan suhu dan tekanan yang begitu hebatnya, karena kita hanya sedang menunggu waktu menjadi sebuah permata.

Surabaya, 21 Februari 2015.

Perjalanan Kebanggaan

Malam ini ternyata lebih malam dari yang kuduga, tapi terangnya tetap saja sama. Aku mendongak ke langit, tak ada bulan disana hanya awan tanpa bintang. Kami menggilas jalanan halus, hitamnya yang sempurna dihiasi garis garis putih yang sungguh kontras. Dari atas terlihat jajaran lampu lampu ditengah kegelapan. Udara dingin kian terasa,dan kehangatan keluarga ini tetap saja sama. Perjalanan yang panjang untuk suatu bukti akan kebanggaan, meski tak terbukti seluruhnya, tapi bangga itu ada, menempel di sudut ruang hati ratusan kepala yang tegap berdiri, berteriak dengan lantang. Jiwa jiwa ini selalu bangga,selalu mencintai miliknya,entah baik buruknya dunia mereka,karena jiwa jiwa ini masih kecil masih lemah masih terbata-bata dalam melangkah dan berbicara, dan suatu saat ketika jiwa ini telah dewasa maka mereka sendirilah yang akan membuat dunia mereka menjadi seperti apa yang mereka inginkan, menjadi seperti apa yang kita harapkan.

Selepas dari Malang,
Surabaya,23 November 2014

Dengan Suara Baru

Hari ini aku berjalan sedikit tergesa, mempercepat langkah ke lapangan belakang. Aku terlambat satu jam tapi forum baru saja dimulai. Matahari begitu panas,aku basuh peluh di dahiku, rasa keringat membasahi kain biru ini sembari duduk di batas cahaya matahari yang terlindungi bayangan pohon. Satu daunnya jatuh tepat didepanku, tanah ini tak penah bersih. Diam sejenak, sudah lama aku tak melihat wajah-wajah ini secara bersamaan, meski tak semua ada disini tapi rasa rindu untuk sekedar duduk disini benar kuat adanya.
Pemimpin kami sedang berbicara,menyampaikan agenda hari ini dan meminta kami menceritakan tentang kepemimpinannya. Beberapa tangan melambung ke udara, suara mereka sungguh mudah dikenali tanpa perlu menunjukkan hidungnya. Aku tetap saja diam,selalu setuju dengan perkataan mereka. Singkat cerita agenda satu dua tiga selesai. Agenda terakhir adalah meletakkan pilihan kami, berdiri dalam jejeran manusia terbaik dalam kelompok ini,satu panjangnya manusia ini kian jauh. Satu nama disebut,kaki kaki ini berhamburan sembari bertepuk tangan. Dan akhirnya setelah sekian lama teriakan ini kembali menggelegar di bumi perjuangan, tangan tangan teracung keatas, dengan suara baru yang khas. Selesai sudah forum ini,menyisakan semangat dan serpihan pemuda yang bersatu saling menguatkan. Dengan suara baru ini aku menanti sebuah cerita baru, yang indah untuk diceritakan pada tahun-tahun mendatang.
Sebuah kisah yang menggetarkan layaknya ketika teriakan ini digaungkan. Sebuah kisah yang membawa kami pada arti keluarga,bukan hanya di ujung lidah tapi mengakar kuat di dalam dada.

Surabaya, 28 Oktober 2014
CE ITS 2013
Komunal pergantian komting.

Untuk Generasi Harapan

image

“Barisan akan tampak INDAH bukan karena sama tetapi karena HARMONIS
“Biar saya belajar dari PENGALAMAN,sendiri menerima GERTAKAN DUNIA
“Suatu garis berkesempatan menjadi BATAS atau PENGHUBUNG dan keduanya berbeda”
Surabaya, 11 September 2014

Blog at WordPress.com.

Up ↑

AsalAsalArt

Asal gak asal-asalan

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

desember tiga

Hujan di kaca-kaca, hujan di kota-kota. Hujan bagai peluru, kadang bising kadang bisu.

Hanya Pelangi

bias warna Ilahi pada gerimis kehidupan

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Memorabilia

Kita tidak diberikan kekuasaan untuk mengabadikan segela sesuatu, tapi kita memiliki kemampuan untuk menata semua. Tidak apa meski tak selamanya.

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Tulisan, Pikiran, Simpanan.

Dari hati turun ke jari. Kadang lewat otak, lebih sering tidak.